
Setelah selesai alin dan lisa ketemuan dengan pak lim, lisa dan alin keluar dari caffe dan menuju ke mobil" lis kamu datang naik apa, dengan mobil sendiri kah atau di antar" tanya alin memastikan sekretaris nya itu bisa kembali ke kantor dengan aman.
"Saya tadi datang bawa mobil sendiri bu". Ujar lisa
"Oh kirain tadi datang di antar gapapa sama saya aja, tapi kalau kamu bawa mobil sendiri hati-hati ya sampai jumpa di kantor," tanya alin
" baik bu, ibu juga hati-hati". Ujar lisa
Akhirnya baik alin mau pun lisa masuk kedalam mobil masing-masing, dan berangkat ke kantor sekarang jam sudah menunjukan pukul setegah sepuluh, dan alin menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit alin sampai di kantor.
Ai langsung turun dari mobil nya dan bergegas masuk ke dalam kantor, namun langkah alin terhenti saat nama nya di panggil oleh seseorang, seperti familiar banget suara nya pikir alin, itu yang gak ingin alin temui seumur hidup.
"Mau apa lagi perempuan ini kesini ya, saya benar-benar malas banget melihat manusia munafik ini." alin menoleh dan melihat siapa yang memangilnya , ternyata benar yang datang adalah saras.
"Mbak...saya mau bicara sama mbak ini sangat penting mbak boleh ya." ujar saras seraya memohon, sedangkan semua mata karyawan memang saras dengan tajam, tak kalah dengan lisa karena lisa jelas tahu siapa saras, boby juga berdiri tak jauh dari alin.
Boby maju mendekati alin dan berkata: "bos maaf tadi saya sudah usir dia pulang tapi orang nya gak mau mala ngotot ketemu sama bos." ujar boby
" Gapapa bob ini bukan kesalahan kamu," ujar alin lantas ia mendekat ke saras" mau apa lagi kamu kesini ha, mau buat kekacawan disini lagi".ujar alin dengan nada agak tinggi
"Tolong lah mbak kali ini, kita harus bicara".ujar saras
"bob bawa dia ke ruang saya, lis yuk" karena alin malas jalan bareng dengan saras jadi ia menyuruh boby mengantar saras ke atas.
__ADS_1
Sedangkan alin dan lisa sudah duluan pergi, dan tak lama boby mengajak saras untuk naik ke atas.
"Silakan nona ikut saya"ujar boby sedangkan saras yang melihat alin gak peduli sama dia menghentakan kaki nya emosi, "Hummm dasar kurang ajar untung saya menginginkan sesuatu darinya kalau gak, gak sudih juga datang kesini." umpet saras dalam hati.
Alin segera masuk ke dalam ruangnya sedangkan lisa yang juga mau beranjak ke ruangannya di tahan oleh alin, "Lis kamu ikut saya ke ruangan nungguin boby dan perempuan itu datang, saya mau lihat sandiwara apa lagi yang mau dia ciptakan di kantor ini." ujar alin
"baik bu" lisa mengikuti langkah kaki alin dan masuk kedalam ruangannya, "silakan duduk lis" alin mempersilahkan lisa duduk, tak berselang lama pintu ruangan di ketuk.
Tok tok tok!!!
"Masuk" alin dengan suara lantang menyuruh orang yang di belakang pintu masuk.
Krekkk, pintu terbuka dan nampak lah boby dan saras. Wah mbak kantor mbak benar-benar mewah banget boleh lah saras kerja disini, tapi di tempat yang bagus ya mbak." ujar saras namun gak di tanggapi sama sekali oleh alin membuat saras emosi.
"Langsung aja kamu ngapain ke sini, saya gak punya banyak waktu untuk meladeni hal yang gak penting".ujar alin
"Mbak saya kesini mau minta bantuan sama mbak, tolong bantu perusahaan papa dan juga jhovan, saat ini kedua perusahaan itu dalam masa krisis mbak".ujar saras gak ada malu nya
"Lagian mbak memangnya gak kasian sama papa kalau perusahaan itu bangkrut, dan soal jhovan memang dia lebih memilih saya, tapi itu adik ipar kamu juga mbak masa mbak tega sih biarkan perusahaan hancur."
