Affair With Me??

Affair With Me??
EP.30 Dr.Tio


__ADS_3

Sebelum ke US, Sheira menyempatkan diri untuk mengunjungi dr.Tio guna memeriksakan kondisinya sebelum berangkat. Dengan senang hati, Tio pun melakukan pemeriksaan dan terapi.


Tio memandang Sheira dengan intens, nampak Sheira sudah ada perubahan dari awal mereka bertemu. Wajahnya sudah tidak sepucat dulu dan sedikit bersinar. Sudah terlihat juga kalau Sheira berani mengunjungi kliniknya sendiri. Kini Sheira terlihat begitu cantik di matanya dengan beberapa perubahan kecil yg terjadi.


"Kelihatannya kondisi nona sudah membaik.." ucap Tio.


"Terimakasih dok.." ucap Sheira.


"Apa rasa trauma anda masih ada?" tanya Tio.


"Ya.. masih dok.." ucap Sheira.


"Baiklah, tapi melihat kondisi anda nampaknya saya harus mengurangi obat-obatannya.. dan juga dosisnya.." ucap Tio.


"Baik dok.." ucap Sheira.


"Kuharap anda tidak stres dan memikirkan hal-hal rumit. " ucap Tio.


"Baik dok.." ucap Sheira.


"Ingat kesehatan fisik anda juga perlu diperhatikan.. saya senang melihat perubahan nona sangat pesat.." ucap Tio.


"Syukurlah dok, saya senang mendengarnya .." ucap Sheira.


Dan Sheira pun pamit undur diri setelah melakukan konseling dan pemeriksaan. Ia cukup senang dengan hasil pemeriksaan dokternya. Ini adalah pengaruh karena ia sudah bebas dari Aryo dan Siti. Tak ada lagi belenggu yg menekannya. Walaupun rasa trauma itu ada tapi hidup Sheira sudah lebih baik.


Sheira pun pulang menuju ke apartemennya. Ia kini hanya tinggal menyiapkan diri untuk pergi ke US. Dan perjalanannya kali ini pasti akan terjadi agak lama. Sheira juga sudah mempersiapkan bekery-nya yg akan ia tinggal cukup lama dan mempercayakan semuanya pada orang kepercayaannya.


Dan Theo, ia juga sudah mendapatkan apa yg menjadi keinginannya lewat Dony yg mengupayakan semuanya.


"Semuanya sudah beres tuan.." ucap Dony.


"Good Job Don, aku juga sudah menyiapkan berkas meeting.. kau gantikan aku dan lakukan dengan baik.." ucap Theo.


"Baik tuan.." ucap Dony.


Theo pun tersenyum karena ia akan menghabiskan banyak waktu dengan Sheira dan menjaganya sesuai janjinya pada Daniel. Daniel pun sudah tahu kalau Theo yg akan menemani Sheira ke US menemuinya. Daniel pun senang karena ia tak perlu khawatir dengan keadaan Sheira.


Hari penerbangan pun tiba. Sheira pun menuju ke bandara setelah memeriksa semua bakery miliknya. Ia datang sendiri dengan menaiki taksi. Sementara Theo ia diantar oleh Dony menuju ke bandara. Mereka berdua bertemu di bandara dan Theo menjelaskan semuanya.


"Maaf aku tak memberitahumu, aku takut kau menolak." ucap Theo.

__ADS_1


"Baiklah, karena sudah begini aku juga tak bisa menolak atau mengusirmu.." balas Sheira tersenyum.


"Terimakasih Sheira, aku juga harus memenuhi janjiku pada Daniel.." ucap Theo.


Dan mereka pun terbang menuju ke US, dan Sheira begitu terkejut melihat Theo duduk disamping kursinya.


"Kebetulan sekali.." ucap Theo pura-pura terkejut.


"Iya.." balas Sheira.


Sepanjang perjalanan mereka pun mengobrol santai dan mendapatkan pelayanan khusus karena Theo sudah mempersiapkannya. Hingga Sheira merasa aneh karena pelayanannya cukup bagus untuk tiket yg ia beli.


Selama berjam-jam dipesawat, Sheira memilih untuk tidur begitu juga dengan Theo. Mereka tanpa sadar sudah hampir mendarat di bandara US..


"Cepat sekali sudah hampir sampai.." ucap Sheira.


"Iya, untunglah kita istirahat jadi tak begitu terasa.." ucap Theo.


Dan tak berapa lama pesawat mereka pun mendarat dengan selamat. Semua penumpang turun, dan Sheira langsung menghubungi Daniel. Mereka berdua menunggu sejenak di bandara hingga Daniel tiba.


"Sheira.." ucap Daniel.


"Kak Niel.." ucap Sheira.


"Terimakasih bro.." ucap Daniel.


"Ya sama-sama.." balas Theo.


"Baiklah ayo kita pulang ke rumahku.." ucap Daniel membawakan tas Sheira menuju ke mobil.


Daniel pun membawa Sheira pulang ke rumahnya dan menyuruhnya istirahat dahulu. Begitu juga dengan Theo yg ia paksa untuk menginap dirumahnya.


"Ck, kau itu jangan sombong.. menginaplah di rumahku.." pinta Daniel.


"Baiklah.. aku hanya tak ingin merepotkan.." ucap Theo.


