Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.

Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.
30:30 Isi Dalam Peti


__ADS_3

Saras dan sang mama, sepanjang perjalanan pulang ke rumah dengan hati uring-uringan, karena keinginannya ke salon tak tercapai.


Namun berbedah dengan alin dan devan, dimana yang sepanjang perjalanan kekantor, mereka berdau hidup penuh dengan canda dan tawa. Kenapa tidak, mereka sendiri yang menyaksikan, seperti apa ekspresi wajah ratna dan saras, saat di larang masuk kedalam salon.


Ya jadi tadi, waktu saras melihat mobil alin, di lampu merah, ternyata alin juga satu arah dengan mereka tujannya juga sama kesalon, tapi karena bu ratna kala cepat sehingga alin yang duluan.


Jadi pas ratna dan saras berdebat dengan mbak, salon, devan dan alin berdiri tak jauh dari situ juga, dan menyaksikan langsung perdebatan itu.


"Sayang dimana tontonan drama tadi, seru gak lihat, kedua perempuan ular itu, kalau aku sih senang bangat, karena aku tau maksud dan tujuan mereka kesalon.


Bisa jadi mereka sengaja perawatan, biar pas pesta bisa menarik perhatian putra tunggal tuan devin". ucap alin terkeke karena berhasil mengoda devan. Membuat devan cemberut.


"Saya bukan laki-laki gampangan sayang, jadi asal comot gitu, untuk apa cari cewek gak jelas sedangkan sih cantik sudah di sampingku."


"Sayang, besok kita jemput mama, papa dan bunda ya, sepertinya mereka nyampe pagi. Soalnya mama semalam bilang mereka cepat datang agar kalian langsung ke salon, jangan lupa ngajak Yora ya sayang".


"Iya sayang, nanti saya sampaikan ke yora, Oh, ya sayang, hari ini sibuk gak di kantor. Kalau gak sibuk, saya boleh minta tolong, kita mampir dulu ke suatu tempat, ada hal penting yang mau saya ambil, itupun kalau sayang bisa."


" Bisa dong sayang, apa cobak yang gak bisa buat kamu, apapun permintaan kamu, aku akan kabulkan asal satu yang gak bisa saya kabulkan".


"Apa itu sayang"


"Lirik laki-laki lain apa lagi mau ganti laki. "


"Hahaha, Astaga sayang, kamu kok lucu bangat sih, siapa juga mau ganti calon, sedangkan yang di samping sudah sempurna dari segi manapun. Dan bahkan banyak perempuan diluar sana yang berusaha mendapatkannya, hanya perempuan bod*h yang mau cari calon baru, ."


"Makasih, ya sayang, saya takut kalau nanti kamu tertarik dengan laki-laki lain." Ya ampun, bucin bangat sih devan. Masih ada stok gak ya laki-laki seperti devan.


" Yaudah kita kemana sayang, dari tadi gak bilang alamatnya, terus kita mutar-mutar disini aja," ucap devan membuat alin tepuk jidatnya.


Sesudah alin beritahu alamatnya, devan melajukan mobilnya ke tujuannya, perjalanan yang di tempuh sekitar tiga puluh menit akhirnya mobil berhenti disebuah pondok.


"Sayang ini tempat siapa, kenapa kita kesini. " tanya devan binggung karena memang selama ini alin gak perna cerita ke devan soal bik sumi.

__ADS_1


"Makanya turun dulu sayang, biar sayang, tau ini tempat siapa, tapi kalau kita di dalam mobil terus kapan kita ketemu dengan orangnya."


Mereka berdua turun dari mobil dan melangkah masuk ke dalam halaman pondok itu. mata devab menelisik ke semua arah, Karena biarpun hanya pondok tapi asri dan ditata dengan rapi.


" Sayang ini tempat siapa rapi bangat loh, asri lagi. "


"Nanti juga sayang tahu, tapi yang pastinya dia orang yang penting bagiku sayang". Devan hanya mengangguk aja.


Tok tok tok!!


Klek.


Tak lama pintu terbuka, dan muncul seorang perempuan paru baya dengan wajah sumringan, "Non alin, pekik perempuan tersebut dan mempersilakan alin dan devan masuk , Non jangan berdiri di luar, maaf tempat bibi seperti ini."


Alin masuk diikuti devan dari belakang tapi devan diam aja masih nyimak, "non bibi kangen sama non boleh peluk", alin langsung berhambur kepelukan bibik sumi.


"Alin juga kangen bik, " mereka berdua melepaskan pelukan dan mempersilahkan duduk, sedangkan bik sumi ke dapur untuk buatin minum.


Tak lama bik sumi kembali dengan tiga gelas teh dan juga cemilan, "non, den hanya ini yang bik sumi sungukan, maaf ya non, den".


