
Oliv justru marah mendengar perkataan sekretaris Dimas dan pengawal Boby. Oliv tidak terimah di katain begitu karena Oliv tidak merasa bersalah sama sekali, Oliv merasa paling benar dan tidak perna mau mendengar nasihat siapa pun dari Indri dan Barra terus Cinta dan James sekarang pengawal, bahkan Oliv tidak segan merendahkan pengawal di depan banyak orang.
"Kamu itu hanya seorang pengawal rendahan dan hanya seorang sekretaris jadi jangan ngatur-ngatur saya, karena kamu tidak pantas berkata seperti itu kepada calon nona muda kamu paham, karena kalau saya jadi menikah dengan Tuan kalian saya yang akan pecat kalian semua, dasar manusia tidak berguna" ujar Oliv sangat keterlaluan si Oliv bicara begitu dia tidak sadar kalau dirinya lebih rendah dari orang itu.
"Hahaha...apa nona bilang tadi? kami pengawal rendahan? Terus apa bedahnya dengan nona, apa nona seorang gadis berkelas begitu"? Tanya pengawal Boby yang sudah emosi dengan tingkah Oliv.
"Oh tentu, saya wanita yang berkelas, saya berasal dari keluarga kaya di kota A dan sebentar lagi saya akan menjadi nona muda".ujar Oliv masih bangga.
"Oh, ya. Wanita berkelas macam ini yang hamil di luar nikah karena tidak bisa menjaga harga dirinya dan tidak tahu siapa ayahnya, dan kalau wanita yang berkelas tidak menjadi perempuan rendahan, jauh-jauh dari kota B hanya datang menyusul suami orang, pria yang sudah beristri, ngaca nona....ngaca anda krkurangan kaca biar seorang pengawal rendahan ini yang membelikan untukmu, dengar ya gaji saya sebulan bisa membeli sepuluh wanita seperti kamu.
Kalau soal cantik bukannya cantik amat...banyak di pasaran sana satu seribu, kalau soal Atittude apalagi kamu itu ibarat tong kosong nyaring bunyi, jangan anda menilai seseorang dari statusnya karena hanya orang sombong dan egois aja yang berpikiran begitu. Selalu menilai orang dari status dan harta untung ya Tuan muda pintar memilih pasangan jadi Tuan muda tidak memilih sampah seperti ini, lebih baik anda pergi dari sini nona jangan sampai tangan saya ini bisa menampar anda, walaupun saya paling tidak suka menyentuh seorang perempuan." teriak pengawal Boby.
Seketika mental Oliv ciut tadi sok-sok,an merendahkan orang sekarang dia lamgsung ketakutan. Tapi Oliv masih berusaha membela diri seorang Oliv tidak mau mengalah.
"Siapa suruh kalian menghalangi saya masuk untuk ketemu dengan Devan saya sudah bilang saya kesini karena saya ingin ketemu dengan Devan, kalian sok melarang saya ketemu" ujar Oliv.
"Nona Oliv, anda mengerti tidak? Apa anda tidak sekolah sehingga tidak mengerti bahasa, dari tadi saya sudah jelaskan bahwa Tuan dan nona muda tidak bisa di nganggu karena mereka mau istirahat, pahanlm tidak!...anda siap saudara bukan, kerabat juga bukan tapi ngotot untuk ketemu dengan Tuan muda anda sehat sekarang saya minta anda pergi dari sini atau anda yang diseret paksa pergi dari sini" ujar sekretaris Dimas tapi karena Oliv masih ngotot akhirnya pengawal terpaksa menyeret Oliv keluar dari hotel.
"Kurang ajar kalian semua ya awas aja kalau saya ketemu dengan Devan, saya akan aduin kalian ke Devan biar kalian tahu rasa. Dasar manusia planet tidak punya hati" Teriak Oliv
Oliv terpaksa kembali ke hotel, karena Oliv tahu sebentar lagi makan malam kebetulan kedua hotel yang berhadapan itu satu restoran, jadi pada saat jam makan semua penghuni hotel akan makan ada yang tetap di kamar tapi ada juga yang turun ke restoran sekalian nongkrong karrna restoran hotel buka 1x24 jam.
"Humm kalian pikir saya akan menyerah begitu saja jangan harap karena saya akan berusaha semaksimal mungkin sampai saya bisa ketemu Devan. Dasar Devan kurang ajar dia senang-senang dengan perempuan sinting itu di kamarnya sedangkan aku disini menderita menahan rinduh, Devan kamu tahu tidak, saya pengen kayak dulu lagi setiap kali kita ketemu di hotel kamu selalu berikan kepuasan kepadaku, tapi kenapa setelah aku hamil kamu justru seolah melepas tanggung jawab dan tidak mengakui perbuatanmu.
