Back To You

Back To You
Us


__ADS_3

Hingga waktu sakral tiba, semua tamu undangan sudah berkumpul untuk menyambut kedua mempelai. Tidak, tidak begitu banyak, hanya orang terdekat saja, Vee cukup paham dengan kondisi yang harus mementingkan privasi. Bukan tidak ingin membagi kebahagiaan dengan mengumbar hingga media luar. Hanya saja, pria itu tidak ingin Rosé canggung karena pemberitaan yang tidak mengenakkan.


Berita?


Ya tentu saja, berita Rosé yang digadang-gadang sebagai perusak hubungan Vee dan Sena yang dalam setahun ini menjalin pertunangan resmi.


Dari jauh, banyak pasang mata yang menyaksikan betapa ketegangan sedang merenggut ketenangan sang pengantin. Entah bagaiaman pemandangan itu justru membuat orang terdekat merasa tenang, akhirnya, iya akhirnya kebahagiaan akan menjemput keduanya.


Seno dengan kamera yang selalu dibawanya membidik tanpa henti untuk mengabadikan momen pernikahan yang mengharukan. Sampai saat keduanya saling mengucap janji, Sandara ibu Rosé sampai berlinang air mata yang akhirnya dihampiri oleh Dera untuk memeluk besannya. Tak kalah juga, Toby dan Fandi saling merangkul hingga menepuk pundak bangga dengan keputusan anak-anaknya.


Di samping kanan ada yang menunduk sembari membasuh air mata bahagia juga, James, akhirnya pria pelindung Rosé itu sangat lega mengetahui saudaranya dapat tersenyum di depan sana. "Semoga lo bakalan sembuh dengan ini, Lyn," lirihnya yang disaut usapan pelan di bahu kirinya.


"Adikku pasti akan sembuh kan, Jam!" ucap Candra dengan tatapan sendu.


James mendongak ke arah kiri dimana Candra berdiri disampingnya. "Tentu saja, Bang. Setelah ini akan ada kejutan. Semoga." ungkapnya.


Wendie menyaut dengan punggung tangan mengusap pipinya yang basah. "Aku senang jika itu terjadi."


Suara riuh tepuk tangan menandakan jika prosesi pengucapan janji telah selesai di ucapkan. Seperi adat atau ya mungkin sudah menjadi list dalam upacara pernikahan, mempelai pria harus mencium istri, jelas sudah sah menjadi istri.


Vee tersenyum saat matanya menatap netra wanita di depannya, Rosé tampak sangat cantik dengan wajah cerah, make up natural yang diaplikasikan di wajahnya sungguh menghipnotis Vee semenjak tadi.


Vee jadi tidak sabar untuk malam nanti.


Sedangkan Rosé sedari tadi menahan rasa membuncah yang ada di rongga dadanya. Tak kuat dengan sensasi memabukkan yang selalu di impikan sejak dulu, berdiri disini bersama Vee yang mendampingi adalah salah satu jurnal yang sudah di list di buku impiannya. Hanya pria ini saja yang berhasil dituliskan namanya.


"Bang, kapan ciumannya. Aku capek memegang kamera, menentukan fokus sangat susah jika kau tahu." teriak Seno tidak tahu malu. Sungguh anak tikus kesayanan Rosé itu sangat blak-blak kan dalam berkata hingga membuat yang lain tertawa.


"Nona, pipimu memerah," sahut Lucky membuat Rosé menggigit bibir bawahnya karena terlampau malu.


"Kau siap?" tanya Vee lirih.


Bukannya menjawab Rosé malah menunduk, ya Tuhan drama apa lagi ini. Kenapa Rosé sampai malu begini.

__ADS_1


Namun dugaan tentang ********, eh, rasa malu maksudnya, itu terbantah jika James yang melihatnya dari bawah. Dugaan pria itu berbeda hanya dengan melihat mata Rosé yang beberapa kali memejam dengan kuat. James meremat jarinya seraya berdoa.


Lo pasti bisa, Lyn. Jangan lemah.


Vee paham kali ini. Pria itu memegang telapak tangan Rosé untuk di taruh di dada miliknya, tempat yang bersebrangan dengan jantungnya yang sedang menggila. "Rasakan, detak jantungku," Vee menjeda. Menunggu reaksi Rosé dengan tatapan memuja. "Sangat cepat 'kan. Aku sangat bahagia, melebihi apapun. Itu karenamu. Istriku," imbuhnya.


Sedang Rosé merasakan dentuman itu yang nyaris sama dengan miliknya, bedanya, jantung Rosé lebih gila bahkan ia merasakan ada pesta di dalam sana, alunan musik romantis mengobrak-abrik indra dengarnya, seakan penggiring segala kebahagiaan berada di sisinya.


Ucapan Vee beserta ketulusan di dalamnya membuat Rosé mendongakkan kepala untuk menatap wajah suaminya. Setetes air mata yang sangat ditahan sedari tadi telah rela ia jatuhkan. Kesakitan yang mendera di area biasanya hilang seketika, apakah ini bahagia? Mungkin itu yang sedang di pertanyakannya.


Sedangkan Hana yang berada di samping suaminya menatap ke depan sana dengan harapan yang begitu besar. Harapan yang mampu merubah hidup keluarga yang telah lama mati—menurutnya. Memberikan hal baru yang sangat di nanti-nanti.


