
gadis itu menatap objek didepannya... jarak dari beberapa meja darinya. ia tersenyum manis tak kuasa menahan air mata yang tumpah ia pun menunduk, bahunya bergetar hebat. ia mensugesti dirinya bahwa ia akan baik baik saja.
" Lo yakin sya ? " ujar seorang gadis yang duduk disebelah sambil menepuk-nepuk pundak temannya. mencoba memberikan kekuatan agar temannya bisa bertahan.
" ini yang harus aku lakuin dari dulu... lihat Rex tertawa bahagia " ucap Sasya sambil mengusap air mata di pipi nya.
" Sya ??? "
" gue sekarang gak jahat kan Ra ? ini kebaikan Ra ? apa gue masih terlihat sejahat itu !!! "
" Lo gak pernah jahat sya, mereka yang bilang lo jahat karena gak menegenal Lo, mereka gak berhak menghakimi Lo "
" gimana bisa Lo nyebut gue baik saat Lo tau apa yang gue lakuin. gue ngejebak Rex buat nikahin gue, gue ngebuat Risa tertabrak karena gak mau kalau Rex jadian sama Risa. dan lebih jahat lagi gue yang ngehasut Risa buat nolak lamaran Rex... gue..gue... sungguh jahat " ungkap Sasya mengeluarkan semua kejahatan nya.
" sya lo sudah membayar apa yang Lo lakuin ? jadi berhenti menyalahkan diri sendiri ? Lo harus tenang jangan panik oke..!! "
__ADS_1
" kenapa ??? loe takut gue kambuh... loe takut kewarasan gue hilang, bahkan saat gue gila, Rex gak kembali ke gue Ra... sementara- akkhh... akhhh... kepala gue sakit Ra..."
Hera pun mengetahui temannya yang mulai tidak stabil mencoba membawa Sasya untuk keluar dari restoran tersebut. saat didalam mobil ia mengambil obat penenang untuk diminumkan ke Sasya agar lebih tenang.
Hera mencoba menghubungi dokter pribadi Sasya yang menangani kejiwaan Sasya.
" halo dokter Arya ... ini Hera... Sasya kambuh lagi... sudah dokter, saya sudah minum kan obat penenang... baik saya akan bawa Sasya ke sana..."
setelah menutup telfonnya Hera memeluk sahabatnya untuk meyakinkan bahwa ia tidak sendirian.
" baik non "
Hera pun kembali fokus memeluk sahabatnya dan mengucapkan kata
" sebenernya gue yang salah sya !!! harusnya gue kasih tau lo, bahwa apa yang lo lakuin salah... bukan malah membenarkan setiap perbuatan Lo.... maafin gue sya... gue sayang sama Lo seperti saudara gue sendiri... Lo harus tetap baik baik aja meski tanpa Rex dihidup Lo... "
__ADS_1
-------------
setelah pulang dari rumah sakit Sasya memilih untuk mampir ke rumah Rex. ada barang yang masih tertinggal di rumah tersebut. ia menatap bagian bagian ruang rumah tersebut mencoba untuk menyimpan kenangan dalam ingatan nya bahwa ini adalah tempat tinggal ia dan Rex saat menikah dulu. dulu ia sangat bahagia karena bisa jadi istri Rex.
tiba tiba pintu masuk terbuka, masuklah Rex dan risa. mereka berdua menatap Sasya dengan canggung.
" hai.." Sasya menyapa sambil mencoba tersenyum melihat tangan Rex yang menggenggam tangan Risa dengan mesra. memalingkan muka dari hal tersebut dan tetap fokus pada manusia didepannya.
" Hem.... Sya ini Ica calon istri gue... dan gue harap kali ini lo gak berulah lagi " nada Rex saat mengucapkan kata tersebut seolah memperingati Sasya agar tidak berbuat macam macam.
dulu Rex tidak seperti ini, dulu ia selalu ramah saat berbicara dengan Sasya. selalu ada saat Sasya ada kesulitan. ya itu dulu....
" dan Ica ini Sasya mantan istri gue " lanjut Rex sambil menatap Risa dengan sayang.
tidak ada kata yang menyebalkan dari kata MANTA ISTRI
__ADS_1