
Waktu terus berjalan, yang tadinya alin ngambek karena cemburu, devan telpon dengan seorang perempuan, dan bahkan perempuan itu nyatakan cintanya.
Sekarang alin sudah tenang dan ceria lagi, karena kerja keras bu Asta dan bu Neska yang dengan ekstra menjelaskan kepada alin, kalau devan jangan tanya lagi sudah ketakutan dia.
Tapi untung bantuan sang mama dan tante Neska, sekarang alin sudah gak marah lagi, karena tadi devan juga sudah jelaskan.
Sekarang sudah pukul empat sore, MUA sudah datang dari tadi. Dan mereka sekarang sibuk merias, karena jam enam mereka harus berangkat ke gedung kantor dimana acara di adakan.
"Ya ampun sayang kamu cantik bangat, mama sampai pangli lihat kamu, kayak bidadari turun dari langit, hmmm pantas aja anak mama, hampir gila gara-gara kamu hilang kontak dengannya, ternyata calon istrinya sangat sempurna sih". Pujian demi pujian bu Asta lontarkan ke calon mantunya.
Memang sih alin sangat cantik karena ia mewarisi kecantikan sang mama Larasati. Jadi gak heran kalau alin selalu di puji.
"Ya siapa dulu dong calon suaminya, gak kalah ganteng kan ma," duh devan main nimbrung aja gak mau kalah.
" Haha iya anak mama memang paling ganteng deh, benar gak sayang". Ujar Bu Asta dan mala balik tanya sama alin, namun alin hanya senyum.
Sejak tadi yora hanya diam aja, sekarang ikut bicara" ma, bunda, masih ada gak ya laki-laki sebaik dan setanpan devan, biar itu untuk ku, kasian aku belum punya pasangan". Ujar yora sambil nyengir kuda.
Sedangkan yang lain mala tertawa lepas, melihat tingkah konyol dan lucu yora, "Kamu tenang aja sayang, banyak teman bisnis bunda, nanti bunda kenalkan kamu dengan anak teman bunda ya, dia gak kalah tanpan kok".
"Ah maaf bunda, gak usa, soalnya kalau menikah tapi gak didasari dengan cinta, itu akan merusak rumah tangga nanti." ujar yora seketika membuat bu Asta dan bu Neska terkejut.
Gimana gak terkejut jawaban yora kali ini terlihat sangat bijak, gak seperti biasanya, asal bicara aja, "Iya kamu benar sayang, tapi bunda yakin kok kamu pasti menemukan pria idaman kamu."
"Amin" mereka semua kompak ucapin amin.
Sekarang semua sudah siap devan dengan jas berwana gold senada dengan gaun yang digunakan alin, "Wah, belum nikah aja udah semewa ini apa lagi nikah ya". Ujar yora nyeroco aja.
__ADS_1
Memang kalau di lihat alin dengan devan pasangan yang sangat serasi. Alin sekarang berdiri mematung didepan cermin ia gak menyangkah, ternyat dia sendiri pangli dengan penampilannya.
"Yuk semuanya sudah siap kan, kita berangkat sekarang, acara mulai jam tujuh takutnya macet". Ujar pak davin tiba-tiba sekarang pak davin juga gak kalah ganteng.
"Ok kita turun lah kebawa mobil sudah tersedia."
Mereka turun mengunakan lift dari tadi tangan alin tak lepas dari gengam devan, seolah takut kehilangan permatanya.
""Sayang hari kamu cantik sekali, aku lihat aja rasa-rasanya pengen ngurung kamu di kamar, tapi nanti aja kalau sudah sah. " ujar devan memuji kecantikan alin sekalian mengodanya
"Oh jadi hari ini aja aku cantik, tapi hari sebelumnya gak gitu." tanya alin pura-pura ngambek, membuat devan menelan selivenya.
"Duh, salah lagi, sayang maksud aku, hari-hari sebelumnya memang kamu cantik tapi hari ini sangat cantik."
Dan mereka sudah sampai di bawah ternyata mobil sudah terpakir di loby apartement.
