Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.

Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.
24:24 Bukti Kuat


__ADS_3

Keesokan, harinya, dirumah devan, sudah bersiap untuk kebandara, begitu juga dengan alin. tinggal nunggu devan jemput, mereka berangkat bersama kebandara karena jam sembilan pesawat akan berangkat.


Dimeja makan, pak davin, beserta istri dan anaknya sarapan bersama, karena sebentar lagi devan akan berangkat, begitu juga dengan pak davin, yang akan berangkat ke kantor.


Mereka, makan dalam diam seperti biasanya, seusai makan, "Nak, papa mau ke kantor, jadi gak bisa antar kamu, papa hanya pesan, hati-hati kalian dijalan. Jangan lupa sampai disana kasih kabar, dan jangan lupa tolong bantu om kamu ya dan dimas untuk persiapan pesta, mama dan papa nanti nyusul".


Devan, diam mendengarkan pesan dari sang papa, sebelum menjawab. "Ya, pa, gapapa, doakan devan sampai tujuan dengan selamat, dan devan bantu om nanti, jadi pa, gak usa kuatir". Jawab devan sopan.


"Sayang, kamu, jemput alin kan?"


"Ya, ma, jemput aja sekalian ke bandara. "


" Kalau, gitu hati-hati nak, papa berangkat kekantor dulu."


Pak davin, beranjak dari duduknya dan hendak mengambil tas kantornya, "ma, papa, berangkat dulu. "seperti biasa sebelum berangkat pak davin kecup, kening istrinya, dan istrinya, mencium tangan suami.


"Hati-hati pa. "setelah kepergian pak davin, devan juga bersiap kerumah bu Nesta, menjemput alin.


"Ma, devan pamit ya, soalnya mau kerumah alin dulu, jemput nyonya besar baru ke bandara. Jawaban devan, membuat sang mama terkeke.


" Ya, udah, hati-hati kalian ya". Setelah itu devan langsung masuk kedalam mobil yang sudah di siapkan mereka menuju ke rumah alin.


Sedangkan, bu Asta jadi kesepian karena sendirian dirumah, biasanya yang bikin rame devan, tapi sekarang devan sudah dewasa jadi mencari jati dirinya sendiri.


Perjalanan menuju kerumah bu Nesta di tempuh sekitar tiga puluh menit, di tambah lagi masih pagi, jam kerja jadi lumayan macet.


Sekita tiga puluh menit akhirnya mereka sampai, ternyata alin juga sudah siap hanya menunggu jemputan.


Devan turun dari dalam mobil, "Sudah siap sayang?" tanya devan.


"Sudah dong."


"Bunda, alin, pamit ya, bunda jaga kesehatan,"pamit alin sembari berhambur kepelukan sang bunda.


"Ya, hati-hati sayang, devan, tante titip alin ya,"


" Ya tan, tante tenang aja saya selalu menjaga anak tante yang cantik ini, kami pamit ya tan. " Devan, membukakan pintu mobil untuk alin, setelah itu devan masuk dan mereka berangkat ke bandara.


Dalam, perjalan kebandara, dihiasi dengan canda tawa yang diciptakan oleh kedua sejoli itu, Namun tiba-tiba tawa mereka terhenti karena benda pipinya devan bunyi, sekilas devan melirik siapa yang menelponnya ternyata nama oliv yang muncul.


Tapi devan abai aja gak di angkat, hal itu mengundang perhatian alin, "loh kenapa gak di angkat"? Tanya alin heran.


"Biarin aja sayang, gak penting juga," jawab devan


"Kalau gak penting kenapa dari tadi bunyi terus, kalau gak mau angkat ya, sini bair aku yang angkat".perkataan alin sontak buat devan panik, takutnya kalau alin yang angkat bisa kacau.


"Ya, biar saya angkat,"

__ADS_1


Ckckck kenapa juga perempuan ini selalu merusak mood aku aja sih, "Hallo, ada apa," Tanya devan


"Devan, kamu dari mana aja sih, ditelpon dari tadi kagak angkat, kamu dimana sekarang,"?


"Aku, di jalan kebandara, kenapa sih kamu. nanya kaya polisi aja, menginterogasi penjahat"


"Yaudah tunggu disana ya aku nyusul kamu aku mau ikut kamu ke kota B.


" Liv, kamu gak usa ngaco deh, untuk apa cobak kamu kesana, maaf saya sudah mau berangkat, jadi kamu gak usa berharap aku menunggu kamu".


Devan langsung matiin telponnya dengan wajah yang di tekuk, karena dilihat oleh dimas mulai deh muncul jailnya


"Kenapa bos, muka di tekut gitu, kayak gak dikasih jatah setahun aja. Hehe


" gila lu mas, jangankan jatah sah aja belum.


"Lagian, muka ganteng, tapi gak beraturan gitu, "


"Sue, lu dimas, suka ngejek. Mau saya potong gaji lu."?


