
Sean pun menemani hari-hari Grace yg membosankan di toko roti Sheira. Bagaimana tidak, jika Grace sibuk mengurus ini dan itu maka Sean hanya seperti satpam yg mengawasi sekitar.
"Kau bosan?" tanya Grace.
"Tidak nona." ucap Sean.
"Baiklah, ayo ikut aku." ucap Grace pada jam istirahat.
Grace pun pergi ke sebuah resto cepat saji dan memesan beberapa menu. Dan mereka pun makan siang disana, Grace pun sengaja memilih untuk makan siang disana guna mengganti suasana.
"Nona, makanan ini kurang sehat." ucap Sean.
"Sstt.. kau tak mau?" tanya Grace.
"Baiklah, aku akan memakannya. Tapi aku sarankan agar anda memakan makanan yg sehat." ucap Sean.
"Sstt.. Aku mengerti, aku hanya ingin melakukan hal baru." ucap Grace memakan roti lapis disana.
Setelah makan, Grace pergi ke sebuah arena bermain tak jauh dari sana. Dan ia suka sekali bermain boneka capit. Sean pun melihatnya bingung karena nonanya yg ia kawal masih kekanakan.
"Aku tahu kau berpikir aku masih kekanakan" ucap Grace.
"Maaf nona." ucap Sean.
"Sudahlah, aku hanya ingin menghibur diri.. kau duduk saja disana." ucap Grace.
"Baiklah." ucap Sean.
Akhirnya, Grace pun bermain cukup lama disana dan hampir menghabiskan semua boneka di mesin capit tersebut. Hingga beberapa staf pun panik atas ulah Grace.
"Nona, cukup berhentilah mereka mulai menatap kita." ucap Sean.
"Padahal hanya boneka, tapi mereka serius sekali." ucap Grace.
"Nona anda hampir menghabiskan semua yg ada di sini." tunjuk Sean.
"Oke.. Sean, kau ternyata cukup bawel.. Bawakan semuanya ya." ucap Grace memberi perintahnya.
Sean pun membawa setumpuk boneka yg Grace dapatkan dari mesin capit. Ia bingung mau diapakan semua boneka tersebut, karena tak mungkin Grace masih bermain boneka.
"Nona, semua ini mau diapakan?" tanya Sean.
"Aku ingin memberikannya pada anak-anak di sekitar sini." ucap Grace.
Dan Grace pun membagikannya pada anak-anak sekitar, terutama anak yg selalu gagal mendapatkan boneka dari mesin tersebut. Grace pun tersenyum melihat kebahagiaan anak-anak yg senang mendapatakan boneka.
"Apakah masih ada lagi?" tanya Grace.
"Hanya sisa satu nona." ucap Sean.
"Wah boneka kucing, untukmu saja sebagai kenang-kenangan." ucap Grace.
"A.. baiklah nona." ucap Sean terkejut.
"Kenapa? kau tak suka?" tanya Grace.
__ADS_1
"Bukan begitu, aku hanya.." ucap Sean bingung mengatakannya.
"Kau hanya tak tahu mau diapakan kan boneka ini?" tanya Grace.
"Anda benar." ucap Sean.
"Kau tak usah ragu untuk berbicara, aku bukan nona yg akan selalu kau kawal. Setelah ini mungkin kita belum tentu bisa bertemu lagi, anggap saja ini hadiah dariku karena sudah menemaniku seminggu ini." ucap Grace.
"Baiklah nona." ucap Sean.
"Ternyata dikawal tak buruk juga, aku jadi ada teman bicara." ucap Grace.
"Kalau anda butuh pengawal katakan saja." ucap Sean.
"Tidak Sean, aku sampai belajar ilmu bela diri agar tak dikawal oleh bodyguard ayahku." ucap Grace.
"Dan saat ini aku memang sedang mengalami masa yg sulit, jadi terimakasih sudah menemaniku dan membantuku." ucap Grace tersenyum.
"Sama-sama nona, aku juga merasa bersalah karena anda jadi korban salah tangkap anak buahku." ucap Sean.
"Lain kali kalian harus berhati-hati." ucap Grace.
"Tapi aku bingung, kenapa nona begitu cepat melupakan ini semua tanpa marah dan emosi.?" tanya Sean.
"Aku malas mencari masalah Sean, bahkan setelah tahu tunanganku berselingkuh dengan wanita lain, aku menunggunya mengatakan hal sejujurnya padaku." ucap Grace.
"Nona, anda harus tegas dan tak ada salahnya menyelesaikan semua dengan cepat." ucap Sean.
"Terimakasih sarannya akan kupikirkan." ucap Grace.
"Ini tak mudah untukku Sean, kupikir jika pria sampai melamar kekasihnya mereka akan setia ternyata tidak." ucap Grace.
