
Sheira pun hanya meninggalkan suaminya yg masih menatap layar televisi dengan rasa malu. Bagaimana tidak?? ia sudah menuduh istrinya yg bukan-bukan tapi justru sebenarnya korbannya adalah istrinya sendiri.
"Maaf sayang, Mas malah memojokkanmu bukan membelamu.." ucap Aryo.
"Hal yg selalu kau lakukan saat aku terpojok antara menghilang atau ikut memojokkan.." ucap Sheira sembari menyiapkan sarapan.
"Maaf sayang, apakah kau masih marah?" tanya Aryo.
Takk..Takk.. bunyi piring yg diletakkan di meja dengan kasar.
"Bukan marah tapi kecewa.. Mas lebih percaya berita dari orang lain daripada ucapan istri sendiri.." ucap Sheira.
"Mas janji ini takkan terulang lagi.." ucap Aryo.
"Nikmati saja sarapan pagi ini Mas, jangan membuatku lelah.." ucap Sheira.
Mereka pun sarapan dengan tenang. Sikap dan perubahan sifat Sheira pun berubah drastis. Kini ia menjadi sosok yg tak tersentuh dan sangat dingin. Ia tak segan-segan membela diri jika dipojokkan atau disakiti. Bukan dengan cara kasar tapi dengan cara halus dan mematikan.
Aryo pun dibuat tak berkutik oleh Sheira. Terlebih hubungan mereka baru saja membaik tapi justru muncul masalah ini dan membuat hubungannya kembali renggang.
Sheira dan Aryo pun pergi bekerja ke tempat masing-masing. Keduanya saling diam, jika yg satu merasa bersalah, tapi yg satunya lagi berpikir bagaimana caranya menangkap orang yg menyuruh Julio. Dan pagi ini juga Sheira pergi ke kantor polisi guna menyelidiki hal ini.
Setelah memberikan keterangan, Sheira menemui Julio.
"Hai Julio, bagaimana kabarmu?" tanya Sheira.
"Ck.. berhenti berpura-pura basa-basi, kau puas kan melihatku?" tanya Julio.
"Tentu saja, karena berkat drama konyolmu itu aku hampir berpisah dengan suamiku, juga toko rotiku mungkin hancur jika aku tak bertindak.." ucap Sheira.
"Dasar ja**ang sialan.. apa yg kau perbuat hingga dibenci begini?" ucap Julio.
"Sayangnya aku tak berbuat jahat, jadi bisa kau katakan siapa yg membenciku?" tanya Sheira melihat Julio terpancing.
"Tidak ada.." ucap Julio.
"Kau yakin?? yakin mau terus berada disini?" tanya Sheira.
"Bukan urusanmu, jadi pergilah.." ucap Julio mengusir Sheira.
"Oke.." balas Sheira lalu pergi.
Jika Julio tak berbicara maka Sheira akan melihat siapa orang yg membantu Julio untuk keluar dari penjara. Dan tugas detektif tersebut adalah untuk mengawasinya.
"Serahkan saja padaku nona.."
"Oke.. lanjutkan pekerjaanmu karena aku juga masih ada pekerjaan.." ucap Sheira.
Sheira pun menuju ke bakery-nya untuk bekerja. Ia melihat perkembangan yg cukup besar dari bakery tersebut. Dan Sheira juga mulai melakukan olahraga agar semua stres yg ia harus hadapi bisa berkurang.
☘☘☘
Sementara Siti masih tak menyerah untuk membuat Aryo menikahi Pinkan. Ia berharap Pinkan adalah menantu idamannya yg ia tunggu-tunggu untuk melahirkan seorang keturunan.
"Jadi bagaimana bu?" tanya Pinkan.
"Apa kau yakin ini akan berhasil?" balas Siti.
"Tentu, Mas Aryo kan sangat menyayangi ibu.." ucap Pinkan.
"Mari kita coba.. semoga Aryo mau mendengarkan ibu.." ucap Siti.