Dengan tak tak tahu malu nya saras bicara panjang lebar agar alin bisa membantu perusahaan pak donal dan pak roy. Namun alin masih tenang menangapi adik tiri nya yang tak punya urat malu itu.
"Kenapa saya yang harus membantu keluarga iblis itu, bukan saya yang menghancurkan semua itu, tapi kalian berdua lah yang menghancurkan, seharus nya kamu lah yang berhak tanggung jawab dalam hal itu kenapa musti saya, memang nya saya siapa nya kalian, kita ini gak ada hubungan apa-apa kalau kamu lupa".ujar alin
__ADS_1
"Iya saya tahu mbak, tapi saya juga kan adik nya mbak, sedangkan perusahaan itu kan punya keluarga kita mbak, kalau bangkrut kita makan apa, kemarin aja pada saat semua investor tarik kembali saham papa sesak nafas kata nya dan sampai sekarang kami juga gak tahu papa ada di mana." saras menjelaskan semua nya
"Haahha apa kamu bilang, adik? sejak kapan ya kamu jadi adik saya, sedangkan ibu saya melahirkan hanya saya seorang, dan soal, perusahaan itu kamu lupa ya kalau saya bukan bagian dari kalian, itu untuk kebutuhan kalian bukan kebutuhan saya, mau kalian bangkrut atau mau kalian gak makan sekali pun saya gak peduli".
Mendengar itu saras tersulut emosi, saras baru menyadari kalau alin sekarang sudah sangat berubah, tak seperti dulu lagi yang gampang di kelabui.
"Mbak saya itu hanya minta bantuan bukan minta di ceramahin, karena kalau mbak gak bisa bantu papa akan mengusir kami dari rumah, dan menceraikan mama, memang nya mbak tegah melihat kami sengsara dan papa ceraikan mama, jahat kamu mbak jahat". Ujar saras emosi.
Seketika itu alin juga sudah tersulut emosi dan maju selangkah ke depan, tepat di wajah saras dengan tatapan tajam, membuat nyali saras seketika menciut.
Pakkkkk pakkkkkk!!!
"Apa kamu bilang, saya jahat?"Alin mencengkram dengan kuat dagu saras dan mengangkat nya ke atas, lihat dan tatap mata saya, siapa disini yang jahat saya atau kalian, terutama kamu sama mama kamu yang pembunuh itu.
"Apa perna kalian merasa bersalah atau kasian sama saya, waktu kalian fitnah saya dan mengusir saya dari rumah itu, apa perna kamu berpikir seperti apa hancurnya saya waktu itu."
"Bahkan kamu mengambil semua yang saya punya tapi saya diam adik tiri yang kejam. Jadi apa lagi yang harus saya berikan, atau mau saya berikan nyawa kamu kirim ke rumah kamu, kamu pikir selama ini saya gak tahu rencana busuk kamu dengan mama kamu, bahkan saya tahu kamu lah orang yang membunuh eyang."
Apa kamu gak takut jika saya seret kamu ke penjara bersama dengan mama kamu. Pulang lah bawa pesan dari saya untuk mama kamu. siap-siap lah saya akan datang ke rumah itu membawah kejutan untuk kalian semua.
"Dan satu lagi mau kamu di usir atau mama kamu diceraikan itu bukan urusan saya, seharusnya dengan masalah ini kamu dengan mama kamu yang gak tahu diri itu belajar dan intropeksi diri, bukan merasa paling benar."
Setelah selesai alin bicara begitu alin langsung memdorong saras sampai jatuh ke sofa, badan saras bergetar ia sangat takut dengan kemarahan alin,
__ADS_1
Boby seret dia keluar dan jangan perna biarkan ia masuk kesini lagi.