
"Yaudah ini Kartunya istirahat gih" setelah alin serakan kartu ke devan, devan langsung pergi kekamarnya, alin juga bergegas menyusul yora masuk ke kamar dan membaringkan tubuhnya yang terasa sangat lelah sekali, gak lama setelah berbaring alin akhirnya tertidur pulas.
******
Sedangkan di tempat lain yaitu rumah sakit, jhovan dengan sang mama masih sok dengan kondisi saras dan ratna acak-acakan, dimana gak sok cobak, melihat kulit saras dan ratna dari ujung kaki sampai rambut.
Bentol-bentol dan luka-luka bahkan bukan hanya itu, kulit mereka juga kaya melepuh dan merah dan sebagian luka keluar air mungkin karena efek di garuk.
Bu Anita menutup mulutnya dengan kedua tangannya, sangking kagetnya. Begitu juga dengan jhovan.
"Aduh, kalau begini malas bangat menikah, masa punya calon istri cacat kulit gini sih, walaupun nanti sembuh pasti, tapikan tetap saja kelihatan jelek karena bekas luka, apa kata teman-Temanku nanti."
Kalau mereka tahu sih saras cacat kulit gini, apa lagi tinggal tiga hari lagi ulang tahun perusahaan Wijawa grup, gak mungkin aku datang ditemani saras dengan kondisi seperti ini."
"Pak donal sebenarnya apa yang terjadi, kenapa bisa sampai separah ini, tapi kalau pak donal belum mau cerita gapapa nanti aja."ujar Anita,
" Gapapa bu Anita, ceritanya agak panjang, akhirnya dengan berat hati pak donal menceritakan semua kejadianya dari, bu ratna dan saras katanya kesalon terus pulang dan malamnya mereka mengalami hal mengerikan itu."
"Ya ampu, memang salonya letaknya dimana sih, kok bisa mereka pergi kesalon abal-abal gitu, terus pak donal sudah selidiki belum soal salon itu." Tanya bu anita.
"Sudah, saya sudah menyuruh orang kepercayaan saya untuk mengecek tempat itu tapi anehnya kata orang sekitar, gak perna ada salon disitu."
Yang ada hanya gudang tua yang sudah bertahun-tahun gak penghuni, makanya saya juga heran ditambah binggung, cobak kalau mereka sudah bisa diajak bicara gapapa kita tanya langsung sedangkan, jangankan bicara siuman aja belum.
"Memang kata dokter tadi berapa lama baru mereka siuman om".tanya jhovan.
"Ya katanya sekitar satu jam, sedangkan ini aja sudah lewat dari sejam." ujar pak donal
Namun tiba-tiba mereka dikagetkan dengan suara histeris berasal dari saras. "Pa, ma. Saras kenapa begini huuuuhhhh, gakkkkkkk saras gak mau jangan sampai kulit saras rusak, gakkkkkkk mau pa, tolong sarassss, pak tolong sakit bangat, peri." begitu lah teriakan yang memilukan dari saras belum lagi bu ratna
Teriakan demi teriakan keluar dari mulut saras, ia juga begitu sok melihat kondisinya, yang membuat dia lebih gak terimah lagi saras paling takut kalau kulitnya rusak pasti jhovan akan meinggalkannya.
"Sayang, kenapa kulitku seperti ini, aku gak mau kulitku rusak sayang, Dokter....tolong sembuhkan kulitku dok aku gak mau ada cacat di kulitku." teriak saras pada dokter tapi dokter hanya diam.
__ADS_1
Belun juga selesai mendengar teriakan dari saras, sekarang gantian giliran bu ratna yang teriak, minta tolong, akhirnya bersahut-sahutan teriaknya. Apa lagi bu ratna benar-histeris melihat kondisi tubuh dan wajahnya yang sudah jelek.
Jhovan melihat kondisi sang calon istri , bukannya ibah dan mendiamkan dengan berikan perhatian, tapi mala ia berlalu keluar dari ruang rawat inap disusul bu Anita dari belakang karena jhovan meresa jijik dengan luka-luka yang ada di tubuh saras.
Setelah mereka sampai diluar, jhovan, menghela napas panjang". Ma, aku kok jijik ya lihat saras dengan tante ratna gitu, jhovan jadi pikiran ma, dari pada jhovan nikah dengan perempuan cacat kulit, mendingan batalin aja perjodohan itu ma, jhovan gak mau lagi, lagian masih banyak perempuan diluar sana yang lebih cantik dan seksi".
Bu Anita yang mendengar penuturan jhovan, ia kanget kok bisa-bisanya putranya itu hak punya simpati sedikitpun.
Setelah berkata demikian jhovan melangkah pergi meninggalkan rumah sakit, ia tinggalkan mamanya sendirian di luar, ia tak peduli mamanya masih berdiri disitu menatap kepergiannya.
Ternyata sih jhovan ini terbilang anak durhaka juga, ya masa datang dengan mamanya, bukannya antar pulang eh mala di tinggal gitu aja.
