
Devan, ada dalam kamar, tapi memasang telinganya dengan tajam, jadi semua pembicaraan sang mama, dengan oliv tak terlewatkan.
Karena, selama ini, devan, sudah menyadari. kalau teman kulianya itu, selama ini diam-diam sudah menaruh hati padanya.
Makanya, devan, tak suka jika sih oliv, selalu bertandang ke rumah, karena ada maksud tertentu.
Apa lagi, devan, juga tahu kalau si oliv, juga cewet matre, banyak laki-laki kaya yang di dekatinya, hanya untuk memuaskan keinginannya sosialitinya.
Dan, tampa oliv tahu, selama ini bu Asta, diam-diam menyuruh orang kepercayaannya, untuk menyelidiki oliv.
Jadi, gak usa heran, kalau devan, sangat gak suka dengan kedatangan oliv ke rumah.
Sebenarnya, bu Asta, juga sama gak suka dengan oliv, tapi bu Asta, bersikap biasa aja. biar oliv gak curiga kalau mereka sudah mengetahui, rencana busuknya mendekati devan.
"Setelah, beberapa menit mereka diam, sekarang, oliv buka kembali obralan, tan, devan kok gak keluar dari kamar ya, apa dia gak suka aku datang kesini."?
"Jangan, salah sangka, devan bukan gak suka tapi devan harus istirahat, karena besok perjalanan jauh. "bu Asta sabar menjelaskan.
"Oh, gitu ya tan, oya tan, boleh gak aku ikut ke kota B",
Permintaan oliv, sontak membuat bu Asta kaget, lantas, untuk apa juga dia ikut, secarakan dia bukan siapa-siapa. dan paling di takutkan adalah, dalam acara itu juga, ada acara lamaran, takut di gagalkan sama oliv.
Bisa murka devan, sang mama gak mau itu terjadi, jadi sekarang bu Asta, benar-benar dengan sabar kasih pengertian ke oliv.
Devan, yang mendengar permintaan konyol oliv, senyum kecut dengan sebelah bibirnya terngkat keatas, " dasar perempuan matre, padahal sudah punya pacar juga, masih aja mau mendekatiku. "
"Oliv, maaf sebelumnya, untuk apa oliv ikut kesana, bukankah pekerjaan oliv ada di sini, "?
" Ah, iya betul tante, tapi kebetulan bisa cutikan, sekalian oliv nemanin devan nanti disana, "
"Emang, kamu sudah bicara sama devan? kalau kamu datang kesanana, menemani dia, secarakan kamu bukan siapa-siapa, devan hanya teman ya gak." dalam hati bu Asta sudah gondok lihat kelakuan perempuan satu ini.
" E eh, belum sih tan, tapi pasti devan mau, secara aku temannya devan. Devan juga belum punya pacar, jadi gapapa aku jadi pasangannya.
__ADS_1
Aduh, emang dasar si oliv, ya sudah gak punya urat malu. Gimana kalau dia tau devan sudah punya calon ya, bahkan calon devan sudah perna aduh jatos dengannya.
Hahaha, yaudah, kalau emang devan mau gapapa, bu Asta sudah pasra dengan perempuan itu, dia pengen cepat-cepat masuk kamar udah gondok dari tadi. Liv, maaf ya tante dari tadi badan gak enak, jadi pengen istirahat, gapapa ya, kamu mau pulang atau mau kemana,.
"Oh, maaf tante, aku sudah mengganggu, tapi mungkin aku pulang aja, karena aku juga ada janji dengan orang. aku pamit ya tan, oliv setelah pamit ia bergegas pergi, dengan hatinya sangat sedih, karena devan kasar dan gak mau temuinya.
Sedangkan, bu Asta, tersenyum kecut. lihat kepergian si oliv " Emang enak di kerjain, makanya jadi perempuan jangan ganjeng, anak saya sudah punya calon istri, jauh lebih cantik dan baik.
Sedangkan, ditempat lain, jhovan, dan keluarga besarnya, lagi berkumpul untuk membahas tentang persiapan pernikahannya, dengan saras.
Sekarang, mami, dan Papiny jhovan lagi duduk di ruang keluarga, sambil berbincang, bersama keluarga besar mengenai pernikahan jhovan, karena bagaimanapun, jhovan anak bungsu, dari dua bersaudara, jadi pesta harus mewah, itu adalah permintaan dari kedua belah pihak.
