
Setidaknya Jhovan merasa lega karena pak Roi dan bu Anita tidak menolak anak yang di kandung Saras, kalau memang benar anak itu terbukti anak kandung Jhovan bu Anita siap merawat anak itu namun jika terbukti anak itu bukan anak kandung Jhovan berarti bu Anita dan pak Roi menolak anak yang di kandung Saras.
"Ya, sudah ayah dan ibu setujuh kamu buka bisnis baru modalnya sebagian dari ayah ya, kamu pergunakan modal itu dengan baik, memangnya kamu mau buka usaha apa"?
"Rencana mau buka rumah makan dulu ayah, tapi Jhovan mau rumah makan yang desainnya bagus agar bisa menarik pengunjung" ujar Jhovan senyum.
"Bagus juga kalau begitu, terus kapan kamu mau memulai membuka rumah makan itu, begini saja didaerah dekat banyak perusahaan PT itu masih ada bekas rumah makan kakek kamu jadi lebih baik kamu kesana terus cek kalau memang sudah tidak layak baru kamu renofasi, karena semenjak kakek kamu meninggal rumah makan itu terpaksa ditutup karena ayah sibuk mengurus perusahaan jadi tidak sempat mengurus rumah makan itu akhirnya tutup. Ayah rasa kalau kamu sunggu-sunggu dalam menjalani bisnis ayah yakin pasti kamu sukses, yang penting kamu buang kebiasaan lama kamu dan fokuskan dirimu pada bisnis sekarang jika kamu mau cari calon istri carilah yang benar-benar tulus mencintaimu."
Pak Roy menasihati Jhovan agar mencari wanita yang mau menerima kekurangan Jhovan, apalagi kalau Jhovan sudah punya anak itu sudah sangat sulit.
"Tapi ayah , kalau seandainya jodohnya Jhovan kembali pada Saras bagaimana? kita tidak bisa melawan takdir yah, buktinya Jhovan sudah memutuskan hubungan dengan Saras bahkan tidak menghubunginya sama sekali tapi pada akhirnya Jhovan harus kembali berhubungan dengannya karena anak yang di kandung" ujar Jhovan.
"Jhovan!..jangan ngaur ya kalau bicara, sampai kapan pun ibu tidak akan setujuh kamu kembali dengan wanita itu, dia bukan wanita yang baik Jhovan jangan sampai kamu menyesal lagi Jhovan, ibu saja menyesal sampai sekarang karena dulu lebih mempercayainya dari pada percaya sama Alin, jangan sampai kamu membuat ibu merubah pikiran untuk tidak menerima anak itu ya Jhovan jangan macam-macam sama ibu!"
Jhovan langsung diam tidak berkutik, pak Roi masih diam belum bicara apa-apa mengenai perkataan Jhovan tapi setidaknya bu Anita secara langsung menolak Saras menjadi menantunya.
"Jhovan! kamu punya otak untuk bisa berpikir bukan? Hukuman Saras itu bukan satu atau dua tahun nak, kamu harus ingat sepuluh tahu itu lama, memangnya kamu sanggup menunggu sampai sepuluh tahun tidak mungkin kan? Jadi berhenti berharap dan mengatakan kalau itu takdir karena prinsip ayah sama juga kayak ibu kamu, tidak akan setujuh kamu kembali dengan perempuan itu, atau jangan-jangan kamu mau buka usaha karena ingin kembali bersama dengan perempuan itu, sehingga kamu punya penghasilan sendiri dan kami sebagai orang tua tidak bisa mengatur kamu lagi, kalau itu mau kamu silahkan saja kalau kamu bisa ayah tidak melarang"
__ADS_1
"Bukan begitu maksud Jhovan bu, yah. Jhovan mau buka usaha atas inisiatif Jhovan sendiri bu, yah. Bukan untuk siapa-siapa, kalau memang ayah dan ibu tidak setujuh tidak masalah Jhovan juga sudah tidak cinta lagi sama Saras..asal ibu tidak menolak anak itu, dia tidak bersalah apa-apa ayah, ibu. Yang membuat dosa Jhovan dan Saras bukan anak itu."
