
Sheira pun bisa tenang setelah melihat ekspresi bahagia dari Viola. Ia takut Viola akan marah atau semacamnya saat tahu dirinya berhubungan dengan putranya, terlebih statusnya kini adalah seorang janda. Tentu tak mudah diterima di beberapa keluarga yg mengedepankan nama baik dan sebagainya.
Bahkan sampai saat ini status janda seseorang, diartikan sebagai sesuatu yg buruk yg tak jarang dipermasalahkan di masyarakat. Mulai dari penggoda suami orang, dan lain sebagainya, terlebih Sheira masih sangat muda.
Tapi ternyata Viola berbeda, ia menerima Sheira dengan baik. Dan juga ia begitu bahagia mendengar putranya memiliki seorang kekasih. Kelembutan hati Viola pun mampu menghapus segala kegugupan Sheira.
"Mom senang kau mau hadir disini.. dan Theo dia itu di otaknya hanya kerja dan kerja." ucap Viola.
"Iya tante, eh maksudku mom." ucap Sheira yg disuruh memanggil Viola dengan panggilan mom sama seperti Theo.
"Mom, aku kan memang sibuk.. jadi maafkan aku." ucap Theo.
"Yasudah, Sheira mulai sekarang sering-sering kemari ya.. mom sering merasa kesepian disini." ucap Viola.
"Baiklah mom, aku akan sering kemari." ucap Sheira.
"Akhirnya Theo punya kekasih juga.. mom jadi begitu bahagia." ucap Viola.
"Memangnya sebelumnya apa Theo belum pernah memperkenalkan seorang gadis pada mom?" tanya Sheira.
"Pernah tapi mom tak suka, jadi dia jarang memperkenalkannya." ucap Viola.
"Sudahlah mom itu sudah berlalu." ucap Theo.
"Ya.. baiklah Theo." ucap Viola.
Mereka pun bercengkrama dengan santai dan Viola nampak begitu menerima kehadiran Sheira. Hal tersebut membuat Theo senang, artinya ia tak perlu susah lagi mencari pendamping hidupnya karena sudah menemukan yg tepat untuknya dan diterima oleh momnya.
Setelah makan malam, banyak hal yg dibicarakan oleh Sheira dan Viola. Hingga Theo merasa diabaikan. Viola pun ingin sekali punya anak perempuan, tapi ia berharap suatu saat nanti punya menantu yg baik hati. Dan nampaknya Sheira cocok dengannya.
Banyak hal yg mereka rencanakan, dan Viola mengundang Sheira untuk datang ke rumahnya. Ia ingin diajari beberasa masakan yg ia ingin kuasai. Dan Sheira dengan senang hati akan mengajarkannya. Viola pun senang bukan main, punya calon menantu yg pintar memasak dan juga cocok dengannya. Karena tidak semua menantu dan mertua bisa cocok, rata-rata selalu ada saja masalahnya atau kurangnya.
Tapi keduanya mampu mengerti satu sama lain, hingga bisa akrab dengan cepat. Theo pun hanya bersantai saja karena tak mengerti arah pembicaraan kedua wanita tersebut. Hingga malam yg mulai larut, Theo pun harus membawa Sheira pulang ke apartemen.
"Hati-hati dijalan ya sayang.." ucap Viola.
__ADS_1
"Iya mom.. " ucap Theo dan Sheira melambaikan tangan dari dalam mobil.
Nampak makan malam kali ini pun berjalan dengan lancar karena tak ada hambatan sama sekali. Sangat berbeda dengan waktu Sheira bertemu pertama kali dengan Siti. Dimana Siti memintanya memasak ini dan itu, dan juga memintanya untuk tidak boros sebagai perempuan.
Kini Sheira bisa tersenyum karena tak harus mendengarkan ocehan tak berguna dari Siti lagi. Dan jika hubungannya dengan Theo lancar, Viola pun begitu menerimanya dengan tangan terbuka.
"Bagaimana? momku tidak galak bukan?" tanya Theo tersenyum.
"Iya, aku tahu itu tapi aku hanya gugup saja.. karena tak semua orang memahami statusku." ucap Sheira.
"Kau tenang saja, aku dan momku menerimamu bagaimanapun keadaanmu." ucap Theo sembari menggenggam tangan Sheira.
