
Bu Anita tercengang mendengar perkataan Jhovan, bu Anita tidak percaya kalau ternyata Jhovan bisa meluapkan emosinya dan melampiaskan amarnya kepadanya, walaupun begitu ibu Anita menyadari semua kesalahannya jadi tidak menjawab apa-apa. Ibu Anita takut kalau sanpai emosi Jhovan tidak terkontrol bisa terjadi sesuatu jadi jalan satu-satunya ya harus dia dan tidak perlu menanggapi toh memang bu Anita yang salah.
"Nak sudahlah kamu juga salah karena tidak mau mendengar nasihat papi waktu itu, cobak kamu tidak mengikuti semua perkataan mami kamu pasti sekarang kamu sudah bahagia dengan Alin, tapi kamu juga yang nurut apa kata mami kamu jadi jangan saling menyalakan satu sama lain, semua sudah terjadi jadi lebih baik kamu terimah saja. Ini bukan waktunya saling menyalakan, sini biar papi obati luka kamu jangan sampai makin parah ingat Alin sudah punya suami jadi biar kamu bisa cari lain" ujar pak Roy meminta Jhovan dan bu Anita untuk berhenti saling menyalakan satu sama lain.
"Makasih pih atas perhatiannya tapi tidak perlu, Jhovan bisa obati sendiri luka-luka Jhovan,sekarang papi tolong bawah mami keluar dari sini karena Jhovan mau sendirian, Jhovan tidak ingin di nganggu makin pusing kepala Jhovan" ujar Jhovan.
"Jhov kamu harus ingat masih banyak wanita cantik diluar sana yang nganti ingin menjadi istri kamu, jadi untuk apa kamu mikirin wanita yang sudah punya suami" ujar bu Anita membua Jhovan makin emosi.
"Mih.....! Bisa tidakkeluar dari sini, mami bilang banyak cewek yang ngantri di luar sana mami tahu tidak cewek-cewek itu tidak ada yang berkualitas karena mereka mendekati Jhovan bukan karena Cinta melainkan karena harta, jadi sekarang mami pikir cewek siapa lagi yang masih mau dengan Jhovan kalau kondisi sekarang sudah begini, mami kadang ngomong sesuatu itu tidak mikir."ujar Jhovan.
__ADS_1
"Bu cukup...jangan membuat suasana makin jacau deh, memang benar yang di katakan Jhovan kok, lebih baik kita keluar saja dari sini dari pada ibu bikin anak ini makin emosi" ujar pak Roy.
Pak Roy menarik tangan bu Anita dan terpaksa keluar dari kamar Jhovan, sebenarnya bu Anita berat untuk keluar dari kamar tapi karena bu Anita takut Jhovan marah akhirnya bu Anita ikut keluar. Dasar orang tua egois sudah salah bukannya diam justru makin menjadi padahal masalah berawal darinya.
Tinggalah Jhovan didalam kamar yang pintunya sudah rusak, Jhovan kembali membuka hp dan melihat foto yang di ambilnya pas Alin senyum bahagia, hati Jhovan benar-benar hancur. Jhovan membagangkan seandainya dia yang ada di posisi Devan pasti sangat bahagia.
"Lin maafin aku ya dulu aku begitu jahat sama kamu, benar kata kamu aku akan menyesal telah menyakitimu. Sekarang baru aku menyadari jika aku pria yang paling bodoh sedunia yang sudah menyakiti hati wanita sebaik kamu dan aku memilih sampah yang pada akhirnya membuat ku hancur, pastinya aku tidak akan bisa bersama kamu lagi. Aku tidak sanggup bersaing dengan suami mu, tapi aku hanya ingin kita kembali berteman baik aku cukup selalu ada di samping kamu sebagai teman saja sudah lebih dari cukup jujur aku sangat menyesal.
Sedangkan bu Anita dan pak Roy duduk di ruang tengah....namun belum ada percakapan di antara mereka, masih diam membisuh hampir lima belas menit akhirnya pak Roy mulai bicara, bagi pak Roy ini saatnya untuk berikan nasihat kepada istrinya ini karena memang dari dulu bu Anita bukan istri yang baik sejak mengenal bu Ratna, tidak sekali pun nurut apa kata suami dan selalu mendoktrin Jhovan dengan ajaran yang tidak bagus, makanya apa yang di tabur bu Anita sekarang di tuainya.
__ADS_1
"Bu....sudah puas ibu menghancurkan kehidupan Jhovan? sekarang ibu lihat sendiri bukan seperti apa hancurnya hatinya itu saat melihat Alin menikah, sedangkan wanita yang ibu sanjung dan wanita pilihan ibu sekarang mendekam di penjara sekarang apa yang mau ibu katakan lagi masih mau ibu membela diri, bahwa semua ini bukan salah ibu tapi salah papa atau salah Alin? Bu, Jhovan itu sudah Dewasa jadi tidak perlu ibu mengatur kehidupannya, apa yang di katakan Jhovan itu benar bahwa tidak ada seorang gadis pun yang lebih baik dari pada Alin, kalau memang ada kenapa Tuan muda Devan mau memilih Alin keyimbang wanita lain.
Itu artinya Tuan muda Devan dan orang Tuanya bijak mereka tahu mana gadis yang berkualitas dan mana yang tidak, jadi ibu jangan tersinggung dengan perkataan Jhovan bu sekarang ibu bukan hanya ada anak durhaka terhadap orang tua nya melainkan ada juga orang tua yang durhaka, kepada anaknya, sampai kehidupan anaknya hancur karena ula orang tuanya sendiri, jadi ibu jangan merasa paling benar."
"Pah...ibu hanya ingin mencarikan Jhovan seorang gadis yang baik untuknya tidak lebih, makanya ibu memilih Saras tapi semua sudah selesai juga jadi untuk apa di bahas lagi biarkan saja dia disini menangisi perempuan itu, kayak tidak ada perempuan lain aja" ujar bu Anita tidak mau kalah, karena pak Roy malas berdebat dengan bu Anita pak Roy bangkit dari duduknya dan gegas ke kamar untuk istirahat karena sudah tengah malam.
Sedangkan tinggal bu Anita yang berencana besok kembali ke lapas untuk ketemu dengan ibu Ratna dan Saras, bu Anita ingin memberikan pelajaran kepada kedua perempuan licik itu. Ibu Anita juga tidak terimah di salahin sama Jhovan dan suaminya.
"Ini semua gara-gara kalian berdua juga lihat saja besok aku akan memberikan pelajaran kepada kalian berdua biar tahu rasa, aku tidak terimah di ginikan sama suami dan anak ku, aku menyesal ikut kerja sama dengan penjahat seperti kalian berdua."gumam bu Anita.
__ADS_1
Bu Anita bangkit dari duduknya dan hendak ke kamar namun sayang saat bu Anita membuka pintu kamar ternyata terkunci dari dalam , membuat bu Anita terkejut karena baru kali ini suaminya berani mengunci pintu sampai biarkannya tidur di luar, karena selama ini apapun masalah mereka selalu di selesaikan dengan baik.
"Pah...buka pintunya kenapa sih pakek kunci pintu segalah, ibu mau istirahat loh ini sudah malam ibu ngantuk pah tolong buka pintunya" teriak bu Anita tapi sama saja parcuma berteriak pak Roy sama sekali tidak mau membuka pintu kamat untuk bu Anita, hal itu membuat bh Anita sangat sedih karena baru kali ini pak Roy memperlakukannya begini