Kamu tega sekali dengan anak kamu Devan, kamu tidak mau mengakui anak kamu sendiri...kalau berani Devan benar-benar tidak mau bertanggung jawab mungkin jalan satu-satunya aku harus berikan bukti yang kuat aku ikuti krmauan mereka tes DNA, biar mereka semua takluk kepada ku karena hasil tes DNA mengatakan 180% anak Devan." gumam Oliv.
Dengan langkah berat, Oliv kembali menyeret kakinya kembali ke hotel, kamu sih egois Oliv kamu melawan semua orang-orang yang dekat denganmu dan sekarang tidak ada seorang pun yang mau dekat dengan kamu lagi, ibu kamu tidak tahu bagaimana kabarnya, kamu lebih memilih mengejar suami orang ketimbang pulang dan merawat mami kamu yang lagi kritis di rumah sakit.
Sedangkam di kamar Alin tidur dengan pulas tidak tahu kenapa akhir-akhir ini Alin sering ketiduran, karena Devan tidak bisa tidur Devan mengambil hp dan memeriksa file yang di kirim oleh sekretaris yang ada di perusahaan, ada beberapa berkas yang harus di periksa oleh Devan...walaupun bulan madu tapi tidak lepas dari pekerjaan.
"File apa ini semua, aku harus periksa dulu kebetulan Alin tidur jadi ini kesempatan untuk aku menyelessikan pekerjaan ini, karena kalau Alin sudah bagun aku tidak bisa periksa lagi."
Devan langsung mengambil leptop dan menghidupkannya, Devan periksa setiap file yang di kirim, Devan periksa satu persatu, namun saat Devan asyik periksa file tiba-tiba hp Devan berbunyi, saat Devan melihat ternyata video call sari mama Asta.
"Aduh mama yang telpon rupanya, biar aku angkat aja dulu nanti banyak pertanyaan lagi kenapa tidak angkat telpon." gumam Devan.
"Hallo mah,ada apa video call mah? Mama lagi dimana dan dengan siapa semalam berbuat apa"? tanya Devan tapi kok kayak lirik lagu hehehe.
"Kamu bertanya atau nyanyi sih nak? Kok kayak lirik lagu, sepertinya wajah kamu sangat segar buger di kasih vitamin terus ya sama putry mama," tanya bu Asta ngledek putranya.
"Ah mama," ujar Devan.
__ADS_1
"Nak bagaimana kabar kalian disana sehat kalian kan? Mana putry mama cobak arahin kamera ke arahnya" ujar bu Astas.
"Sehat mah, ini putry mama masih tidur nyenyak cobak lihat pules banget tuh, tidak bergerak sama sekali" ujar Devan sambil mengarahkan kamera keara Alin yang lagi asyik tidur nyenyak.
"Astaga nak...kamu pasti tidak berikan waktu untuk putry mama istirahat makanya dia kecapean, jangan keras-keras melakukannya harus lembut semoga setelah kaluan pulang mama dapat cucu cantik atau ganteng, ya sudah lanjut ya salam buat putry cantik mama dada." ujar bu Asta langsung mengakhiri panggilan tanpa dosa.
"Astaga punya mama kok gini amat, di telpon hanya mau tanya menantunya setelah tahu menantunya lagi tidur malah di mati,in nasib-nasib."
Devan kembali melanjutkan pekerjaannya, namun tiba-tiba hpnya kembali berbunyi dan ternyata ada pesan mssuk dari nomor yang tidak di kenal, Devan menaikan kedua alisnya bingung siapa yang kirim pesan ini, namun karena Devan sibuk jadi Devan tidak peduli dengan pesan yang di kirim oleh seseorang yang tidak di kenal.
Tidak lama kemudian Alin mengeliat, dan mendapati Devan yang duduk disamping Alin sementara serius memeriksa file, jadi tidak menyadari jika Alin sudah bangun.
"Mas, lagi ngapain? Kenapa mas tidak bangunin Alin sih mas, pasti mas gendong Alin lagi kan? Malunya di lihat orang pikir istrinya Tuan muda Devan manja sekali, memagnya tidak punya kaki sampai harus di gendong" baru bagun tidur sudah ngerocos aja.
"Sayang, sudah bangun? Yuk sayang bangun biar mandi maaf mas harus selrsaikan beberapa file ini soalnya file ini sangat penting sayang, besok harus kirim jadi tidak bisa di tunda" bukannya menjawab pertanyaan Alin justru Devan menyuruh Alin mandi karens memang sudah jam lima dan sebentar lagi mereka akan makan malam, rencana Devan malam ini mereka makan di kamar aja tidak perlu turun ke bawah.
"Ya sudah mas selesaikan dulu pekerjaannya, baru mandi biar mandi sama-sama saja mas nanti setelah ini kita makan dibawah aja ya mas" ujar Alin.
