
Saras terseok-seok menarik kaki nya yang berat dan gemetar itu, muka nya pucat pasi, hari ini saras benar- benar ketakutan melihat kemarahan alin, karena selama hidup nya gak perna melihat alin semarah itu. Bahkan kalau gak di cegah sama boby dan lisa mungkin hari ini saras tinggal nama, secara melihat kemarahan alin tak terkendalikan.
Saras berusaha sekuat tenaga untuk lari menjauh dari alin, walaupun sekarang sakit nya menjalar di sekujur tubuh nya apa lagi di perutnya mau mati rasa sakit nya mungkin akibat tendangan alin tadi, ia gak peduli dengan sakit itu asal ia pergi dulu dari perusahaan alin.
Dengan usaha ekstra saras, akhirnya saras berhasil masuk ke dalam lift dan turut ke lantai dasar, disanana sudah banyak karyawan yang lalu lalang mereka merlihat kondosi saras begitu menyedihkan, sangat prihati. Melihat itu sebagian karyawan merasa kasian dan prihatin tapi sebagian mala mencibir.
"Kasian ya prihatin sekali lihat lah penampilan nya berantakan. Ujar sih A
"Ah biarin aja, orang dia jahat karma tuh" ujar sih B
Saras yang mendengar itu tak peduli seberapa banyak orang yang mencaci makin nya, yang penting sekarang ia berusaha keluar dari situ.
Saras menyeret kaki nya berusaha keluar dari gedung itu, karena satpam yang melihat saras kekusahan ia prihatin dan membantu nya. Akhirnya saras masuk kedalam mobilnya walau sakit sekali, saras gak peduli ia mau nyetir sendiri asal sampai do rumah.
Saras nyetir mobil dengan kondisi kurang baik senpang perjalanan saras tak henti menangis.
'Ternyata aku salah menilai mbak alin, aku pikir dia masih lugu seperti dulu jadi mau di apakan juga diam aja gak ada perlawanan, tapi tadi aku lihat seperti iblis seram banget muka nya memandang aku, aku harus sampai di rumah sebelum papa pulang biar aku kasih tahu mama.'
Sedangkan di kantor devan setelah selesai menerima telpon dari lisa devan langsung panik, ia langsung telpon leo dan menyuruh nya ke kantor alin segerah karena ada sesuatu darurat.
__ADS_1
Membuat leo juga gak kala panik, leo langsung tancap gas melajukan mobilnya ke perusahaan alin, karena kebetulan leo ada di dekat perusahaan jadi gak sampai sepuluh menit ia sampai sedangkan devan belum.
Leo gak peduli karyawan yang memandang nya tapi dia lari dari depan loby kantor langsung masuk kadalam lift, tak lama leo langsung menerobos masuk kedalam ruangan alin, ia melihat alin di baringkan di atas tempat tidur ya ada di dalam ruangan itu, leo gak peduli lagi ia langsung peluk erat alin.
"Dek kamu kenapa bisa begini kenapa kamu berantakan sekali. ha siapa yang melakukan ini, kamu tahu aku panik banget dengar kamu pingsan, bangun kamu dek kak ada kejutan loh buat kamu jadi bagun lah." ujar leo terlihat sedih
"Sabar pak leo tunggu bu alim sadar soalnya bu alin juga syok makanya tadi dia pingsan, tapi bu alin gak apa-apa pak sebentar lagi pasti bu alin siuman". Ujar lisa
Brakkkkkkkkkk
pintu ruangan alin di buka kasar oleh seseorang, Tak lama muncul devan dia juga gak kalah syok melihat alin berantakan, kelihatan kemarahan terpancar di wajah devan. "Pak saran saya biarkan dulu bu alin istirahat aja biar kita bicara di luar mengenai apa yang terjadi." akhirnya dengan usaha boby dan lisa kedua laki-laki tanpa itu membiarkan alin istirahat.
"Begini pak lebih baik cek aja cctv biar lihat langsung, kareba kalau kami jelasin mumgkin kurang baik, leo dan devan mengikuti saran dari boby, jadi segerah leo dan devan memeriksa cctv, dan memutar kembali kejadian tadi dari saras dantang sampai pengakuan nya, dan akhirnya terjadi amukan dari alin sampai saras babak belur sontak leo dan devan saling pandang.
Setela devan dan leo selesai memeriksa devan berkata: " boby tolong siapkan mobil saya mau pulang ke aperteman dengan alin, biar dia istirahat ada yang mau saya dengan kak ipar terus dimas mau urus sesuatu, kalau kamu mau ikut juga, yuk" ujar devan. Boby langsung mengangguk dan segerah mempersiapkan mobil sedangkan dimas sudah duluan ke suatu tempat.
Devan lantas mau gendong alin tapi di halangi oleh leo, "enak aja main gendong ini adik saya, jadi saya berhak memgendongnya," ha kak ipar juga gak lupa kan kalau ia calon istri saya."
"Oalah kedua laki-laki ini dimana-mana seperti tom dan jerry aja berantam terus gak ada henti nya, lisa yang masih berdiri disitu hanya gelengkan kepala melihat tingkah kedua laki-laki tanpan di depan nya.
__ADS_1
"Pak leo, tuan devan kapan bu alin di bawa pulang ke apertemen kalau dari tadi tuan berantam terus dari tadi" ujar lisa
Karena leo berpikir kesehatan adik nya lebih penting biar lah dia mengala karena kalau dia berkeras otomatis devan juga gak akan mengala, akhirnya leo yang mengendong alin dan leo yang bawa tas dan barang yang lain.
"Makasih ya lis sudah menjaga bu alin" ujar leo
"Sama-sama pak tapi memang itu tugas saya." ujar lisa sopan di sambut anggukan oleh leo, sedangkan devan sudah duluan melangkah keluar leo ngekor dari belakang.
Mereka keluar dari dalam lift sambil devan mengendong alin, boby sudah menunggu di loby, banyak pasang mata memandang mereka, bertanya-tanya apa yang terjadi, bagi karyawan sudah tahu mereka diam aja tapi bagi yang belum mereka jadi penasaran, tapi mereka juga takut bertanya apa yang terjadi namun mereka sudah mendunga semua kerjadian ini terjadi ini sangkut paut dengan kedatangan saras karena tadi saras pergi prihati banget..
Setelah mereka semua masuk kedalam mobil masing-masing mereka pergi meninggalkan kantor dan melajukan mobil dengan kecepata sedikit tinggi, namun tiba-tiba alin mengerjapkan matanya.
"Loh sayang kita mau kemana kok dalam mobil". Tanya alin
"Kita mau pulang sayang biar kamu istirahat kamu seperti nya kecapean kan dan juga belum makan, ini sudah jam satu loh." ujar devan.
"Aku gapapa sayang aku hanya syok aja, oya perempuan itu kemana" tanya alin
"Dia sudah pergi sayang". Ujar devan,
__ADS_1
"Sayang sore jam empat aku mau ke rumah tuan donal, ada yang mau saya lakukan disana dan tolong semua bukti itu di bawa sayang" ujar alin tiba-tiba namun devan sudah bisa membaca maksud tujuam alin kesana
"Iya nanti sore kita sama-sama kesana, sama boby dimas leo."ujar deva