Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.

Aku Kembali Untuk Membalaskan Sakit Hatiku.
84:84


__ADS_3

Setelah kepergian jhovan dan kedua orang tuanya, alin juga mendesak polisi untuk membawa bu ratna dan saras segera ke kantor polisi. Agar di interogasi karena sekarang sepupunya bu ratna sudah di tahan, jadi tinggal tunggu bu ratna dengan saras saja.


Namun bu ratna belum mengetahui kalau, adam sudah mendekam di penjara, bu ratna berpikir kalau hanya bukti- bukti yang di berikan alin tadi, biar ia di hukum segakny agak sedikit ringan, kalau adam kabur dan gak ketemu.


Saras dan bu ratna merontah saat di bawa masuk kedalam mobil , bahkan mereka teriak memanggil pak donal, tapi sia-sia jangankan menolong keluar dari rumah untuk melihat istri dan anaknya saja pak donal gak sudih.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantor polisi saras gak berhenti menangis, ia sangat terpukul karena kejadian yang menimpahnya, sekarang bukan hanya ia masuk penjara, tapi juga dengan gak punya hati jhovan membatalkan pernikahan mereka sepihak. Hati saras benar-benar hancur.


Dan dalam pikirannya orang yang pertama patut di salahkan adalah mama nya dan ke dua adalah alin. Jadi dua orang itu yang patut bertanggung jawab pikir saras.


"Awas ya mbak, akan saya balas semua perbuatanmu terhadapku. Kamu dengan gak punya hatinya menyiksa saya di kantor sekarang kamu, dan kamu mala melaporkan aku ke polisi lihat aja nanti.Dan ini juga salah mama waktu itu mama yang mendoktrin saras untuk membenci mbak alin, pada akhirnya rencana pembunuhan itu terjadi."


Tiba-tiba saras teriak" ini semua salah mama, cobak mama gak berikan ide gila itu mungkin saras gak di penjara dan jhovan gak batalkan pernikahan kami, sekarang semuanya sudah hancur ma, jhova beraninya membatalkan pernikahan kami padahal tinggal satu bulan lagi, jahat kamu jhvan jahat....saya akan membalas kalian semua."


"Kamu gak usa berteriak begitu saras, kenapa sekarang kamu mala salahkan mama, bukannya waktu itu ide awalnya dari kamu, dan kamu juga kan yang membunuh eyang kamu, kenapa sekarang mala jadi mama yang disalahin, sekarang mama juga pusing, jadi jangan buat mama emosi sama kamu"


" Ha eyang? Ma saras gak perna punya eyang, Iblis itu bukan eyang saras, dia hanya sayang sama mbak alin mana perna sayang sama saras, jadi gak usa sebut bilang eyang saras muat"


Prakkkk.


"Argh...."

__ADS_1


"Jaga mulut kamu ya biar bagaimana pun dia itu eyang kamu, jadi jangan kurang ajar, kamu aja berani membunuh eyang sendiri, sama parsis seperti ayah kamu yang bajingan itu seorang pembunuh"


Awalnya saras yang menangis tiba-tiba tertawa keras" kamu gak salah ma bilang saya pembunuh, terus apa bedahnya dengan mama yang membunuh mamanya mbak alin hanya karena keserahkahan mama yang ingin memiliki suami orang dan berani menjebat papa di hotel, itu apa namanya ma, apa......." ujar saras dengan emosi yang mengebuh


"Jangan kurang aja kamu ya, berani bicara seperti itu sama orang tua sendiri, dasar anak gak di untung"


Bu ratna yang ingin melayangkan tamparan ke pipi saras langsung di cegah oleh seorang polisi. Bu tolong jaga sikap jangan karena ia anak anda jadi anda semena-mena memukulnya, kalau berani ibu lakukan kami akan memberatkan hukuman ibu tentang penganiayayaan."


Seketika muka bu ratna memucat dan mendegus kesal. Karena gak berhasil menampar saras mala di tegor


Sedangkan sekarang, alin dan semua orang yang ikut serta tadi, segera pulang ke apertement, mereka gak ikut ke kantor polisi karena sekarang sudah pukul setegah tuju malam, jadi rencana besok saja mereka ke kantor polisi.


Namun devan gak menyerah membujuk alin agar bisa bicara apa yang menganggu pikirannya. Karena devan sangat tahu seperti apa alin jadi devan berusaha membujuk alin agar berkata jujur terhadapnya siapa tahu bisa berikan solusi.


"Sayang kamu kenapa, kalau ada yang kamu pikirkan, bisa berbagi dengan kami semua, terutama aku calon suami kamu, jangan pendam sendiri begitu nanti itu jadi penyakit, aku gak mau kamu kenapa-kenapa." ujar devan


"Makasih ya sayang kamu pengertian dan perhatian banget. Aku hanya mikir kenapa mereka berdua sejahat dan setegah itu, dengan gak punya hatinya mereka menghilangkan nyawa orang yang gak bersalah hanya karena iri dan dengki, mama dan eyang salah apa sama mereka berdua apa mereka gak takut dosa kah." ujar alin


"Ya namanya juga manisua sayang, kalau iblis sudah menguasai hati mereka, mau gimana lagi sudah di kendalikan jadi apapun yang mereka lakukan, gak punya hati nurani lagi, tapi sekarang mereka juga akan menerima hukuman yang setimpal dengan perbuatan mereka, kita minta sama polisi agar mereka memberikan hukuman yang berat." ujar devan menenangkan alin


"Sekarang focus lah dengan persiapan pernikahan kita satu bulan lagi dan nanti setelah kita nikah, ya kita juga harus focus untuk cetak devan junior.." ujar devan

__ADS_1


"Aduhhh....sakit sayang.." teriak devan kesakitan karena di cubit sama alin, lagian devan juga jail si.


"Makanya pikiran itu jangan ngaur mau saya cubit lagi mesum ah pikiran calon suamiku ini"ujar alin di sambut kekeh oleh devan


"Ampun Ndoro" ujar devan jailin alin


Tadinya devan dengan alin rencana mau bawa bi sumi nginap di apertemen alin, karena masih banyak kamar kosong hanya saja bik sumi menolak katanya kalau alin selesai menikah baru bik sumi mau.


Akhirnya alin dengan devan terpaksa antar pulang bik sumi ke rumah kecil tapi nyaman dan asri nya itu.


Karena setelah, lisa menelpon devan, devan langsung menyuruh dimas bawa adam ke kantor polisi, sekalian bawa polisi ke rumah pak donal, namun sebelum itu mereka harus jemput bik sumi dulu, makanya sekarang alin dan devan yang bertanggungg jawab antar pulang bik sumi.


Karena mereka kasian juga kalau mereka membiarkan bik sumi naik grap, alin dan devan gak tegah, melihat bik sumi pulang sendiri.


Tak lama mobil devan berbelok masuk kedalam halaman rumah bik sumi dan mobil langsung berhenti, setelah itu bik sumi keluar dari dalam mobil "Non, den masuk dulu biar minum teh hagat dulu baru pulang."


"Bik makasih karena sudah mau datang untuk jadi saksi tadi, bibik sudah mau menolong alin, tapi nanti lah bik kami mampir ya, ini sudah malam. Jadi kami pulang saja."


"Gapapa non itu sudah kewajiban bibik membantu nona alin, yaudah hati-hati di jalan ya non, den.


Akhirnya devan dan alin berlalu pergi sedangkan bibik masuk kedalam rumah kecil itu dengan senyum.

__ADS_1


__ADS_2