"Idiiihh, selalu aja gitu potong gaji, adalah ancaman mematikan.


Tiba-tiba terbesit, ide gila di otak devan, senyum tipis di bibirnya, "mas, lu mau gak, kalau saya naikan gaji lu, dua kali lipat. sontak buat dimas senangnya bukan main.


"Ha, benar nich bos".


"Syarat? syarat apa bos? jangan yang susa dong bos.


"Lah emang ku pikir ujian jadi susa".


"Ya kali",


"Syaratnya, juga keberuntungan buat lu kok,"


"Ah masasih"


"Ya, "


"Apa tuh bos".


"Dimana, kalau saya jodohin lu dengan perempuan itu, si oliv.


"Oalah, bos bos, gak usa bos naikin gaji saya, gapapa, karena kasih gratis juga gak bakal mau, hak sudi gue ma.


"Telah dari pada jadi bujang lapuk lu ".


Karena mereka asyik jail, satu sama lain jadi gak terasa sekarang sudah sampai di bandara. Dengan jarak ditempuh sekitar satu jam.

__ADS_1


Mereka bertiga turun, dan dimas keluarkan barang bawaan bosnya, dan nona mudanya dari dalam bagasi mobil, "Bos yuk kita langsung aja, karena pesawat sudah menunggu".


Mereka bertiga, melangkah masuk kedalam bandara, dan langsung masuk kedalaman jet pribadi milik keluarga Wibawa.


Terus semua urusan yang lain sudah di siapkan sama dimas. Jadi tinggal berangkat " Sayang, kalau kamu ngantuk, boleh istirahat sekarang, karena perjalanan kita masih panjang takut kamu kelelahan."


"Ya, sayang, besok juga rencana aku mau langsung masuk kantor, karena ada yang perlu aku bicarakan dengan boby. "


"Bicara apa, Tanya devan gak suka, apa lagi mengangkut ketemu dengan cowok."


" Soal kasus kecelakaan mama, kayaknya aku harus buka kembali kasus itu, dengan kematian eyang, aku mau tau siapa dalang dibalik itu semua."


"Sepertinya gak usa sayang".


"Kenapa? kalau kamu gak mau bantu gapapa, biar aja aku, yang cari tau sendiri tapi kamu gak usa ngelarang aku, apa lagi ini soal mama dan eyang, aku mau tumpas sampai akar". Ujar alin sedikit gak terimah dengan perkataan devan.


"Sayang, dengarin aku dulu, jagan salah paham, maksud saya, bukan gak mau bantu, tapi kamu gak usa susa-susa cari tau, bukankah aku sudah perna bilang kalau kamu duduk diam dan nonton."


Ya, tapi kalau gak kita selidiki, dari mana kita bisa tau siapa pelakunya, "


"Ok, kamu mau bukti sayang?"pertanyaan devan membuat alin hanya mengangguk aja.


"Dimas kasih buktinya".


Dimas" membuka tas ranselnya, dan mengeluarkan sebuah amplop, berwarna coklat dan menyerahkan ke devan.


"Ini bos".


"Ambil" titah devan ke alin, untuk mengambil amplop itu. Namun alin mengernyitkan dan berpikir.


"Apa ini."? tanya alin


"Buka aja dulu, biar tahu apa yang ada di dalam".


Alin, segera membuka amplop itu, dengan jantung berdebar. dan melihat isinya, betapa terkejutnya ia, melihat foto siapa yang ada didalam.


Dalam foto itu, bu ratna, dengan seorang laki-laki seumuran dimas duduk di sebuah caffe, dan dalam foto yang berbeda, laki-laki itu juga yang tertangkap cctv, pas ia berada di parkiran di mana mobil bu Laras terpakir, dan memotong rem mobilnya.


Bukan hanya itu, bahkan di tempat kecelakaan bu laras, terlihat jelas disana bu ratna beserta dengan laki-laki tersebut, agak jauh dari TKP.


Dan ada foto lain, dimana saras mendorong eyang dari tanggah. semua lengkap beserta dengan video dalam sebua flasdis, yang sekarang ada di tangan alin. yang sudah gemetaran menahan sesak di dada.


"Kurang ajar kau ratna, akan aku siksa kamu." Tiba-tiba alin histeris badannya ternguncang hebat degan mendekapnya dalam dada bidangnya dengan kuat.


" Tenang sayang, kamu tenang ya." dengan tenang devan menenangkan alin. bukan tanpa sebab alin menangis, alin berpikir selama ini mamanya meninggal karena murni kecelakaan bukan sabotase.


Kalau soal eyang alin sudah tau, dalangnya memang saras karena waktu itu sebelum alin di usir alin sudah terlebih dulu mengambil rekaman itu karena pikirnya pasti dia membutuhkan. dan ia sempat menitipkan ke bu dumi.

__ADS_1


__ADS_2