Siti pun berpura-pura sakit agar Aryo memperhatikannya. Dan kabar itupun sudah sampai di ponsel Aryo dan Sheira. Keduanya langsung menuju ke rumah Siti. Sheira pun membawa kue-kue buatannya untuk menjenguk ibu mertuanya.
__ADS_1
"Ibu kami datang.." ucap Aryo.
"Nak akhirnya kau datang juga.." ucap Siti.
"Aku juga datang bu.." ucap Sheira tapi Siti tak menganggapnya. Sheira pun hanya meletakkan kue-kue tersebut dimeja agar pelayan membereskannya.
"Aryo apa kau ingin melihat ibu terus-terusan sakit begini tanpa bisa melihat cucu..?" tanya Siti.
"Bu, aku dan Sheira sedang berusaha.." ucap Aryo.
"Memangnya Sheira bisa memberimu keturunan?? dia itu mandul.. lebih baik kau menikahi Pinkan.." ucap Siti.
"Bu, berhenti meminta hal yg tidak mungkin.." ucap Aryo.
"Tak bisakah kau memenuhi keinginan ibu, bagaimana jika ini keinginan terakhir ibu..?" tanya Siti mulai berdrama.
"Bu, aku tidak bisa menyakiti Sheira.. jangan paksa aku membuat pilihan untuk meninggalkan ibu.." ucap Aryo.
"Jadi kau akan meninggalkan ibumu yg sakit-sakitan ini?? " ucap Siti mulai menangis.
"Kau itu jahat sekali, ibumu sakit malah berkata kasar.." ucap Siti menangis buaya.
"Bu berhenti pura-pura menangis, ini memang akal-akalan ibu kan agar aku menikahi Pinkan?" tanya Aryo.
"Tidak, ini adalah fakta.. ibu menderita karena melihatmu tak punya keturunan.." ucap Siti.
"Ada apa ini?" tanya ayah Aryo bernama Sigit.
"Mas, anakmu ini lebih memilih istrinya daripada aku.." ucap Siti.
"Aryo..! apa yg kau katakan sampai ibumu menangis?" tanya Sigit kesal.
"Ayah, ibu memaksaku menikah lagi?? apakah salah jika aku menolak??" tanya Aryo.
"Maaf menyela, tapi apakah aku sebegitu menyedihkannya sampai kalian menyuruh suamiku menikah lagi?? Dan apa ayah akan menikah lagi dengan wanita lain jika ibu tak memiliki keturunan?" tanya Sheira yg masuk.
"Tentu saja.. " ucap Sigit mendapat tatapan tajam dari istrinya.
"Bu, lihat bagaimana rasanya mendapat jawaban itu dari suami ibu.." ucap Sheira.
"Sheira ayo kita pulang, kau sudah keterlaluan.." ucap Aryo.
"Aku bisa pulang sendiri, dan Mas urus saja keluarga Mas, karena bagaimanapun aku akan selalu salah dimata Mas.." ucap Sheira pergi dengan menaiki taksi.
"Sheira.. tunggu..!" teriak Aryo mengejar tapi Sheira sudah pergi dengan taksi.
"Aryo kita belum selesai.." ucap Sigit.
"Ayah, kumohon jangan paksa aku menyakiti Sheira.." ucap Aryo.
"Kau mau menyakiti ibumu?? lagipula wanita itu tak memberimu keturunan dan bahkan menyakiti ibumu.. apa yg kau pertahankan dari wanita itu?" tanya Sigit.
"Tapi bukankah kalian yg selalu merendahkannya?" tanya Aryo.
"Karena dia memang tidak sebanding dengan kita, lihat dia anak yatim piatu.." ucap Sigit.
"Aryo.." panggil Siti.
"Iya bu.." ucap Aryo sementara Siti berakting sakit dan lemah.
"Menikahlah dengan Pinkan, ini permintaan ibu yg terakhir.." ucap Siti.
"Tapi bu, bagaimana dengan Sheira?" tanya Aryo.
__ADS_1
"Dia pasti mengerti, kau tidak perlu meninggalkannya. Kau bisa berlaku adil.." ucap Siti pura-pura bijak.