"Ck.. alasan saja.. sudah istirahat saja di kamarmu kalian pasti lelah.." ucap Daniel.


"Ara istirahat di kamar yg sudah dipersiapkan dan nanti akan ada pelayan yg akan mengantarkan makanan.." ucap Daniel.


"Terimakasih kak.." ucap Sheira.

__ADS_1


Sheira pun masuk ke dalam kamarnya, dan Daniel masuk ke kamar Theo. Mereka pun berbincang sejenak, kemudian Daniel keluar dari kamar Theo.


Daniel pun pergi ke ruang kerjanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya. Kemudian ia pergi ke rumah sakit untuk menjenguk ayahnya. Daniel mengabarkan kalau Sheira sudah tiba dan ia sedang beristirahat di rumahnya.


"Benarkah?? Ara sudah tiba?" tanya Anderson.


"Iya Dad.. dia datang ditemani Theo dan sekarang mereka sedang beristirahat.." ucap Daniel.


"Bagus nak, sekarang kau buka brankas Dad dan cari surat dari paman Chandra ayah dari Ara.. " ucap Anderson.


"Surat? surat apa Dad?" tanya Daniel.


"Surat mengenai wasiat terakhirnya pada Ara.. dan disana tertera pengacara Chandra." ucap Anderson..


"Baiklah dad.." ucap Daniel.


Dan Anderson pun memberikan kata sandi dari brankas tersebut. Ia meminta Daniel untuk membukanya dan membawakannya saat ia datang bersama Sheira.


☘☘☘


Sementara Dr.Tio, ia sedang berada di rumahnya. Ia mendapat surat dari tuan Anderson yg dikirim dari beberapa bulan lalu dan baru sekarang ia membukanya. Maklum, ia sangat jarang berada dirumahnya mengingat banyak kenangan pahit disana.


"Mr.Anderson?? Siapa dia.?" gumam Tio.


Tio pun membuka dan membaca surat tersebut, lalu keningnya berkerut karena ini berhubungan dengan ayahnya yg sudah meninggal beberapa tahun yg lalu.


"Siapa lagi Anderson? aku sudah muak dengan mereka semua, mereka sudah mengambil keluargaku hanya demi harta.." ucap Tio kesal.


Tapi rasa penasarannya membuatnya membuka brankas milik ayahnya yg sudah lama sekali tak ia buka. Dengan perlahan ia membukanya dan nampak ada beberapa barang disana termasuk surat wasiat yg disebutkan di surat Mr.Anderson.


Tio pun penasaran tapi ia dilarang untuk membuka surat wasiat tersebut, bahkan walaupun usia surat itu sudah bertahun-tahun tapi masih tetap terjaga tanpa terbuka sedikitpun.


Tio pun membawa semua surat tersebut ke apartemen tempat tinggalnya sekarang. Dan ia mengamankan surat wasiat tersebut beserta surat yg ditinggalkan ayahnya untuknya. Ia menyimpan surat wasiat tersebut di brankas miliknya dan membaca surat milik ayahnya yg ditujukan untuknya.


Tio pun menitihkan air mata membaca pesan-pesan ayahnya. Ia begitu sedih mengingat ayahnya meninggal dengan cara tak biasa dan membuatnya curiga kalau ini adalah pembunuhan tapi pihak-pihak tertentu menutupnya kasusnya begitu saja.


Disana tertulis, ayahnya meminta Tio untuk menyampaikan surat wasiat milik tuan Chandra. Dan surat tersebut harus diberikan pada putri tunggal tuan Chandra bernama Sheira Aulia permata. Nama yg tak asing baginya, tapi ia tak mau langsung meyakinkan dirinya kalau itu adalah salah seorang pasiennya.


Ya, ayah dari Tio adalah seorang pengacara yg menangani setiap masalah hukum keluarga Sheira. Dan ia juga sudah menangani banyak kasus mengenai ketidakadilan. Begitu baiknya sang ayah hingga, tuan Chandra mempekerjakannya dalam menangani banyak kasus yg terjadi di perusahaannya. Sampai tuan Chandra mempercayakannya untuk memegang surat wasiat untuk putri tunggalnya saat kondisi perusahaanya dalam masalah.


Dan Ayah Tio bernama Jeremi, ia begitu bertanggungjawab dan mempertahankan surat wasiat juga keadilan untuk mendiang Chandra begitu Chandra dinyatakan meninggal dalam sebuah kecelakaan yg mencurigakan. Dan Naasnya ia juga menjadi korban atas orang-orang yg ingin merebut posisi Chandra dengan membuat surat wasiat palsu dengan menyingkirkan Jeremi. Jeremi beserta istrinya pun dihabisi pada suatu malam, tepat saat Tio sedang berada di rumah neneknya.

__ADS_1


Ia yg masih berusia 10 tahun pun shock setelah pulang kerumah mendapati ayah dan ibunya sudah dalam kondisi tak bernyawa. Hingga saat ini pun Tio masih tidak bisa mempercayai siapapun yg berhubungan dengan ayahnya. Tapi karena ayahnya sudah berpesan agar menyampaikan surat wasiat tersebut, Tio pun memberanikan dirinya dengan segala resiko yg mungkin ia hadapi.


"Ayah ini yg terakhir.. aku tak mau terlibat dengan orang-orang menyeramkan seperti mereka.." gumam Tio dalam hati.


__ADS_2