"Sepertinya hanya Vee yang mampu menyembuhkan, Rosé," ucap Hana menjurus kepada suaminya.


Niko mengangguk. "Sepertinya." Lengan kekar itu merangkul pundak Hana dari samping. "Kau sangat bahagia?" tanyanya.


"Tentu saja." jawab Hana. "Tapi aku gagal sebagai Dokter, nyatanya Vee lebih bisa mengontrol saraf Rosé yang sempat menegang." lanjutnya dengan bibir yang mengkerut kecewa.


Niko bergidik mendengar respon istrinya, lalu melirik kesamping dan berbisik. "Kau cemburu dengan Vee? Belum dua bulan kau jadi Dokter pribadinya, Rosé masih sangat membutuhkanmu. Disini aku lebih merasa bersalah, kenapa tidak sejak dulu saja aku memindahkan Rosé ke Indonesia."


"Kak, kalian semua berhutang padaku," protes Nesha yang merujuk pada Niko.


Janga lupakan sosok satu ini, anak bungsu keluarga Bellamy ikut serta untuk menyaksikan pernikahan kakak kesayangannya.


Niko menatap adiknya dengan malas. "Kakak masih belum memaafkanmu, Nesha."


"Beda cerita, Kak," protesnya dengan memincingkan mata tajam.


"Tetap saja, tindakanmu lancang dan berbahaya."


Niko sepertinya memang belum memaafkan adiknya satu ini. Benar saja, tidak begitu mudah untuk pria dewasa seperti Niko menyepelekan tindakan bahaya yang di lakukan Nesha.


"Yang penting aku sehat 'kan, kak," Nesha tetap tidak mau kalah.

__ADS_1


"Ssshtt! Sudah, sudah, yang terpenting Nesha tetap sehat 'kan," lerai Hana. Lalu tatapannya berpindah pada Nesha. "Kau juga nakal, jangan seenaknya pindah Negara hanya karena kau ingin, kau punya keluarga yang mengawatirkan mu, kakak harap kau mengerti."


Detik itu juga Nesha diam. Gadis itu hanya akan diam jika Hana yang berbicara. Cukup mudah.


Sedangkan sedari tadi yang tidak dalam jangkauan sedang menangis dramatis dengan tissue yang ada di genggamannya, siapa lagi Jika bukan Joseph sahabat kuda kesayangan Rosé. Pria itu menyendiri dibagian paling pojok belakang, meratapi nasib, eh bukan, merayakan sendiri kebahagiaan tanpa mau di usik orang lain.


"Kau cemburu melihat temanmu menikah?"


Sontak Joseph menoleh karena wanita cantik dengan kulit bening tiba-tiba mengintruspi dan mengganggu ketenangan miliknya. Joseph berantakan dengan wajah memerah bekas tangisnya, lantas pria itu segera mebersihkan dengan tissue agar telihat mempesona.


Dasar pria.


"Kau? Kenapa kau kemari?" tanyanya saat menyadari sosok wanita itu sangat familiar di matanya.


"Aku diuandang langsung oleh Rosé."


"Aku tidak percaya, Sena," bantah Joseph.


Wanita itu tersenyum getir, menatap Rosé yang sedang dipaut oleh Vee di atas altar diikuti sautan tepuk tangan dan teriakan mengharukan. Sangat berbeda dengan hatinya yang kelam melebihi gelapnya malam.


Jika ditanya siapa yang paling menderita, jawab Sena tentu saja dirinya. Dicampakkan Vee dan di remehkan Rosé sekaligus. Sena bukannya benci dengan Rosé, melainkan kecewa. Namun jika dipikir, dirinya bersalah juga. Pengancaman pada Rosé memang sudah keterlaluan, terlebih ia lah penyebab Rosé tak lagi bisa menyimpam benih dalam kandungan.


"Sena, aku harap kau dapat merelakan Vee untuknya," pinta Joseph. "Aku yakin Rosé tidak sejahat itu untuk mengundangmu kesini," lanjutnya.


Sena akhirnya mengangguk saja. "Aku memang datang tanpa di undang," ungkapnya.


Kini Joseph menatap Sena dengan intens tanpa bicara. Ya, pria itu mengakui pesona Sena sangatlah memikat. Wajah itu tak pantas jadi orang jahat, terlalu seperti dewi untuk rusak dengan mental yang tak terkendali.


Joseph tahu bagaimana mulut wanita berparas cantik di depannya ini, bagaimana cara dia mejatuhkan Rosé dengan hinaannya. Mengolok Rosé cacat yang nyatanya kareana ulah bibir cerobohnya. Joseph tahu, karena saat Sena mendatangi Rosé beberapa hari yang lalu, pria itu berada di balik pintu untuk menyaksikan dan mendengarkan perdebatan itu.


Sena lantas tersenyum miring menanggapi. Matanya masih tidak lepas dengan tontonan Vee dengan sumringah senyumnya, pria itu benar-benar bahagia tanpa Sena, ia menyadari, sangat sadar sudah terbangun dari mimpi. Memiliki Vee sejak awal hanyalah sebuah hayalan, fatamorgana yang tak bisa dijadikan kenyataan.


"Aku datang kesini hanya untuk memastikan mereka bahagia."

__ADS_1


Lantas setelah mengatakan kalimat itu. Kaki yang berbalut rok sebatas lutut itu berbalik menuju pintu luar, Sena pergi hingga punggungnya tak terlihat lagi.


__ADS_2