Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.

Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.
119


__ADS_3

Tuan Davin hanya tertawa melihat istrinya dengan serius menangapi setiap candaannya. Padahal itu Tuan Davin hanya iseng jailin istrinya. Tapi justru nyonya Asta menangapi dengan serius.


" Mah....kalau mama gak mau melahirkan lagi bagaimana kalau kita adopsi anak lagi tapi cewek biar bisa menemani mama di rumah kalau memang Devan tidak mau pulang ke sini tidak masalah dari pada mama sendirian di rumah dan kesepian, lagian mama kan banyak teman sosialati dan teman arisan bisa dong mama kamana saja mama mau yang penting ingat pulang saja"


Bu Asta hanya mengelengkan kepala saat mendengar Tuan Davin mau adopsi anak lagi menurut nyonya Asta tidak perlu, karena takut nanti setelah mereka meninggal harta peninggalan mereka jadi rebutan anak kandung dengan anak angkat jadi biar saja Devan sendiri kalau nanti Devan punya anak baru salah satu cucunya tinggal sama mereka saja.


"Gak pah kalau soal itu ibu sama sekali gak setuju biar Devan ssndiri saja, mama gak mau adopsi anak lagi"


"Memangnya kenapa mah? bukankah itu lebih bagus biar Devan punya adik lagi dan bantu mengurus bisnis yang ada" Tuan Davin binggung kenapa istrinya gak mau.


"Papa mau tahu apa alasan mama gak mau adopsi anak lagi? Karena mama gak mau nanti kedepannya terjadi kesalahan antara Devan dan adik angkatnya, kalau kita sudah meninggal terus mereka memperebutkan harta peninggalan kita bagaimana? jadi biar saja tidak perlu. Kalau untung mereka bisa berdamai tidak masalah tapi kalau sampai ada korban jiwa siapa yang mau tanggung jawab, jadi mama gak mau hal itu terjadi lebih baik kita mencegah sebelum semuanya terjadi"


Ada benarnya juga apa yang di katakan nyonya Asta sehingga Tuan Davin hanya mangut-mangut tanda mengerti.


"Mah...papa mau berangkat dulu ya kekantor ada pekerjaan yang harus papa selesaikan nanti kalau mama pergi biarkan sopir antar mama saja jangan lupa sama pengawal"


"Iya pah kalau begitu hati-hati dijalan, mama mau ketemu dengan teman Arisan dulu baru pergi cek butik, mama juga rencana mau ketemu dengan mbak Neska juga tapi belum pasti."


Tuan Davin dan nyonya Asta bangkit dari duduk mereka dan gegas keluar seperti biasa nyonya Asta harus antar sang suami sampai di pintu setelah Tuan Davin pergi baru nyonya Asta masuk.


"Hati-hati pah"


"Iya mah"


Tuan Davin masuk kedalam mobil dan berlalu pergi sedangkan nyonya Asta yang di tinggal sendiri gegas masuk kedalam rumah dan kembali duduk di sofa.

__ADS_1


Nyonya Asta memikirkan cara agar Devan dan Alin mau tinggal di kota A kasian juga Tuan Davin dan nyonya Asta.


"Bagaimana caranya ambil hati Alin ya biar dia mau ikut kesini, aku sebagai ibu juga gak bisa egois hanya mementingkan diri sendiri sedangkan mereka gak. Ah nanti saja aku memikirkan itu aku mau pergi dulu takutnya terlambat."


Nyonya Asta langsung mengambil tasnya dan keluar dari rumah.


"Pak kita ke mall ya seperti biasa, saya mau ketemu dengan teman-teman disana"


"Baik nyonya"


Pak sopir langsung menghidupkan mobil dan keluar dari pekarangan rumah dan berlalu pergi membelah hiruk pikuk jalan raya, banyak kendaraan yang lalu lalang di jalan raya mereka berlomba untuk pergi ke tempat kerja begitu juga dengan nyonya Asta sepanjang jalan ia berusaha menghubungi bunda Neska tapi sayang gak di angkat membuat nyonya Asta kesal.


"Astaga kemana sih mbak Neska susa banget di hubungi deh...padahal mau ketemu dengannya juga. Ya Allah kenapa aku jadi pikun begini sih bukannya aku mau pergi arisan kan mbak Neska juga ikut." Nyonya Asta memukul testanya.


Sedangkan di kediaman nyonya Neska baru selesai mandi dan keluar dari kamar mandi pas mendengar hpnya berdering tapi nyonya Neska tidak menghiraukan, karena sudah terlambat ia buru-buru mau ikut arisan karena hp bunya terus makanya nyonya Neska mengerutu.


Nyonya Neska benar-benar abaikan telpon dari nyonya Asta. Setelah nyonya Neska selesai bersiap langsung masuk kedalam mobil dan berlalu pergi sebelum itu nyonya Neska sudah beritahu sopir tujuannya kemana.


Nyonya Neska kembali teringat dengan panggilan telpon tadi sehingga ia memeriksa hpnya, ternyata telpon dari nyonya Asta sebayak lima kali membuat nyonya Neska menaikan kedua alisnya binggung.


"Telpon dari Asta' Ada perlu penting apa ya telpon sebanyak ini sepertinya penting kali makanya tidak sabar menunggu sampai ketemu, atau jangan-jangan dia justru lupa kalau aku ikut arisan juga.


Nyonya Neska kembali menghubungi nyonya Asta dan langsung di angkat.


"Hallo, Ta. Kamu kenapa nelpon aku sebanyak ini ada hal penting apa yang mau kamu sampaikan sehinggal kamu tidak sabar menunggu kita ketemu di arisan"

__ADS_1


"Hehehe maaf mbak aku lupa kalau mbak juga ikut arisan hari ini, pengen aja ketemu mau ngobrol soal pernikahan Devan dan Alin kan sebentar lagi"


"Oh ya sudah nanti kita ketemu disana atau nanti setelah selesai arisan saja kita bicarakan di tempat lain saja"


Akhirnya nyonya Neska mengakhiri panggilannya dan membuang nafas dengan kasar.


"Kirain mau bicara apa ternyata lupa kalau aku ikut arisan sial si Asta, benar-benar deh."


Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi nyonya Neska sampai di mall berarti nyonya Asta pasti sudah sampai juga. Nyonya Neska keluar dari mobil dan hendak masuk kedalam mobil langkahnya terhenti saat ada yang memanggilnya.


"Jeng Neska...."? Nyonya Neska menoleh dan mendapati satu teman arisannya berjalan mendekatinya. membuat nyonya Neska tersenyum manis.


"Hay, Jeng Yeti. Baru datang juga aku pikir hanya aku yang terlambat."


"Ah gak juga Jeng masih ada kayaknya belum datang, yuk kita masuk, mungkin sebagian sudah datang"


Nyonya Neska dan teman yang bernama Yeti itu gegas masuk kedalam mall dan langsung menuju ke tempat yang sudah di sewah untuk mereka berkumpul.


"Nah aku bilang apa Jeng, tuh sudah Ada jeng Asta dan yang lain"


Nyonya Neska dan temannya mendekati teman-temsn yang sudah terlebih dulu nyampe dan saling menyapa satu sama lain.


"Hallo semuanya sudah lama ya maaf kami terlambat"


"Ah belum juga jeng santai saja lagian yang lain juga belum pada datang semua, hanya kita bertujuh yang sampai duluan"

__ADS_1


Mereka berlima duduk menunggu teman arisan yang belum datang sambil ngobrol dan saling menanyakan bisni masing-masing tidak ada iri atau julid di antara mereka ini yang namanya wanita kaya sesunggunya.


__ADS_2