"Ya sudah kalau begitu sekarang kamu fokus saja dulu dengan bisnis kamu kita tunggu saja sampai perempuan itu melahirkan dan kita tahu hasilnya baru kita bawah anak itu kerumah."
"Iya bu" jawab Jhovab senduh.
"Kamu mau ikut ayah ke restoran tidak, kalau kamu mau yok kita pergi," pak Roi sengaja mengajal Jhovan kira-kira Jhovan mau tidak, ternyata Jhovan mau.
"Baik ayah, Jhovan ikut deh...dari pada dirumah dan biar Jhovan belajar membisnis mulai sekarang semoga usaha Jhovan berhasil." ujar Jhovan.
Pak Roi dan bu Anita tersenyum mendengar penuturan Jhovan, mereka senang karena pada akhirnya Jhovan mau buka usaha bisnis rumah makan juga.
Jhovan dan pak Roi masuk kedalam mobil dan berlalu pergi, sendangkan bu Anita sudah masuk kedalam kamar tapi dirinya tidak tenang. Membuat bu Anita mondar-mandir kayak orang stres.
Bu Anita memikirkan anak yang di kandung oleh Saras, semoga itu adalah anaknya Jhovan, tapi kalau bukan biar anak itu di taru ke panti asuhan saja, siapa lagi yang mau merewatnya kalau bukan kasih ke panti asuhan.
"Aku tidak bisa berdiam diri begini saja aku harus ketemu dengan perempuan itu tapi malas kali pergi ah! Biar saja deh nanti besok saja aku sama papa pergi berdua tanpa pengetahuan Jhovan"
__ADS_1
Sedangkan pak Roi dan Jhovan lagi dalam perjalanan menuju ke restoran mereka berperan dengan pikiran masing-masing.
" Jho....ayah harap kamu lebih dewasa lagi pada saat mengambil keputuasan, jangan kamu terburu-buru seperti dulu lagi, bukannya ayah tidak percaya kalau anak yang di kandung Saras itu adalah anak kamu, tapi biar tidak ada kecurigaan dalam diri kita masing-masing lebih baik seperti yang kita bicarakan di rumah tes DNA saja kamu tidak keberatan kan"? Tanya pak Roi.
"Tidak ayah menurut Jhovan juga memang harus melakukan tes DNA biar Jhovan tahu benaran itu anak Jhovan atau bukan, takutnya bukan anak Jhovan tapi justru Jhovan yang merawatnya, tapi Jhovan sangat yakin kalau anak itu adalah anak Jhovan ayah."
Kedua pria itu kembali terdiam karena, tidak ada obrolan diantara mereka berdua...Jhovan sibuk main hp sedangkan sang ayah mengemudi, Jhovan sudah menawarkan diri untuk mengemudi tapi kata pak Roi tidak perlu karena kalau Jhovan yang mengemudi lacunya kencang banget.
Akhirnya Jhovan membiarkan ayahnya mengemudi mobilnya.
******
Sedangkan di tempat lain kembali ke tahanan keempat teman Jhovan sampai siang hari belum ada keluarganya yang datang menebus mereka, bahkan ketiga perempuan itu juga masih di tahan sedangkan Vino sudah pulang setelah di bebaskan oleh Jhovan.
"Kurang ajar kamu Jhovan awas ya kalau berani aku keluar dari sini aku akan berikan pelajaran kepada kamu biar tahu rasa, bisa-bisanya kamu menjebak kami disini padahal awalnya kamu yang mau dijebak kenapa jadi kami yang masul kesini gila nih orang." gumam salah satu temab Jhovan.
"Ini semua gara-gara ideh gila kamu ini makanya kita bisa disini" sambung yang satunya.
__ADS_1
"Iya nih tahu kayak gini aku tidak mau ikutan ideh gila lo jadi apes hidup aku gara-gara berteman ma lo tahu gak "