
"Lelaki itu benar-benar beemuka dua ya?!" Eleanor yang baru saja tiba di ruang untuk perkuliahan mereka pagi ini langsung mengomel sembari membanting buku yang ditentengnya ke atas meja.
Hanna yang tengah asik membaca sebuah novel pun dikagetkan dengan suara dari buku yang dibanting oleh temannya itu.
"Ada apa, El? Masih pagi dan kamu udah ngomel. Kamu bertengkar dengan pacarmu?"
Eleanor menggelengkan kepalanya. "Bukan dia, tapi mantan suamimu."
Hanna menutup novelnya tanpa sadar dan memusatkan perhatiannya pada Eleanor.
"Ah, dilihat dari raut wajahmu sekarang ini, kamu pasti enggak tau kan kalo dia udah punya pacar baru?"
"P-pacar baru?" Ulang Hanna dengan terbata.
Eleanor mengangguk. "Hm, aku melihatnya sedang menikmati sarapan dengan seorang gadis di Bakesmiths. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi aku lihat dengan jelas bagaimana wajah bahagia mantan suamimu itu. Sangat berbeda jauh dengan wajahnya saat mengikutimu di kafe kemarin."
Meskipun sebenarnya dirinya penasaran dengan siapa Rafa menikmati sarapannya pagi ini, tapi Hanna memilih untuk tidak bertanya lebih lanjut. Bukankah Rafa memang seperti itu? Dari dulu Rafa tidak pernah kehabisan stok perempuan untuk menemani kesehariannya kan?
"Kami sudah berpisah, El. Tidak ada gunanya lagi membahas tentang dia. Dan lagi, kamu tidak perlu membencinya. Dia tidak memiliki kesalahan terhadapmu kan?"
"Iya, tapi dia telah menyakiti sahabatku ini dan membuatnya tidak bisa keluar dari cerita masa lalu yang kalian buat bersama itu."
"Aku baik-baik saja, El." Jawab Hanna sembari tersenyum.
"Kamu... emang enggak penasaran siapa gadis yang sekarang tengah dekat dengan mantan suamimu itu?"
Hanna menggelengkan kepalanya. "Itu tidak ada hubungannya denganku, El."
__ADS_1
"Ayolah, Hanna. Kamu pasti bisa melupakan dia, sama seperti dia yang telah melupakanmu dan berpindah ke gadis lain dengan mudahnya. Seharusnya kamu enggak kesulitan untuk ngelupain dia, karena... dulu kan kalian tidak memiliki hubungan seintim suami istri pada umumnya."
Hanna tersenyum simpul. Ya, apa yang dikatakan Eleanor memang benar. Hubungan pernikahannya dengan Rafa dulu bukanlah hubungan pernikahan yang sebenarnya. Cinta juga sepihak karena hanya berasal dari dirinya saja. Jadi memang sebaiknya Hanna tidak terperangkap dalam cerita masa lalunya.
"Ah, Arthur bilang semalam kalian pergi untuk makan malam. Sepertinya.... terjadi sesuatu diantara kalian. Kamu enggak mau cerita?" Eleanor menyenggol lengan kanan Hanna sambil tersenyum dan menaik-turunkan alisnya.
"Tanpa aku beritahu, kamu pasti juga sudah tau kan, El?"
"Hahahahaha... aku cuma ingin tau langsung dari kamu. Kalau begitu, aku harus membatalkan holidate-mu dong ya?"
Hanna menganggukkan kepalanya. "Hm, kami mungkin akan pergi dengan keluarga Arthur untuk liburan akhir tahun."
"Waahhh, tampaknya Arthur memang begitu serius denganmu. Baru awal berhubungan saja langsung mengajak untuk berlibur dengan keluarganya."
Hanna tidak menggubris, ia malah memilih melanjutkan membaca novelnya sembari menunggu perkuliahannya dimulai.
"Diliatin mulu!" Alita dengan sengaja menyenggol lengan Rafa yang sedang terpaku memperhatikan sebuah flat shoes di depannya.
"Belilah! Hanna seneng kan pake flat shoes gitu."
Rafa menganggukkan kepalanya. "Iya, tapi aku enggak tau ukuran sepatunya berapa."
"Hah? Seriusan? Kalian kan kenal dari kecil, bahkan pernah tinggal serumah selama setahun."
"Ya waktu mana ada waktu buat merhatiin segala sesuatu soal dia, Lit. Kita... ya sibuk sama diri kita masing-masing."
"Jadi kamu sama sekali enggak tau soal Hanna? Kamu cuma tau nama dan orangnya doang gitu?"
__ADS_1
Rafa hanya terdiam.
"Kamu tau makanan favoritnya Hanna? Warna apa yang dia senengin? Atau mungkin... dia suka dengerin lagunya siapa gitu? Hmm... atau... Hanna suka-"
"Lit!" Rafa menyela dengan cepat.
Atas respon Rafa barusan, Alita menyadari jika mantan kekasihnya itu sama sekali tidak mengenal gadis yang pernah dinikahinya.
"Astaga, Rafa! Pantes aja usahamu dapetin Hanna lagi enggak berhasil, orang kamu enggak tau apa-apa soal Hanna. Terus dari dulu kamu deket sama Hanna, sering jalan sama dia tuh kamu merhatiin apaan?"
"Aku kan nganggepnya dia sebagai adik, Lit. Pas sering jalan sama Hanna juga aku ada kamu kan, jadi ya... mana merhatiin dia."
Alita menghela nafasnya. "Meskipun kamu anggap sebagai adik, paling enggak kamu tau sedikitlah. Untung aja kamu anak terakhir, kasian banget yang jadi adikmu karena enggak kamu perhatiin."
"Seenggaknya dia bangga punya kakak yang ganteng."
"Iya, kak Rayyan kan?" Alita meledek. "Kalo soal aku, kamu tau? Ukuran sepatuku? Aku suka makan apa, aku suka dengerin lagu siapa, kamu tau?"
"Ya kalo dulu tau, kalo sekarang enggak. Siapa tau seleramu udah berubah kan sejak nikah sama Theo."
"Aduuuhhh... bener-bener kamu ya, Fa! Denger ya, percuma aja kamu ngikutin Hanna kesana kemari, ngomong sayang dan pengen balikan, tapi kamu enggak nunjukin perhatianmu ke dia. Hanna mungkin akan tersentuh dengan kamu ngasih perhatian kecil ke dia. Misalnya bawain makanan kesukaan dia, kasih barang-barang yang dia suka atau lagi dia pengenin. Bukan cuma ngejar-ngejar doang."
Rafa terdiam, memikirkan apa saja yang telah dilakukannya selama ini untuk membuat Hanna kembali.
"Udah tau sekarang kesalahanmu dimana?" Tanya Alita dan dijawab dengan anggukan kepala oleh Rafa.
"Kalo gitu kamu tau kan sekarang harus gimana? Mumpung masih belum telat."
__ADS_1
Alita mengambil sepasang flat shoes yang sedari tadi menarik perhatian Rafa, menberikannya kepada Rafa dan menarik tangan mantan kekasihnya itu untuk berjalan ke arah kasir.