"Jhovan tunggu nak, kamu jang main pergi gitu aja, bagaimanapun kamu calon suaminya," namun teriakan bu Anita gak dihiraukan oleh jhovan.
"Gak sudi saya punya calon istri buruk rupa, mendingan saya batalin aja kali ya, ah pusing kalau begini, nanti aja mikirin itu sekarang saya fokus dulu kesiapa orang yang kirim, video itu, oh iya sepertinya dari tadi ada pesan masuk".
Jhovan buru-buru membuka pesannya dan ternyata pesan itu dari nomor asing itu.
("Anda mau ngancam saya, silakan saya gak takut, dan asal anda tahu, yang main-main itu anda bukan saya. Kita lihat aja nanti siapa yang jadi pemenang dan siapa yang jadi pecundang, anda atau saya. Dan satu lagi anda juga pasti belum tahu kan siapa saya, jadi anda jangan main-main dengan saya.")
Dimana caranya ya, aku bisa jebak orang ini, biar aku bisa tahu siapa yang berani mengancam aku. Tapi caranya gimana.
Ah nanti aja deh, tunggu selesai acara baru aku cari tahu. Selagi dia masih belum sebarkan video itu, sekarang aku harus waspada.
Jhovan melajukan mobilnya menuju ke kantor, sedangkan bu Anita masih berdiri mematung di depan loby rumah sakit binggung, mau kembali ke dalam atau langsung pulang.
Tapi kalau kembali kedalam ia juga malas, namun kalau langsung pulang gak Sopan. karena tadi belum sempat pamit sama pak donal.
Terpaksa bu Anita dengan langkah gontai, ia kembali masuk kedalam rumah sakit, ia menuju ke ruangan bu ratna dan saras, ternyata pak donal sudah menunggu diluar.
"bu Anita dari mana terus jhovan mana, kok gak ada".tanya pak donal
Dengan terpaksa bu Anita meksakan senyumnya" jhovan ada keperluan mendadak jadi sudah pergi terburu-buru jadi gak sempat pamit".jawab bu Anita.
__ADS_1
"Pak donal maaf sebelumnya kira-kira penyakit itu bisa sembuh gak ya, kalau saya lihat soal sembuh sih iya, tapi bisa jadi cacat kulit."
" Ya itu juga yang saat ini saya pikirkan bu, tapi yang saya dengar dari dokter itu gak berlangsung lama akan sembuh."
"Semoga aja ya pak, oh ya maaf saya parmisi karena saya ada kepentingan jadi nanti kalau cepat selesai saya akan mampir lagi kesini."
"Oh, ok silakan bu, dan makasih sudah meluangkan waktu untuk datang kesini."
Bu Anita secepatnya bergegas pergi karena ia sudah gak tahan lama-lama di rumah sakit. "Ya ampun seram bangat muka bu ratna dengan saras."
Setelah kepergian bu Anita, pak donal mulai kembali frustasi mikirin kondisi putry dan istrinya. Apa lagi pelaku sampai sekarang gak diketahui siapa yang melakukan itu.
Ma, saras. Dosa apa yang sudah kalian lakukan, sehinggi kalian bisa terkena malapetaka ini, saya yakin ini hal kesengajaan yang di lakukan orang itu, tapi siapa dan apa motifnya.
Gak mungkin kalian gak lakukan kesalahan yang fatal, tapi tiba-tiba kalin mandapatkan musiba ini, apa lagi motif dari orang ini pengen membuat kalian menderita.
Di rumah sakit pak donal frustrasi karena memikirkan kondisi anak dan istri. Berbedah lagi di tempat alin, yang sekarang sudah pada siap pergi kesalon.
"Papa dan devan hari ini tinggal aja di kamar biar kami berempat aja kesalon, mungkin ada yang mau kalian bicarakan."
"Iya ma, papa dan devan disini aja, soalnya ada yang mau papa bicarakan berdua sama devan."
"Ok kalau begitu kami berangkat ya pa," setelah pamitan keempat perempuan cantik bedah usia itu mereka bergegas turun kebawa melalui lift.
Kali ini alin yang mengambil alih pengemudi, setelah mereka sampai di parkiran mereka, semua langsung masuk kedalam mobil, dan alin menghidupkan mesinya.
Ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, karena masih jam dua jadi jalanan masih aman dari jangkauan macet.
Mereka menempuh perjalanan sekitar empat puluh lima menit akhirnya sampai juga. Dengan talenta alin berbelok mobil masuk ke parkiran salon dan parkirkan mobilnya.
Setelah mobil parkir dengan sempurna mereka berempat keluar dari dalam mobil dan melangkah masuk ke salon, dan pasti disambut hangat oleh mbak salon, apa lagi sering langanan.
"Selamat datang nyonya dan nona, perawatan apa yang diambil hari ini nyonya"? Tanya mbak salon sopan.
__ADS_1
"Hari ini satu paket full ya, untuk empat orang mbak". Jawaban bu Asta membuat mbak salon mengulum senyum, mungkin dalam hatinya Rejeki nomplok.
" Oh kalau begitu nona bisa ikut teman saya, dan nyonya bisa ikut saya,