Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.

Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.
100


__ADS_3

Karena Alin sudah tidak tahan lagi dengan tingkah bu Ratna dan saras akhirnya Alin menyuruh petugas membawah bu Ratna dan Saras pergi. Karena Alin sudah muak dengan kecongkakan mereka berdua.


"Petugas tolong bawah kedua orang ini kembali ke tahanan, saya tidak mau melihat mereka berdua lagi disini" akhirnya petugas wanita itu datang dan membawah Saras dan bu Ratna pergi walaupun bu Ratna mengeluarkan kata-kata hinaan dan makian dari mulutnya tapi Alin tidak peduli.


Begitu juga Saras ia masih berteriak meminta tolong tapi semuanya sia-sia karena Alin sama sekali tidak mengubris teriakan mereka, setelah bu Ratna dan Saras pergi. Alin dan Devan gegas keluar dari ruang sidang, Alin berpapasan dengan Jhovan dan pak Donal tapi sama sekali Alin tidak menyapa mereka berdua, membuat pak Donal terlihat senduh.


Sejauh ini pak Donal selalu berusaha untuk mendapatkan maaf dari Alin tapi sampai sekarang belum ada hasilnya, tapi pak Donal cukup tahu diri jadi ia tidak memaksakan kehendaknya, ia percaya kalau suatu saat Alin pasti akan memaafkannya, tapi bukan dalam arti pak Donal hanya diam dan menunggu, pak Donal tahu kesalahannya yang sudah melukai hati putrynya sehingga ia juga berusaha untuk meminta maaf kepada Alin walaupun Alin tidak menangapi.


"Nak Alin, nak"...pak Donal berusaha mendekati Alin dan mencoba merai tangan Alin, tapi sayangnya Alin menjauhkan tangannya melihat itu Jhovan yang berdiri disamping pak Donal buka suara.


"Lin kamu jangan egois begitu, om Donal sudah minta maaf dan berusaha menjadi ayah yang baik, justru kamu berlaku congkak seperti itu. Jangan jadi anak durhaka."


Alin yang mendengar perkataan Jhovan langsung emosi dan menatap Jhovan dengan tajam.


"Siapa kamu, jadi berani ikut campur urusanku, tidak ada yang mengajak kamu bicara, mendingan kamu urus tunangan kamu yang sudah jadi napi, seharusnya kamu juga intropeksi diri, ada kacakan dirumah kamu cobak deh kamu ngaca. Dan biar kamu dengar baik-baik ya, semenjak aku melangkah kaki keluar dari rumah terkutut itu, aku sudah tidak punya ayah dan ibu lagi aku anak yang hidup sebatang kara, yang hidup pontang panting sampai hampir saya bunuh diri mengakhiri hidupku"


"Apa pernah laki-laki ini ada disaat masa sulitku dia ada dimana ha aku tanya, bukankah kalia berdua sama saja sama-sama bejat, bukankah hidupku menderita karena ulah kalian berdua tertama anda Tuan Donal."


" Waktu itu anda bersenang-senang dengan istri keduanya dan putrynya yang sangat dia cintai, dengan relah mati membelah mereka berdua, bukankah kamu juga salah satu laki-laki bejat yang aku kenal jadi anda tidak perlu menasihati aku karena kamu tidak tahu seperti apa penderitaan yang aku alami dulu."


"Apakah anda pantas disebut sebagai ayah, menurut aku anda tidak pantas mendapatkan julukan itu, sekarang kalian berdua uruslah istri dan calon istri kalian masing-masing dan tolong jangan pernah mengusik hidupku lagi."

__ADS_1


"Maaf Lin tapi itu sudah berlalu apa segitunya kamu membenci kami apalagi om Donal, mau bagaimanapun om Donal adalah ayah kamu darah itu kental Lin, sampai kapan pun tidak bisa pisahkan"


"Hahaah....hebat kamu ya bisa berkata seperti, ya gimana kamu tidak berkata seperti itu karena bukan kamu yang mengalaminya, tapi aku yang merasakan gimana aku terpuruk sampai tidak punya harapan untuk hidup tapi untung Tuhan memang sangat baik, ia masih menolongku, mungkin Tuhan masih memberikan aku kesempatan supaya bisa membalas kejahatan kalian terhadap aku. Jadi tolong jangan berharap lebih."


