
Belum juga selesai keterkejutan ku, Tiba-tiba tuan davin mengatakan kalau putra nya akan bertunangan dengan seorang gadis cantik yang sangat ia cintai, pas aku mendengar itu jantung ku tambah gak aman, tapi aku diam aja, karena aku takut papa tahu bisa habis aku.
deg deg deg!!
Namun gak ku sangka mama yang dari tadi duduk di sampingku tahu kalau anak nya lagi dalam keresahan hati gak tenang antara takut sakit hati dan bahagia.
takut karena kalau laki-laki itu benar ia melakukan ancaman nya, sakit hati karena melihat alin bersama laki-laki lain rasa nya gak iklas, ". Nak kamu kenapa dari tadi mama lihat seperti gak tenang begitu, ada apa cerita sama mama."
Pertanyaan mama seketika membuat aku gugup, karena kalau aku cerita ke mama otomatis papa pasti dengar, nanti aku sama mama di salahin lagi aku gak mau mendingan aku bohong aja.
"Ah perasaan mama aja, jhovan gak kenapa-napa kok ma". ujar ku
"Tapi mama perhatiankan kamu kayak gak tenang seperti gelas gitu" aduh mama gak usah bertanya lagi napa hati ku lagi gak tenang.
Dengan menghilangkan rasa takut dan gugup aku segara alihkan kembali pandangan ku ke depan, dan tiba-tiba lampun sorot menyalah pas di pintu masuk yang terhubung ke ruangan sebelah, pintu itu terbukan dengan sendirinya.
Dan munculah seorang gadis cantik seperti bidadari berdiri dengan angin nya tepat di depan pintu itu, kulit nya putih mulus rambut agak bergelombang, dan mata coklat makin menambah kecantikan .
Membuat aku seketika membeku, terpanah dengan apa yang aku saksikan sekarang. bukan hanya aku mama dan papa juga gak kalah terkejut.
Jangan tanya lagi bagaimana reaksi om donal tante ratna dan saras, aku rasa mereka bisa mati berdiri melihat, siapa yang berdiri di depan.
__ADS_1
"Ya Tuhan betapa sempurna nya ciptaan mu parsis seperti bidadari." sampai mata ini gak berkedip sedikit pun.
Asli mata ini gak berkedip melihat semuanya itu, tak lama dua orang perempuan yang satu sudah agak berumur tapi masih kelihatan cantik dan satu lagi masih mudah dan juga gak kalah cantik dari alin.
Mereka bergegas memghampiri alin dan menuntut nya ke depan, tak lama laki-laki itu berlutut dan melamarnya, aku berdoa dalam hati semoga alin menolak lamaran itu. Karena kalau alin menolak berarti masih ada peluang besar untuk aku mendekati nya.
Namum sayang alin menerimannya dan aku melihat binar kebahagiaan terpancar di wajah cantik nya apa lagi laki-laki itu, melihat itu hati ku sangat terluka, "lin maafkan aku, dulu aku laki-laki egois sekarang aku menyesal".
Rasa-rasa nya aku ingin teriak biar alin mau batal bertunangan dengan laki-laki itu tapi, sayang nya aku gak ada keberanian untuk lalukan itu. Aku lantas kirim pesan ke saras. "sayang kamu lihat kan mbak kamu itu dia cantik banget kan."
"Ah biasa aja, cantikan aku mala ya gak sayang" mendengar perkataan saras pengen mau bunuh diri aja. Aku tahu dia cemburj karena aku memuji alin.
"Iya dong sayang ku lebih cantik dari segala nya". Muaaah mual jadi nya karena terpaksa memuji nya.
"Pa, mama kok jadi nyesal ya waktu itu gak dengarin papa menerima alin sebagai anak kita."
"Ya itu kan ego mama sama jhovan, kenapa sekarang baru nyesal juga gak ada guna nya sudah terlambat."
"Gak pak belum terlambat alin kan belum sah jadi Istri devan jadi masih bisa lah".
"Tiba-tiba papa mulai emosi, ma, jangan egois mau cari mati atau mau cari kehancuran, papa rasa mama sudah tahu siapa yang mama hadapi kan jadi jagan ane-ane kalau gak mau hidup melarat.
__ADS_1
bentakan papa berhasil membuat mama seketika bungkam, mama takut papa marah lagi berarti bahaya.
Tapi memang sih aku dengan mama patut di salahkan sama papa karena waktu itu papa memang bersih keras jangan batalkan perjodohan itu.
Karena menurut papa kalau pun alin sudah di usir dari rumah om Donal dan gak di akui lagi sebagai anak. Gapapa biar mama dengan papa akui alin sebagai anak perempuan nya, namun baik mama mau pun aku hanya mementingkan ego kami jadi kami berdua menolak apa lagi waktu itu aku sudah mulai dekat dengan saras.
Jadi sekarang aku benar-benar menyesal, setelah aku melihat semua nya sudah selesai, aku lantas bagun dan mendekat ke alin pengen mau salaman sama alin, tapi aku urungkan, setelah menyaksikan drama panjang antara keluarga pak donal dengan alin.
Kadang aku jadi berpikir kalau ternyata tante ratna ini juga egois mau menghalalkan segala cara hanya untuk mendapatkan kekayaan, aku melihat tante ratna segaja menyodorkan saras mendekati devan.
Padahal jelas-jelas devan adalah tunangan alin dan aku lihat devan juga jijik lihat gaya saras, kelihatan banget merah*n masa sudah punya calon aja masih mau merayu calon mbak nya.
Biar pun alin sudah gak tinggal di tempat om donal, namun bagaimana pun alin tetap anak nya om Donal apa pun ceritanya, darah itu kental. Aku lihat jadi muak, namun berbeda dengan mereka, om donal mala diam membisu dari tadi.
Gak ada sedikit pun kata keluar dari mulutnya, tapi yang membuat kami semua kaget yang tiba-tiba om donal menyeret tante ratna pergi di paksa keluar dari gedung.
setelah semua nya papa dan mama ucapkan selamat kepada alin dan degan, kami bergegas pulang seperti biasa aku harus antar pulang perempuan itu, sebenar nya malas tapi mau bagaimana lagi, jadi terpaksa antar.
Awal nya aku rencana gak masuk lagi ke dalam rumah daras, karena sudah malam dan juga malas dengar daras, namun pas kami sampai di halaman rumah kami mendengar ada teriakan.
"Ampun pa.....ampun mama mohon," mendengar suara itu kok kayak gak asing ya seperti suami tante ratna apa jangan-jangan.Om Donal pukul Tante.
__ADS_1
Aku segara turun dari mobil dan berlari bersama daras kedalaman rumah, ya Allah betapa terkejut kami berdua, melihat apa yang terjadi.
Ternyata benar, suara teriakan itu suara tante ratna dan sekarang sudah tergeletak di lantai dengan lutut yang di tekuk, badan nya gemetar hebat, karena daras lari pas om Donal mau pukul tante ratna jadi ikat pinggang sempat kena daras satu kali dia menjerit.