"Ya sudah sayang tunggu ya sebentar lagi sudah selesai kok mas kirim dulu filenya baru kita mandi, padahal tadi mas rencana makan di kamar aja tapi kalau kamu mau makan di bawah tidak masalah, sekalian nongkrong sebentar sekitar jam sembil kita masuk kamar. Oh ya, mas lupa tadi mama telpon tipa hanya tanya kamu sayang setelah itu di mati,in deh telponnya , mas bingung sebenarnya siapa anaknya mas atau kamu, kabar kamu yang di tanya sedangkan mas tidak lucu " Ujar Devan kesal.
"Ya jelas mama tidak tanya kabar mas lah orang mama sudah jelas melihat mas wajahnya segar buger begitu, tapi karena mama tidak melihat Alin makanya mama tanya dasar tukang cemburu itu aja cemburu" ujar Alin.
Setelah selesai Devan mengerjakan semuanya Devan kembali menutup leptopnya dan mengajak Alin untuk mandi, Devan langsung mengendong Alin dan membawahnya kedalam kamar mandi. Devan mengisi air kedalam bathtub dan memasukan Alin kedalam bathtub yang sudah di isi dengan air hangat.
"Mas besok Alin mau jalan-jalan lagi boleh tidak mas? Kan hari ini kita tidak jadi jalan-jalan kita hanya di hotel aja, boleh ya mas" ujar Alin.
"Sayang bisa tidak besok istirahat aja dulu kamu masih kecapen loh, tadi aja kamu tidur pules banget kamu kayak agak pucat karena kecapean nanti kalau kamu sakit gimana" ujar Devan.
"Ya sudah kalau begitu besok kita jalan-jalan saja ke mall nanti setelah selesai dari mall kita langsung pulang ke hotel bagaimana mas boleh ya" ujar Alin.
Alin sangat pintar mengambil hati Devan cukup memasang wajah sedih Devan langsung lulu hatinya. Devan tidak bisa melihat Alin sedih sedikit pun maka dari itu apapun yang Alin minta selalu di di kabulkan oleh Devan karena Alin tidak perna meminta yang ane-ane.
Setelah hampir tiga puluh menit Devan dan Alin keluar dari kamar mandi Devan mengendong Alin dan mendudukan di atas sofa. Alin kembali mengolesi wajahnya dengan pelembab karena hanya sekedar makan di bawah terus setelah itu kembali istirahat jadi Alin tidak pakek make up. Lagian Alin tanpa make up juga tetap canti dasarnya Alin cantik alami sama seperti ibunya Larasati.
"Sayang....mas baru ingat bagaimana ya dengan kabar Saras dan tante Ratna, bukannya waktu itu sayang bilang kalau Saras hamil? Jangan-jangan Saras melahirkan didalam penjara. Setelah putusan pengadilan kita tidak perna datang jenguk mereka saya sayang" ujar Devan.
Seketika Alin menghentikan aktifitasnya dan menatap Devan, Devan menjadi takut karena pikirnya Alin pasti marah. Sehingga dengan buru-buru Devan minta maaf.
"Sa....sayang maaf mas tidak bermaksud membicarakan mereka, hanya tiba-tiba aja mas ingat mereka makanya mas ngomong maafin mas sayang" ujar Devan.
"Hehehe....mas lucu kalau ketakutan begitu siapa yang mau marahin mas, namanya kita sebagai manusia itu pasti punya hati nurani, tidak masalah mengingat orang yang perna menyakiti kita, itu hal wajar menurut Alin. Sepertinya Saras belum melahirkan mungkin satu atau dua bulan lagi baru dia melahirkan tapi kita tidak perlu kuatir anak itu pasti di rawat oleh ayah dari bayi itu. Tidak mungkin si Jhovan tidak mau bertanggung jawab dia yang sudah menghamili Saras.
__ADS_1
Walaupun Alin tahu Sebenarnya waktu mereka melakukan di hotel itu bukan karena kemauan Saras dan Jhovan, tapi karena perbuatan tante Anita dan Tante Ratna wakty itu. Namun mas tahu dari semua masalah yang Alin alami dulu sebenarnya itu sudah rencana Allah, jadi Alin bersyukur kepada Saras juga yang sudah menyelamatkan Alin tapi karena dia lakukan dengan cara yang salah. Kenapa harus enyang yang di dorong hanya untuk menfitna Alin kan bisa pakek cara lain" ujar Alin.
Devan masih belum mengerti apa yang di maksud Alin.
"Maksud kamu apa sayang kok bersyukur sih bukannya dia sudah jahat sama kamu" tanya Devan.
