
Saat Alin buka hp ternyata Alin dapat kiriman foto dari bibi, yaitu foto pak Donal yang masih, terbaring lemah di atas brankar rumah sakit dengan dipenuhi banyak alat medis disekujur tubuhnya membuat hati Alin tiba-tiba terasa perih seperti di hujanin ribuan belati.
Tidak terasa bulir bening lolos begitu saja karena, perasaan Alin saat ini berkecamuk pengen cepat ke rumah sakit juga tidak bisa karena harus ikut meeting nanti jam sepuluh, kalau Alin kerumah sakit siapa yang akan menghandle meetingnya, memang ada Lisa sih sekretaris serba bisa di andalkan tapi Alin pengen dia yang akan memimpin langsung meetingnya nanti soalnya banyak hal yang ingin dibahas.
Alin mengelus layar hpnya dan berharap dalam hati semoga pak Donal cepat sembuh. Karens hanya pak Donal satu-satunys orang tua kandung.
"Pah, Alin sudah maafin semua kesalahan papa, jadi tolong sadarlah pah jangan bikin Alin tidak fokus dalam bekerja, tolong papa bangun biar papa bisa menebus semua kesalahan papa terhadap Alin selama ini. Mana janjimu pah bilang kalau Alin maafin papa, akan papa lakuksn apa saja untuk Alin sekarang mana janji itu jangan egois pah."
Alin yang terlenah dalam kesedihan tidak menyadari kalau dari tadi Yora sudah keluar dari kamar mandi dan memandangnya dengan penuh tanda tanya. Dalam pikiran Yora, kirain karena gara-gara tadi Ia menjawab Alin dengan nada jutek makanya Alin menangis.
Ada-ada aja kamu Yor memang kamu pikir Alin anak kecil jadi hanya bentak sedikit saja menangis.
Yora mendekati Alin dan memeluknya berniat mau minta maaf. Karena Yora gak mau ada kesalah paham di antara mereka.
"Lin maafin gua ya, sumpah gua tadi hanya bercanda loh gua gak bermaksud bentak lo sampai lo nangis begini maafin gua ya, lagian lo kayak gak tahu gua aja masa hanya bentak lo menangis kejer gini hehehe" Alin mendongak kepalanya dan menatap Yora dengan tatapan binggung apa maksud Yora tadi.
"Yor, maksud lo apa? memangnya lo pikir gua anak kecil sehingga di bentak sedikit saja gua menanggis, gua tahu kok lo bercanda gua hanya sedih Yor lihat foto papa Donal yang di kirim sama bibik, rasanya hati ini sakit sekali Yor melihatnya berbaring di lemas dipenuhi oleh banyak alat ditubuhnya"
Yora yang mendengar penjelasan Alin merasa bersalah karena sudah menuduh Alin tersinggung dengan perkataannya tadi makanya Alin menangis ternyata, bukan karena itu melainkan Alin sedih karena melihat foto pak Donal.
__ADS_1
"Sabar ya Lin, gua yakin papa Donal cepat sembuh, lo harus kuat kalau lo lemah bagaimana lo bisa memberikan kekuatan kepada papa Donal untuk sembuh gimana sih, mana Alin yang dulu gua kenal tengar dan kuat menghadapi segala cobaan, lebih baik sekarang lo mandi biar segar agar pikiran lo juga kembali tenang. Ingat lo akan meeting jadi harus fokus nanti kalau lo pulang dari kantor kabarin gua biar kita sama-sama pergi ke rumah sakit gua juga mau jenguk papa Donal."
"Iya kakak ipar yang paling cantik dan bawel sedunia tapi juga baik, gua mandi dulu, panggil lah keempat orang itu untuk sarapan"
"Nanti aja lo selesai mandi baru kita sarapan bersama."
Alin langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri sedangkan Yora mengeringkan rambutnya dengan hair dryer setelah rambutnya sudah kering Yora mulai mengolesi cream ke wajahnya sebelum pakek make up.
Yora dengan Alin sama, tidak suka dengan make up menor mereka lebih suka natural apalagi tanpa make up pun mereka berdua sudah cantik tapi biar tidak kelihatan pucat. Jadi di oleh sedikit make up agar terlihat rapi.
Yora make up tidak butuh waktu lama selesai dan langsung membuka lemari untuk mencari pakian kantor yang cocok untuk di pakek, Yora menjatuhkan pilihannya di blazer dan celananya berwarna merah.
Akhirnya Yora ganti pakiannya tak selang lama Alin keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan fres membuat Yora tersenyum.
"Ah kakak ipar bisa saja, mana ada tadi kucel wajah gua nih mau bagaimana pun tetap cantik gak perna kucel. Karena memang sudah cantik dari lahir hehhe"
" Ya, ya...nyonya Devan, gua tahu nyonya Devan tak bisa di tandingi, kalau gak cantik mana mungkin Tuan Devan memilihnya menjadi nyonya hahaha, justru karena cantik luar dalam sehingga, Tuan Devan tetmrtarik"
Alin langsung duduk di meja riasnya dan merias wajahnya dengan make up tipis setelah itu ia bangkit dari duduknya dan gagas membuka lemari, Alin memilih rok hitam dengan baju kemeja, sesuai dengan style ia mengenakannya.
__ADS_1
"Kakak ipar tolong pangilkan mereka untuk sarapan kalau gak gua mau berangkat, nanti gua jemput kakak ipar ya, kalau gua cepat pulang, karena hari ini agak sedikit sebuk jadi belum tahu pulang jam berapa juga ini"
"Gak perlu Lin nanti gua aja yang mampir ke kantor lo, gapapa gua naik taksi aja soalnya mas Leo juga sibuk kerja, jadi gua nanti datang ke kantor lo baru kita sama-sama pergi ke rumah sakit. Tapi nanti lo tanya dulu sama Devan dan mas Leo jangan sampai mereka juga mau ikut, giliran kita sudah pergi baru mereka ikut"
"Ya makanya cobak panggil mereka datang kesini biar sarapan. Tapi tumben biasanya gak di panggil juga sudah nongol kok jam segini belum ada yang bergerak atau jangan-jangan mereka masih tidur lagi"
"Ah gak mungkin mereka masih tidur pasti sudah bangun tapi mereka menunggu kedua princess ini memanggil mereka."
Akhirnya Yora pergi memanggil keempat pria sejati itu karena Dimas dan Boby juga ikut sarapan gak memandang dia pengawal atau siapanya."
Tok tok tok....
"Mas makan atau kalian masih mau tidur silaksn saja tapi kamar kami mau kami kunci."
"Iya, maaih bersiap tunggu sebentar ya."
Setelah mereka sudah berkumpul akhirnya mereka sarapan bersama.
"Mas nanti sore mas ikut ke rumah sakit gak aku rencana mau pergi ke rumah sakit dengan calon kakak ipar, soalnya semalam aku gak ikut kesana"
__ADS_1
"Ikut sayang jangan pergi sendiri, takutnya kayak semalam lagi pas pulang mas harus ikut"
"Aku ikut juga nanti kita pergi bersama" akhirnya mereka bersepakat sore mereka berempat pergi kerumah sakit berarti Dimas dan Boby juga ikut