" Sekarang kita pakai dua mobil jadi alin dengan devan satu mobil, terus kita berempat satu mobil, atau nak yora mau ikut satu mobil sama alin, tapi mama rasa gak usa sayang kasian nanti kamu jadi obat nyamuk menyaksikan kedua sejoli yang lagi bucin."
Akhirnya dengan keputusan yora ikut mobil pak davin, mereka masuk kedalaman mobil Masing-masing, yang sudah di kemudikan oleh sang sopir, kini mereka dalam perjalanan menuju ke tempat acara.
******
Sedsngkan di tempat lain" Ma, cepatan dikit napa sih, nanti acaranya mulai kita belum nyampe, padahal saras mau melihat cowok itu dari dekat kita harus nyampe lebih awal ma, biar kita dapat tempat duduk palin depan".
"Iya saras kamu nih, kenapa sih teriak-teriak dari tadi, lagian ini juga nasih jam enam, sedangkan acara mulai jam tuju. Sabar dikit napa." ujar bu Ratna emosi
"Ma, saras kalian berdua nih tak ada hari tanpa ribut, tidur ribut, bangun tidur ribut, mau pergi ribut, ribut aja terus sampai kalian capek." ujar pak donal berlalu pergi.
__ADS_1
"Humm kamu sih teriak terus makanya papa marah", ujar bu Ratna, yang di marahin mala cemberut.
"Jhovan datang jemput atau ketemu aja disana."
"Sebenarnya saras malas sih ma berangkat bareng jhovan, tapi mau gimana lagi ia bersikeras mau jemput saras, mungkin sebentar lagi nyampe."
Baru juga di omongin sudah terdengar kalkson dari luar"Itu sepertinya jhovan sudah datang deh ma, saras duluan ya." saras berlalu pergi meninggalkan bu ratna yang sudah siap dengan pak donal, mereka nyusul dari belakang.
Sekarang baik mobil jhovan maupun mobil pak donal beriringan keluar dari kompleks perumahan dan menuju ke tempat acara.
Sedangkan mobil yang di tumpangi devan, pak davin dan yang lain sudah dalam perjalanan menuju ke gedung, mereka menempuh jarak sekitar satu jam karena sekarang sudah sore jadi agak macet.
Akhirnya mobil mereka berbelok masuk kedalam parkiran gedung. Didepan gedung sudah banyak wartawan dan penjaga ketat karena pas wartawan melihat mobil devan beriringan masuk, semua awak media berkerumun, tapi sayang mereka belum bisa masuk karena di cegah oleh dimas dan juga boby.
Pak davin dan semua keluarga keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam lift, dan naik ke lantai delapan, karena acara ada di lantai delapan, setelah mereka sampai di dalan gedung ternyata sebagian tamu undangan sudah datang.
Akhirnya pak davin dan sang istri serta bu Neska, mereka pergi untuk cekrama dengan tamu, sedangkan devan yora dan juga alin mereka masuk ke dalam ruang khusus tapi ada pintu yang langsung terhubung ke gedung acara.
"Sayang nanti selama acara berlangsung kamu tetap disini, aku juga tetap disini nanti setelah aku di perkenalkan ke publik baru aku keluar."
"Terus aku disini sampai acara selesai". Tanya alin heran
"Gak sayang kamu pasti keluar setelah kamu di panggil pas acara pertunangan kita." ujar devan menjelaskan sedangakan alin hanya mengangguk mengerti.
sekarang jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam, semua para tamu undangan sudah hadir, dan sudah mengambil tempat duduk masing-masing dan terlihat jelas keluarga Adibrata dan keluar Arkan juga hadir.
segera pembawa acara naik ke atas panggung dan mulai berama tama sebelum acara puncak.
__ADS_1
Selamat malam para tamu undangan yang terhormat, dan selamat datang, kita tahu bahwa hari ini adalah hari yang paling spesial bagi keluarga besar Wibawa gimana, hari ini tepat dua puluh lima tahun, ulang tahun perusahaan Wibawa grup.
Jadi saatnya saya persilakan Tuan Daun Wijawa beserta Nyonya Asta naik ke atas panggung untuk menyampaikan ucapan rasa syukur.