"Ya jelas Alin betsyukurlah mas karena dengan dia menfitnah Alin dan merebut Jhovan dari Alin, sekerang Alin bisa menikah dengan mas bukan? Kalau seandainya waktu itu Alin tidak di fitnah dan tidak pergi dari rumah apakah mas masih yakin sekarang kita bersama, itu belum tentu mas! Karena Alin yakin setelah kita ketemu bisa jadi Alin sudah menikah dan bahkan sudah punya anak itu bisa saja terjadi, jadi seolah semua yang terjadi sudah di rancang oleh Tuhan bahwa takdir pasangan Alin itu ada pada mas bukan pada Jhovan.
Kadang Alin juga berpikir aku harus berterimah kasih sama dia karena sudah menyelamatkan aku dari segalah masalah dan hubunganku dengan Jhovan dulu," Jelas Alin membuat Devan membenarkan perkataan Alin.
"Iya benar sayang mas juga berpikir begitu, tapi bukan dalam arti Saras harus di bebaskan bukan memang semua sudah rencana Tuhan tapi dia juga sudah membunuh eyang, dia yang menyebabkan eyang meninggal, kalau begitu bagaimana kalau nanti kita pulang dari sini kita pergi jenguk Saras di lapas sayang itu pun kalau kamu mau, semoga Saras sudah berubah, tapi kalau soal tante Ratna sepertinya tante itu tidak akan berubah." ujar Devan.
"Nanti saja kita pikirkan itu mas setelah kita pulang dari sini, kalau sekarang jangan memikirkan orang lain duh biarkan saja disitu Alin yakin Saras aman kok di lapas walaupun kondisi dan penampilannya pasti sudah sangat berubah." ujar Alin.
Alin melanjutkan pakek pelembabnya setelah selesai mereka mulai turun ke bawah karena sudsh setengah tujuh. Sekretaris Dimas tunggu di depan pintu saat Devan dan Alin keluar dari kamar.
"Sekretaris Dimas ngapain disini." tanya Devan.
"Maaf Tuan tadi rencana saya mau memberitahu jika sebentar lagi jam makan malam sudah tiba apakah Tuan dan Nona ingin makan di kamar atau di restoran, tapi ternyata Tuan sudah keluar" ujar sekretaris Dimas.
"Oh...nona mau makan di restoran jadi kita langsung saja ke bawah tidak perlu antar ke kamar" ujar Devan.
Mereka bertiga melangkah masuk kedalam lift dan turun kebawah, tujuan saat ini ke restoran. Setelah sampai di restoran Alin dan Devan langsung duduk tempatnya sudah di sediahkan oleh Dimas, awalnya Dimas sudah menyiapkan ruang VIP untuk Devan dan Alin namun Alin tidak mau sehingga mereka berbaur dengan pengunjung lainnya.
"Tuan, nona disini tempatnya sudah saya siapkan" ujar Sekretaris Dimas.
"Maaf sekretaris Dimas, saya tidak mau makan didalam saya mau di luar saja biat bisa berbaur dengan yang lain" ujar Alin.
"Sayang tidak sebaiknya kita didalam saja biar makan tidak tenganggu, kalau disini selain banyak agak bising" ujar Devan.
"Tidak masalah mas justru begini-begini yang jarang sekali kita lakukan, jadi biar sekali-sekali lah kita kita makan begini Alin juga suka." ujar Alin.
Karena Devan tidak mau berdebat dengan istri cantiknya sehingga, Devan hanya menuruti kemauan Alin saja, mereka duduk di tempat yang sudah tersedia, setelah mereka duduk tidak lama kemudian dua orang pelayan mengantarkan makanan yang sudah di pesan oleh sekretaris Dimas..
Alin mengambilkan nasi dan lauk untuk Devan begitu juga Alin mengambil untuk dirinya, mereka mulai makan tapi sebelum itu Devan menyuruh sekretaris Dimas dan yang lain juga makan.
Saat Devan dan Alin lagi asyik makan entah dari mana orang itu muncul tiba-tiba mengecup pipi dan memeluk Devan dari belangkang, membuat Devan terperajat dan bangkit dari tempat duduknya, seketika itu mengundang perhatian semua pengunjung.
Dengan lembut dan manja seorang wanita berkata Lirih." Devan sayang, kamu kok tega banget sih meninggalkan calon istri kamu yang lagi mengandung anakmu, lihat deha saking anakmu rindu bertemu dengan ayahnya aku jauh-jauh loh dari kota A menyusul kamu kesini, tapi ternyata kemarin aku dilarang masuk untuk menemui kamu, kamu tega baget sih makan sama wanita matre ini ketimbang aku yang sebentar lagi akan menjadi istri sah kamu" ujar Oliv.
Jadi wanita itu adalah Oliv setelah dia di usir, dia mandi dan dandan cantik dan kembali ke restoran setempat karena restoran itu bisa siapa saja yang datang untuk makan disana walaupun di tengah-tengah kedua hotel itu.
__ADS_1