
Pak Roi dan bu Anita belum tahu maksud dan tujuan Jhovan tiba-tiba ingin membuka usaha, dan sampai rela menjual mobil padahal sebelum itu sudah berulang kali pak Roi dan bu Anita menyuruh Jhovan untuk melanjutkan bisnis restoran mereka yang masih tertinggal, tapi justru Jhovan sama sekali tidak mau dan bahkan hanya karena itu Jhovan melawan pak Roi dan bu Anita , makanya saat Jhovan mengatakan jika ia ingin membuka usaha pak Roi dan bu Anita terkerjut.
Namun Jhovan santai saja karena Jhovan tahu sebentar lagi pasti ada perdebatan kembali terjadi di antara mereka bertiga, antara ayahnya tidak setujuh atau ibunya atau bisa jadi dua-duanya tidak setujuh, Jhovan sudah siap dengan berbagai cara untuk menghadapi kedua orang tuanya.
"Jho, apa yang mau kamu bicarakan, bukanya tadi kamu bilang mau bicarakan sesuatu dengan ayah dan ibu kok kamu mala diam sih, kalau kamu tidak mau bicara ayah mau pergi" ujar pak Roi.
"Iya nak apa yang mau kamu bicarakan bicaralah sekarang ayah kamu mau ke restoran, atau kamu juga mau ikut ayah kamu untuk bantu di restoran juga." Sambung bu Anita.
"Begini ayah, ibu. Kenapa Jhovan mau bukan usaha sendiri karena ada alasannya ayah, ibu." ujar Jhovan
"Alasan maksud kamu apa Jhovan? jangan ane-ane deh nak cukup hidup kita susa seperti sekarang karena ula kamu" ujar pak Roi.
"Iya jadi begini ayah, ibu. Jhovan rencana mau rawat anak Jhovan sehingga Jhovan harus ada penghasilan sendiri untuk bisa membahagiakan anak Jhovan ayah, ibu." Bu Anita dan pak Roi tercengang mendengar perkataan Jhovan, mereka heran kenapa Jhovan berkata seperti itu menikah saja belum terus dari mana Jhovan punya anak.
"Anak?.....anak apa maksud kamu Jhovan? Bagaimana kamu punya anak sedangkan kamu saja belum menikah? dan kalau memang kamu sudah punya anak mana anak itu dan ibunya? bawah mereka kesini perkenalkan ke ayah dan ibu kamu. Kenapa justru kamu sembunyikan"? sambung pak Roi emosi.
__ADS_1
Biarpun kedua orang tuanya emosi tapi Jhovan tetap tenang, biasanya Jhovan langsung marah kali ini justru Jhovan sangat tenang Jhovan tidak mau ikut emosi seperti kedua orang tuannya.
"Jadi begini ayah, ibu, tadi Jhovan keluar itu kareba Jhovan dapat telpon dari Saras" ujar Jhovan belum selesai langsung di sambung oleh kedua orang tuannya.
"Saras...? Maksud kamu perempuan pembunuh itu Jhovan.?..jadi selama ini diam-diam kamu masih berhubungan dengan perempuan pembawah sial itu ha, kamu tahukan semua gara-gara dia sehingga hidup kita jadi seperti ini dan sekarang kamu masih mau pergi hubungan dengan dia."
"Ayah, ibu tenang dulu Jhovan belum selesai bicara, tunggu Jhovan selesai jelaskan dulu baru ayah dan ibu bicara biar jangan salah paham semenjak kita datang ke rumahnya waktu itu Jhovan tidak perna berhubungan dengannya yah, ibu. Terakhir kali Jhovan ketemu dengannya waktu sidang putusan dari pengadilan dan semenjak itu Jhovan tidak perna pergi menjenguknya bahkan Jhovan juga sama sekali tidak menghubunginya" ujar Jhovan.
"Terus kenapa tadi kamu sebut namanya" tanya kedua orang tua Jhovan hampir bersamaan.