Setelah selesai bicara Alin langsung bergegas pergi meninggalkan kedua laki-laki itu berdiri mematung di tempat, pak Donal terlihat sangat sedih mendengar perkataan Alin yang sangat menyakitkan.


Setelah Alin pergi Leo juga ikut menyusul karena ia tahu adiknya pasti sangat sedih, sedangkan Devan melangkah mendekati, pak Donal. Dan menepuk bahunya.


"Pak maafkan Alin, Devan tahu papa memang bersalah, dan pada saat Devan mengetahui semua yang terjadi pada Alin Devan juga sempat benci sama papa, tapi papa harus tahu. Sebenci apapun Alin sama papa, sebenarnya ia menyimpan kerinduan yang mendalam untuk papa, tapi karena kebencian melebiha kerinduan jadi dia begitu."


"Iya nak papa tahu, maafkan papa juga ya Dev, papa titip Alin kalau suatu saat terjadi sesuatu sama papa, sampaikan permintaan maaf papa ke Alin."


Pak Donal memasang senyum dengan terpaksa, karena ia tahu umurnya sudah tidak lama lagi sedangkan mendapatkan maaf dari putrynya belum ada hasilnya, membuat pak Donal merasa sedih.


Devan pergi meninggalkan pak Donal dan Jhovan yang masih berdiri ditempat, Devan menuju kemobil dan mendapati Alin menangis dipundak Leo.


"Kak apa yang harus aku lakukan, sebenarmya aku kasihan sama dia tapi hati ini dengan keras menolak untuk menerimannya, setiap kali aku berusaha melupakan kesalahan yang perna ia lakukan disitu juga kembali timbul rasa benci,"


"Dik dengarnya memaafkan seseorang yang pernah berbuat kejahatan terhadap kita itu sulit, tapi bukan dalam arti kita memelihara rasa sakit hati itu, itu di ibaratkan sebuah penyakit yang lama kelaman kita biarkan akan mengerogoti tubuh kita, begitu juga menyimpan rasa sakit dan dendam terhadap orang apalagi ayah sendiri, semakin hari kita biarkan semakin tertanam dan disitu kita susah untuk melepaskan. Dan itu akan menimbulkan akar pahit sampai kapanpun."


"Aku tidak tahu kak kedepannya seperti apa kak, tapi kalau sekarang aku belum bisa memaafkannya"

__ADS_1


Karena Leo melihat Devan yang berdiri diluar ia inisiatif keluar dari mobil dan menemui Devan.


"Dev setelah ini kalian mau kemana? Mau langsung kekantor"?


"Iya nih rencana mau langsung kekantor memang ada apa kak ipar?"


"Terus Alin kekantornya juga atau ikut sama kamu kekantor kamu"


"Rencana sih mau kekantor aku aja lagian ini juga sudah siang, sebentar lagi makan siang jadi rencana kami mau makan siang bareng"


"Oh okelah bawah dia sekalian hibur dia ya, soalnya dia lagi sedih, jangan menambah kesedihannya lagi."


"Iya kak ipar bawel."


Devan langsung masuk kedalam mobilnya ia mendapati Alin yang tengah duduk main hp.


"Sayang kamu lagi ngapain, kita langsung kekantor aja atau mau kemann dulu nih?" tanya Devan basa-basi.


"Kita langsung kekantor aja mas ini sudah siang katanya tadi mau makan siang bareng, biar perusahaan di tangganin oleh Lisa dan Boby aja dulu lagian hari ini juga, tidak ada meeting penting juga jadi aku mau temani mas hari ini di kantor mas aja gapapa kan"?


"Iya gapapa sayang justru mas senang kamu temani mas, yuk kita jalan"

__ADS_1


__ADS_2