"Bu, kenapa ibu tega sekali.." ucap Aryo menangis.
"Karena ibu merasa Pinkan yg terbaik untukmu.." ucap Siti.
"Benar, Aryo menikahlah dengan Pinkan, kau tega melihat ibumu sakit-sakitan..?" tanya Sigit.
"Aku akan memikirkannya.." ucap Aryo.
"Pikirkanlah, ibu hanya ingin melihatmu bahagia memiliki keturunan.." ucap Siti.
"Dengarkan ibumu baik-baik, jangan melawan.. " ucap Sigit.
"Aku butuh waktu.. " ucap Aryo lalu pergi meninggalkan kamar ibunya.
Aryo pun benar-benar kacau, istri mana yg akan terima jika dipoligami padahal istrinya tidak mau. Dan bagaimanapun ibunya adalah segalanya bagi Aryo, serta sebagai anak tunggal ia harus membahagiakan orangtuanya.
"Apa yg harus kulakukann..??" gumam Aryo dalam hati.
Aryo pun tak pulang ke rumah dan pergi ke bar. Ia meminum alkohol untuk menghilangkan stres yg ada di pikirannya. Memilih antara istri atau ibu adalah yg sulit, karena mereka bukan sebuah pilihan tapi hal yg harus selalu dinomor satukan.
Disana, ada Theo yg juga sedang minum bersama rekannya. Ia melihat Aryo tengah duduk sendiri menikmati minumannya. Lalu tak berapa lama Pinkan pun datang, karena ia memang mengikuti mobil Aryo.
"Pinkan??" gumam Theo.
Sementara Pinkan pun mendekati Aryo. Aryo yg mabuk, menganggap Pinkan adalah Sheira.
"Mas.. aku datang.." ucap Pinkan.
"Sayang.. kenapa kau kemari? ini bukan tempat yg baik untukmu.." ucap Aryo.
"Sayang?? apa dia menganggapku ja**ang itu?? tapi bagus akan kumanfaatkan.." gumam Pinkan dalam hati.
"Aku tak bisa membiarkan Mas sendirian dan kesepian.." ucap Pinkan.
"Tapi aku harus menikahi Pinkan, kau pasti tidak akan setuju.." ucap Aryo.
"Aku setuju Mas, demi ibu.." ucap Pinkan berpura-pura sebagai Sheira.
"Sayang?? kau yakin ?" tanya Aryo.
"Tentu, aku kasihan melihat ibu dan kau yg terus bertengkar.." ucap Pinkan.
"Kau memang istri yg pengertian.. tapi kenapa warna rambutmu berubah?" tanya Aryo.
"Mas itu mabuk jadi tak bisa membedakan.. lebih baik kita pergi ke hotel.. " ucap Pinkan.
"Hotel?? kenapa bukan rumah?" tanya Aryo.
"Sesekali kita harus refreshing.. jadi tak masalah kan.." ucap Pinkan memeluk Aryo.
"Aku merindukanmu.. " ucap Pinkan.
"Baiklah.." ucap Aryo.
Aryo dan Pinkan pun pergi ke hotel dan Theo mengetahui hal itu. Ia pun geram melihat sosok suami seperti Aryo. Tapi ia juga tak bisa ikut campur. Theo pun tanpa sengaja menginap di hotel yg sama dengan Aryo dan Pinkan. Nampak mereka begitu berani berciuman di depan pintu kamar yg sepi.
"Akh.. ******..!" umpat Theo yg begitu membenci perselingkuhan.
Dan mata-mata Sheira yg mengikuti Pinkan dari penjara pun tahu Pinkan pergi ke hotel bersama Aryo. Mendengar hal tersebut hati Sheira pun semakin hancur. Begitu bren**knya suaminya hingga kembali berselingkuh. Dan yg lebih parahnya ia berselingkuh dengan orang yg akan dijodohkan dengannya.
"Dasar suami bre***ek..!" umpat Sheira.
__ADS_1