"Tadi tiba-tiba saras telpon Jhovan bu, yah." Jhovan mulai jelaskan semua kepada kedua orang tuanya mengenai kondisi Saras ,dan ternyata selama ini Saras mengandung anak Jhovan tapi Saras tidak mau meberitahu Jhovan.
"Begitu bu, yah ceritanya."
"Apa....perempuan itu hamil anak kamu....? Kamu percaya kalau memang itu anak kamu Jhovan, siapa tahu dia tidak mau kamu menikah dengan perempuan lain makanya dia sengaja begitu agar kamu tidak menikah" ujar bu Anita.
__ADS_1
"Ibu, bukannya Jhovan mau membelah Saras tapi Jhovan yakin anak yang di kandung Saras adalah anak kandung Jhovan bu, kalau soal Saras yang ingin merembut kembali hati Jhovan untuk kembali dengannya itu tidak mungkin bu, karena Saras saja menyuruh Jhovan untuk mencari ibu sambung untuk anak Jhovan nanti karena Saras tidak mungkin kembali sama Jhovan.
Dia hanya meminta Jhovan untuk merawat anak itu dan mendidiknya menjadi anak yang baik dan jangan mengikuti jejak buruk dia itu bu, kalau dia mau kembali dengan Jhovan tidak mungkin dia bicara begitu ibu. Tidak masalah jhovan buruk menjadi seorang suami tapi Jhovan tidak mau buruk menjadi seorang ayah."
Bu Anita dan pak Roi menghela napas mereka, karena tidak tahu mau bicara apalagi kalau memang itu benaran anak Jhovan tidak mungkin mereka menolak anak itu. Tapi mereka juga tidak percaya begitu saja dengan pengakuan Saras jadi pak Roi dan bu Anita rencana mereka diam-diam datang kenjungi Saras di lapas.
"Kalau sekarang ibu belum menerima kalau anak itu adalah anak kamu, harus ada bukti baru ibu mau merawat anak itu karena kamu tahu sendiri seperti apa kelicikan Saras dulu, dia bisa menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya. Bisa jadi apa yang dia lakukan sekarang hanya modus juga untuk kembali menarik simpati kamu, ibu mau nanti setelah anak itu lahir kita harus tes DNA kalau tidak jangan coba-coba bawah anak itu kerumah." ujar bu Anita.
"Iya ayah juga, sependapat dengan ibu kamu Jhovan, kita harus tes DNA untuk memastikan apakah dia benaran anak kamu atau bukan, kalau memang itu benaran anak kamu pasti sih Saras tidak keberatan dong untuk di minta tes DNA, takutnya kamu merawat anak orang pada saat dia besar baru dia pergi meninggalkan kamu karena kamu bukan ayah kandungnya, kalau dia anak kandung kamu ayah dan ibu siap menerima anak itu dengan senang hati.
Karena mau bagaimana pun dia adalah cucu kami anak kandung kamu, jadi kami sebagai kakek dan neneknya tidak bisa menolak. Tapi harus tes DNA itu adalah jalan satu-satunya" sambung pak Roi.
Jhovan membenarkan perkataan kedua orang tuannya bukan berarti dia tidak percaya kalau anak itu adalah darah dangingnya sendiri tapi memang harus ada bukti yang kuat biar tidak ada kesalah paham kedepannya nanti.
Jhovan juga mengikuti keinginan kedua orang tuanya untuk tes DNA nantinya karena Jhovan yakin Saras juga mau.
__ADS_1
"Ya sudah, ayah, ibu kalau memang itu keputusan ayah sama ibu Jhovan tidak masalah Jhovan ikut saja karena memang benar kata ayah, Jhovan harus pastikan juga apakah anak itu benaran anak Jhovan atau tidak, tapi tidak apa-apa kan ayah, ibu kalau Jhovan belikan susu untuk Saras biar ada gizinya takutnya kalau itu benaran anak Jhovan dan lahir tidak punya gizi bagaiman"
Untungnya kedua orang tuan Jhovan tidak keberatan dengan Jhovan membelikan susu untuk Saras.