"Kenapa kalian tak kembali padahal saling mencintai?" tanya Sean.
"Aku tak percaya lagi padanya, dan lagi dia menghamili selingkuhannya." ucap Grace.
"Tindakan anda benar nona, tak ada gunanya berbaikan dengan orang yg tak setia." ucap Sean.
"Baiklah, sudah cukup.. aku harus kembali bekerja." ucap Grace menghapus air matanya.
"Anda yakin mau kembali?" tanya Sean.
"Ya.. aku harus cuci muka dulu.. kau tunggu di mobil saja." ucap Grace.
Setelah itu, Grace pun kembali bekerja. Baginya ia sudah menyibukkan diri agar tak sedih, tapi ia masih belum bisa menghapus kesedihannya. Sean pun iba melihatnya menangis di taman sambil bercerita. Ternyata dibalik sikap cueknya ternyata Grace mempunyai luka yg cukup dalam.
Dan di malam hari saat bakery tutup, semua pun sidah merapikan segalanya. Semua karyawan juga tengah bersiap untuk pulang. Tapi tiba-tiba ada asap tebal di sekitar mereka diikuti bau gosong dan bensin.
"Nona ada api disini." ucap karyawannya.
"Disini juga.." ucap salah seorang karyawan pria yg mengeceknya.
"Dan di pintu masuk apinya membesar."
"Siapa yg begitu jahat melakukan ini? apa pesaing kita?" tanya Grace.
__ADS_1
"Sepertinya tidak begitu nona." ucap mereka.
"Dimana tabung pemadam?" tanya Sean.
"Ada dibelakang.." ucap mereka.
"Pakai masker kalian sekarang..!" ucap Grace yg juga menuju ke area dapur.
"Sean, kau matikan api di sekitarnya, aku akan mematikan aliran listrik." ucap Grace.
"Nona.. jangan.." ucap Sean tapi Grace terus menuju ke pusat aliran listrik.
Grace pun berhasil mematikannya dan api tak akan langsung membesar. Beberapa anak buah Grace pun sudah menghubungi pemadam kebakaran. Dan Sean mematikan api di sekitar mereka agar karyawan lain bisa keluar karena oksigen di dalam mulai menipis.
"Cepat kalian keluar.!" perintah Sean.
Setelah semua keluar, sean mencari Grace dan tak menemukannya. Semua karyawan bilang nona Gracr belum keluar sejak tadi. Sean pun panik dan masuk ke dalam bakery yg sudah mulai terbakar sampai ke dalam.
"Nona.. anda dimana?" tanya Sean.
"Aku ada disini.. mengamankan beberapa berkas." ucap Grace.
"Uhukk..uhukk.." Grace pun batuk-batuk karena asapnya.
Hingga Sean menariknya keluar dengan cepat tanpa memperdulikan berkas yg dicari Grace.
"Terimakasih Sean. Berkas ini selamat." ucap Grace lalu pingsan karena banyak menghirup asap.
"Nona.. sadarlah.." ucap Sean.
Mobil pemadam pun tiba di kejadian dan mematikan api. Sementara Grace ia pun ditangani oleh bantuan yg tiba. Sheira selaku pemilik toko pun terkejut mendengar salah satu bakerynya terbakar. Belum lagi kabarnya putrinya sedang berada disana.
Theo pun ikut cemas karena Grace ada disana, lalu ia menghubungi Sean dan kabarnya Grace selamat. Grace hanya pingsan karena banyak menghirup asap.
Grace pun dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Sean. Nicho dan Nathan yg mendengarnya pun ikut khawatir dan langsung menuju ke rumah sakit.
Grace pun tersadar dan menatap Sean yg masih berada di sisinya.
"Terimakasih Sean.. " ucap Grace.
"Nona harusnya langsung keluar." ucap Sean.
"Tak apa, yg penting berkasnya selamat." ucap Grace.
"Sean apa kau tahu, akhir-akhir ini aku sangat sial.. bahkan sekarang bekery ibuku terbakar karena kesialanku." ucap Grace.
"Nona, tak ada yg namanya sial..! yg ada hanya orang-orang jahat yg ada di sekitar anda." ucap Sean kesal.
"Jadi begitu ya.. kau itu bersisik sekali." ucap Grace yg salah mengucapkan kata berisik menjadi bersisik.
"Berisik nona, bukan bersisik memangnya aku ular.?" tanya Sean.
"Haha.. kau ini tak tahu aku sedang menghibur diri." ucap Grace tertawa sambil menangis.
"Ada apa dengan nona Grace?? bagaimana dia bisa tertawa sambil menangis." gumam Sean dalam hati.
__ADS_1