"Jadi, gimana mbak, dengan persiapan nanti, sekarang sudah berapa persen. Tanya tantenya jhovan.
" Ya, sejauh ini, baru tujuh puluh parsen, kalau serangan dengan gaun pengatin, sudah dipesan."
"Wah, mbak, baru tujuh puluh parsen? ini sudah mau mepet loh."
" Ya, kita tunggu aja, dari jhovan, sebenarnya, kalau menerut saya, mereka harus tunangan satu bulan sebelum mereka nikah."
"Belum, selama ini, mereka hanya pacaran gitu aja.
" Sue, deh".
Karena, tinggal dua bulan lebih, jadi menurut keluarga besarnya bertunangan satu bulan, sebelum nikah. Karena, baik jhovan, maupun saras sudah siap
Apa lagi, setelah saras tahu, kalau alin sudah kembali maka takutnya, alin kembali merebut jhovan darinya. Sehingga saras, nuntut untuk mempercepat pernikahan mereka, bila perlu di majuin aja.
"Ma, dimana, kalau minta sama keluarga jhovan, untuk tanggal pernikahannya di majuin aja."
" Gak bisa, main majuin gitu aja Saras, kamu, ini gimana sih, bukannya dari awal kamu yang minta, kenapa sekarang mala minta di majuin.
Sambil, gerutu bu ratna, melihat tingkah anaknya, menurutnya, gak ada dewasa-dewasanya. Bikin mood bu ratna rusak.
__ADS_1
" Ya, saya takut dong ma, Kalau ternyata, mbak alin, kembali untuk merebut kembali jhovan gimana ma.?"
" Kamu, tenang aja, itu gak mungkin terjadi, jhovan yang ninggalin dia kok, semua demi kamu."
" Ya, juga sih, ngapain juga saya takut, secarakan, jhovan yang memilih aku. "
Walau, bu ratna, bicara seperti itu, untuk menenangkan hati saras, tapi dalam hati bu ratna juga terbesit rasa takut, kalau ternyata, benar seperti yang di bilang saras, berarti hidup mereka berdua lagi gak aman.
Namun, tiba-tiba bu ratna, mengulum senyum, ada ide gila terbesit di kepalanya. Apa, ya, kira-kira dipikirkan bu ratna.
"Sayang, sini deh" panggil bu ratna, pada anaknya.
"Ya, ma, ada apa "?
Dengan senyum, bu ratna, berkata: sayang, bukankah, dua minggu lagi ulang tahun perusahaan Wijawa Grup, dan kamu bilang kalau kamu mau ambil hati putra dari pemilik perusahaan itu, jadi kalau seandainya kamu gak jadi dengan jhovan juga, mama, rasa gak masalah.
Seketika, saras, berpikir perkataan sang mama, ada benarnya, juga kalau ia, kehilangan jhovan tapi mendapatkan devan, itu lebih baik.
Hmmm, benar juga kata mama, aku gak usa terlalu berharap sama jhovan. Lagian Ganteng juga pas-pasan, kaya juga masih standar, tapi kalau aku jadi nikah sama putra tunggal, dari pemilik perusahaan Wijawa grup, yang sangat kaya itu, pasti apapun yang aku minta di berikan. Ckckc hayalan saras ketinggian.
"Ma, benar apa kata mama, jadi mama, harus bantuin saras, untuk mendapatkan hati laki-laki itu, gimana ma."saras masih berharap, bantuan sang mama, semoga berhasil.
"Bu ratna, tersenyum tipis, kamu tenang aja sayang, mama akan membantumu."
"Caranya, ma?" tanya saras
"Nanti, kamu akan tau, sekarang ini biar aja dulu kamu tetap sama jhovan seperti biasa jangan nunjukin ke jhovan kalau kamu rencana mau ninggalin dia dan jangan perna cerita ini ke papa, kamu paham kan."
"Iya, ma, saras paham, tapi kalau rencana kita gagal gimana ma"? Walapun bu ratna sudah janji mau bantu saras, tapi entah kenapa saras belum yakin renananya akan berhasil.
Ratna, memandang anaknya itu, "mama, sudah bilangkan kamu tenang aja, nanti mama yang atur, "
" Tapi gimana kalau ternyata ia sudah punya tunangan ma, dan mau nikah". Tanya saras lagi memperjelas
__ADS_1
"Tinggal singkirkan".
"Ya, ampun, jahat bangat sih ratna, masa mau singkirkan alin lagi, itu gak mungki terjadi."