"Terimakasih." balas Sheira tersenyum.
☘☘☘
Keesokannya, Jasmine pun pergi mengikuti wawancara di sebuah rumah sakit swasta. Dan Sheira berharap agar temannya tersebut bisa mendapatkan pekerjaan yg layak.
Dan Sheira bekerja seperti biasanya di kantornya. Tak ada masalah yg berarti karena Sheira sudah mempelajari catatan milik ayahnya yg ternyata sangat berguna setelah sekian tahun.
Dan kini ia tengah meeting bersama Theo dan divisinya. Nampak Pinkan banyak berbicara guna menarik perhatian Theo. Tapi itu hanya berlaku saat meeting, saat meeting selesai Theo kembali dingin padanya.
"Bagaimana pak apa berkasnya aku taruh di meja anda saja nanti?" tanya Pinkan.
"Serahkan saja pada sekertarisku." ucap Theo.
"Baiklah." ucap Pinkan mengepal geram.
Gagal lagi niatnya menggoda Theo. Tapi ia takkan menyerah karena ia masih bekerja disana dan masih ada banyak kesempatan.
Dan mau tak mau Pinkan menemui Doni yg ia tahu sebagai seorang yg menyeramkan, terlebih jika seseorang bersalah maka pria satu itu takkan segan-segan untuk menghukumnya.
"Ini laporannya pak." ucap Pinkan.
"Taruh dimeja, nanti aku periksa." ucap Doni dengan tatapan tajam menelisik kelicikan Pinkan pada tuannya.
__ADS_1
Theo pun memilih untuk makan siang bersama Sheira untuk menghindari Pinkan. Ia tak mau berpapasan dengan wanita licik tersebut karena ia akan menggunakan banyak akal untuk mendapatkan sesuatu.
Sheira pun menyetujuinya karena memang jam makan siang adalah waktu mereka bertemu di tengah semua kesibukan aktivitas mereka. Dan siapa yg menduga juga kalau Viola sedang makan siang di resto yg sama dengan mereka.
Akhirnya mereka memutuskan untuk makan siang bersama Viola sembari mendekatkan Sheira pada Viola.
"Wah kebetulan sekali kalian juga sedang makan siang.. mom jadi tak sendiri." ucap Viola.
"Iya mom, kami memang sering makan siang bersama." ucap Sheira.
"Ya.. karena kalau sudah bekerja mom tahu sendiri kan aku seperti apa.." ucap Theo tersenyum.
"Jadi apa kalian serius dengan hubungan kalian?" tanya Viola to the point.
"Tentu saja mom.." balas Theo.
"Iya sepertinya begitu mom. " balas Sheira.
"Kalau begitu kalian harus segera menikah minimal bertunangan dulu agar tak terlalu lama." ucap Viola.
"Sepertinya mom yg sudah tak sabar bukan aku." ucap Theo.
"Hush.. mom itu menyayangimu.. mom menyuruhmu menikah agar kehidupanmu tidak melulu tentang pekerjaan." ucap Viola.
"Baiklah mom aku mengerti.. tapi aku juga butuh kesiapan dan Sheira juga begitu. Kami akan mendiskusikannya." ucap Theo.
"Iya benar mom, aku harus mempersiapkan banyak hal.. apalagi aku sulit memiliki keturunan." ucap Sheira.
"Hush.. jangan bilang begitu, takdir Tuhan siapa yg tahu, ada anak ataupun tidak yg terpenting adalah kebahagiaan dalam rumah tangga." ucap Viola.
"Mom benar, Sheira santai saja." ucap Theo.
"Baiklah." ucap Sheira.
"Dengar Sheira dan Theo, ada anak ataupun tidak bukan patokan sebuah rumah tangga. Tapi kebahagiaan dan kedamaian adalah segalanya. Bayangkan ada banyak orang di dunia ini yg punya banyak anak tapi tak mampu menafkahinya dengan layak hingga muncul percekcokan dalam rumah tangga. Jadi anak bukanlah sebuah patokan, mom harap kalian mengerti dan bukan berarti pula kalian tak berusaha untuk memiliki keturunan, kalian harus berusaha jika menginginkannya.." ucap Viola dan dijawab dengan anggukan kepala oleh keduanya.
__ADS_1