" Bik, maaf kedatangan kami kesini sangat mendadak, gak saya beritahu bibik dulu, saya datang, kesini mau ambil itu bik saya mau buka dan lihat apa isinya".


Bik sumi langsung ngerti, ia bangun dari duduknya, dan masuk ke kamar, selang berapa menit bik sumi, keluar dan di tangannya terdapat kotak seperti peti kelihatannya sudah agak pudar warnanya.


Bik sumi langsung letakan barang itu di atas meja kayu, "silakan non di buka dulu sebelum di bawa, karena selama barang ini di tangan bik dumi, tak pernah sekalipun bik dumi buka, karena itu bukan hak bibik, takutnya ada yang kurang". ujar bik dumi menjelaskan


"Gak bik saya sangat percaya sama bibik, tapi memang saya harus bukanya disini, karena selama ini bibik pun belum tau apa isinya, jadi biar kita semua lihat."


Alin, mengambil kunci dari dalam tas, dan membuka peti itu, ternyata didalam peti itu isinya semua emas bu laras, dengan beberapa surat, dan ada yang gak kala penting yaitu sebuah flesdis.


Bik sumi yang melihat isi peti itu tercengang, kerana selama ini bik sumi sendiri tak tau apa isinya."


Ya ampun non, itu semua emas nyonya laras dan surat-surat itu sepertinya surat penting non," ujar bik sumi

__ADS_1


"Iya bik, bibik benar surat-surat ini, sepertinya sangat penting, makanya mami simpan didalam sini, tapi nanti aja saya lihat. Oh, ya bik dari tadi sibuk jadi saya lupa, perkenalkan kalau ini calon saya bik."


" Ya ampun non, ganteng bangat calon non. Selamat ya non semoga nona bahagia, bibik juga ikut bahagia walaupun bibik sudah gak tinggal sama non lagi, tapi bibik selalu doain non alin".


"Kata siapa bibik gak tinggal sama alin, bik tetap tinggal sama alin tapi tunggu alin nikah dulu. Sementara waktu bibik disini masih aman".


Perkataan alin sontak membuat bik sumi kaget, dan menitikan air mata, gak percaya kalau nona kecilnya itu masih mau menampungnya, di rumahnya kalau sudah menikah.


" Aduh non, hati kamu mulia sekali, bik bukan siapa-siapa aja masih mau menampung bik,"


" Bik jangan bicara begitu, selama ini saya sudah menganggap bibik, sebagai keluarga saya sendiri, karena selama mami gak ada, bibik, lah yang selalu perhatikan alin."


"Makasih, ya non, sudah berbaik hati sama bibik, selama ini, ucap bi sumi dengan tulus.


" Sudah Bik, kami pamit dulu nanti, alin kesini lagi, yang penting bibik jaga kesehatan kalau ada apa apa, bibik tinggal hubungi alin ya."


Alin sudah bersiap untuk bangun dari duduknya, namun di tahan sama devan, "sayang kamu tunggu disini dulu sebentar".


"Memang kamu mau kemana lagi sayang, "teriakan alin sudah tak di gubris sama devan karena, sudah berlalu keluar dari pondok bu dumi.


Devan, bagun dan keluar menuju ke mobil, dan tak lama devan masuk kembali namun, di tangannya ada amplop warna coklat, ia menyodorkan ke tangan bibik. "Bik, ini sedikit rejeki untuk bibik, beli apa yang bibik mau dan bibik jaga kesehatan ya".


" Aduh den, gak usa repit-repot bibik hak bisa menerima itu, bibik bantu non alin dengan iklas, jadi bik gak mau." bik sumi menolak tapi bukan devan namanya kalu gak bisa melulukan hati bik sumi."


"Bik kalau gak mau terimah, alin gak mau kesini lagi, karena kalau alin kesini merasa merepotkan bik sumi, jadi kalau bibik terimah berarti bik sumi juga masih mau alin kesini."


"Dan akhirnya bik sumi menerima amplop itu, kalau gitu kami pamit ya bik,"


" Hati-hati non dan den".


Bik sumi antar alin dan devan, sampai di halaman rumah, mereka masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat bik sumi, bik sumi masuk dan tutup pintu.


Dalam perjalanan pulang devan, dengan alin, bahas tentang barang yang ada di peti tadi, alin bilang kalau gak salah surat-surat sepertinya sertifikat, tapi alin juga belum tau sertifikat apa.

__ADS_1


Karena sebelum sang mami meninggal, ia sempat berpesan, kalau nanti alin umur dua puluh tahun baru buka peti itu, tapi sayangnya belum sampai dua puluh tahun, ia sudah terusir dari rumah, namun sebelum alin pergi, ia sudah berpesan pada bik sumi agar jika suatu saat bik sumi pergi dari rumah itu tolong bawa peti itu.


Dan bik sumi ternyata mengindahkan pesan alin. Dan membawa peti itu pergi.


__ADS_2