Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.

Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.
86:86 Rencana Liburan


__ADS_3

Keesokan harinya devan dan alin beserta boby, dimas dan leo bergegas ke kantor polisi, untuk memenuhi panggilan polisi untuk meminta keteragan tentang barang bukti yang ada, dan pembunuhan tentang bu laras dan eyang karena alin pengen bu ratna dengan saras cepat-cepat dapat hukuman, yang setimpal dengan perbuatan mereka.


"Mah, bun. Benaran gak mau ikut ke kantor polisi?"tanya alin karena pikirnya siapa tahu bu neska dan bu asta beruba pikiran, jadi mereka mau ikut ternyata sama saja mereka benar-benar gak mau ikut.


"Gak sayang bunda sama mamah, ada acara dengan teman-teman sudah janjin ketemu di mall, jadi sekitar jam sembilan mama dengan bunda juga mau keluar, kalian pergi aja nanti gimana hasilnya baru kabarin kami kita aja, soalnya rencana bunda dengan mamah akan pulang berapa hari lagi kasian papa sendirkan " ujar bu Asta.


"Ok ma, bund kalau begitu kami berangkat dulu ya, bunda dan mama kalau pergi hati-hati di jalan, yora juga gak ikut karena ada miting penting katanya, biasa kejar bonus untuk nikah nanti hahaahha", masa orang kaya kejar bonus ada-ada aja alin mah.


"Kamu ini ya sayang bercandanya itu loh, leo dengan yora itu anak mama sama bunda jadi kalau mereka menikah biar kita aja yang nanggung semua, mereka gak perlu pikirkan itu, mereka hanya mempersiapkan diri mereka saja."


"Alin bercanda aja bunda, lagian yora adalah sahabat baik alin, sekaligus ipar sedangkan kak leo adalah kaknya alin, mana mungkin alin biarkan mereka berusaha sendiri, bila perlu alin aja yang tanggung semua biaya, biar mereka menabung uang .dan siapkan tenanga mereka aja untuk bulan madu setelah menikah hahaha".


Semua orang ngakak melihat interaksi alin sangat lucu dan menyenangkan, karena memang dasarnya alin itu gadis yang ceria. Tapi kalau ia sudah marah ngeri juga.


Leo dengan devan yang berdiri tak jauh dari situ saling pandang dan mengelengkan kepala, melihat tingkah calon istri dan adiknya sendiri.


Devan yang dari tadi sudah menunggu alin, ia akhinya berbicara" sayang sampai kapan kita disini, atau kita gak jadi berangkat kaki kami sudah mau patah nih, karena nungguin ku yamg gak habisnya jahilin kak kamu, cobak lihay wajahnya sudah gak berbentuk hhaahha." ujar devab mengelu sedangkan leo hanya mengamgguk aja tanda setuju.


"Ck, pantas aja kalian berdua berjodoh suka sekali jahilin orang."

__ADS_1


"Astaga wajah kak ku yang ganteng ini kenapa dengan mukanya merah merona hahaha".


"Haahha maaf sayang, yuk kalau begitu kita berangkat bun, mah. Kami berangkat dulu" alin mencium pipi kiri dan kanan sang bunda dan mama mertu. Dan mereka berlalu pergi masuk kedalam lift dan turun kebawa, tak lama mereka keluar dari lift dan melangkah menuju ke mobil.


Saat tiba di mobil devan dengan sigap membuka pintu mobil untuk alin, setelah itu ia berputar dan masuk kedalam mobil, devan menghidupkan mesin mobil dan keluar dari area parkir aperteman


Mobil yang di tumpangi hanya dua orang, itu karena leo dengan mobil sendiri ia akan menjemput yora nanti, mereka melaju memenuhi jalan raya, saling bersaing dengan kendaraan lain yang ada yang berngkat ke aktivitas masing-masing.


"Sayang kalau nanti tante ratna dan saras jadi masuk penjara berarti butik ibu kamu gak ada yang kelolanya apa kamu gak berpikir untuk mengambil begitu,? ini kan saatnya kamu bertindak lebih jauh, asal itu tak membahayakan nyawa kamu, saya mendukung kamu."


"Itu yang saya pikirkan saat ini sayang, memang seharusnya sudah saatnya, apa yang menjadi hak saya sudah saya ambil, lagian butik itu ibu buat atas nama alin begitu juga rumah itu, kalau alin mau ambil sekarang juga bisa."


"Sayang, maaf kalau lancang boleh gak saya bicara sesuatu tapi kamu jangan marah ya yang"


" Ini soal rumah itu dan pak donal" ujar devan awalnya alin terlihat senyum namun setelah mendengar perkataan devan, tiba-tiba senyum itu hilang seketika di ganti dengan amarah, membuat devab seketika susa menelan selivenya.


"Mampus sepertinya alin marah, aduh kenapa mulut ini gak bisa di jaga sih, kalau benaran ia murka gimana ya?" devan merutuki kebod**han nya.


"Kenapa dengan rumah dan orang tua itu," tanya alin dengan nada yang kurang bersahabat.

__ADS_1


"Gak jadi deh sayang nanti aja soalnya kita juga harus memikirkan pemeriksaan saras dan tante ratna" akhirnya devan mengalihkan topiknya karena ia gak mau merusak mood alin.


Alin mendegus kesal melihat tingkah devan. Namun alin juga malas membahas hal itu jadi ia gak mau memperpanjang masalah.


"Ok lah kalau begitu"


"Sayang besok kan weekend dimana kalau kita pergi berlibur kebetulan ada mama dan bunda disini jugakan, leo dan yora sekalian kita ajak dimas dan boby. Kamu maunya ke mana?"


"Itu ide bangus sayang tapi aku pengen ke pulau yang terpencil yang memiliki wisata yang indah, dan juga air laut yang jerni tapi aku maunya kita libur entah satu minggu gitu biar perjalanan kita menyenangkan".


"Wah boleh juga tuh tapi kalau keluar daerah kita gak punya waktu banyak sayang, gimana kalau kali ini kita ke pantai aja."


"Hmmm boleh deh kalau begitu."


Akhirnya devan dan alin sepakat mereka pergi ke pantai aja, bersama dengan keluarga dan para pengawal.


Dalam perjalanan mereka ke kantor polisi tak memakan waktu lama hanya sekitar tiga puluh lima menit, akhirnya mobil yang di tumpangi devan dan alin berbelok masuk kedalam halaman kantor polisi, ternyata disana sudah ada dimas dan boby kalau leo baru juga nyampe, tapi yang membuat alin malas adalah ia melihat pak donal berdiri tak jauh dari situ.


pak donal membuang senyum ke alin tapi ia gak mau mendekat mungkin pak donal masih takut alin gak mau menerimanya, sekarang pak donal menyesal gak henti-hentinya ia juga merutuki kebodohannya yang dulu lebih percaya aama saras dan ratna kedua perempuan ular itu ketimbang anaknya sendiri.

__ADS_1


Setelah keluar dari mobil alin dan devan bergegas masuk sedangkan boby, dimas dan leo ngekor dari belakang, keempat laki-laki itu mereka masih bersalaman dengan pak donal, namun gak dengan alin langsung masuk begiti saja.


Ia tak menghiraukan keberadaan pak donal disitu karena menurut alin orang tuanya sudah mati jadi pak donal itu bukan siapa-siapa. Kasian juga sama pak donal namun mau bagaimana lagi nasih sudah jadi bubur, gak mungkin bubur kembali menjadi nasi


__ADS_2