Back To You

Back To You
Chapter 159


__ADS_3

Rafa tidak bisa memusatkan perhatiannya pada pekerjaannya. Bukan karena keterlambatannya sehingga membuatnya ketinggalan banyak materi presentasi, tetapi karena sosok orang yang kini duduk di seberangnya.


Sejak tadi ia tidak berhenti memandangi Hanna, sambil berpikir alasan apa yang membuat Hanna bekerja untuk Abangnya. Bahkan sesekali Rafa melirik ke arah abangnya, merasa jengkel karena selama ini abangnya berperan serta dalam menyembunyikan Hanna disini. Terlebih lagi selama ini Rayyan bersikap seolah tidak tahu-menahu, dan justru malah bersikap cuek jika obrolannya sudah menyangkut Hanna.


Hanna yang merasa diamati terus-menerus oleh Rafa pun menjadi risih. Dia sudah mencoba untuk tidak menganggap keberadaan Rafa disana, sehingga dia bisa fokus untuk pertemuan ini. Tetapi tatapan Rafa padanya seolah dapat menembus dirinya dan membuyarkan segala.


Baru kali ini Hanna merasa gugup saat bekerja. Padahal dihari pertamanya bekerja disini, Hanna masih dapat bersikap santai dan tenang. Tapi hari ini, dia benar-benar gugur karena Rafa berada di ruangan yang sama dengannya.


Sebenarnya Hanna sudah tahu jika hal ini akan terjadi saat dirinya memilih untuk bersembunyi dengan bantuan Rayyan. Tetapi Hanna tidak menduga jika dirinya tidak bisa bersikap biasa saja kepada Rafa setelah setahun ini tidak berjumpa.


Dalam hati Hanna berdoa agar pertemuan ini akan berlangsung lebih lama, agar dirinya tidak memiliki alasan untuk dicecar berbagai macam pertanyaan oleh Rafa. Dia belum siap, meskipun Rayyan telah memperingatkannya sejak minggu lalu.


...****************...


"Sudah jam makan siang." Rayyan melirik ke arah jam tangannya. "Mungkin kita harus menjeda meeting-nya terlebih dulu. Atau... ada yang perlu ditanyakan, Pak Rafa?"


Rayyan sengaja menekankan nada bicaranya saat memanggil nama adiknya itu. Semua orang mengira karena Rafa datang terlambat pada pertemuan kali ini, sehingga Rayyan sengaja memancing adiknya itu.


"Banyak." Rafa menjawab dengan nada tegas, dengan tatapan tajam yang masih tertuju pada.


"Banyak hal yang ingin saya tanyakan." Imbuhnya.


Rayyan mengangguk, mengetahui situasi terkini melalui jawaban adiknya. Dia mengerti anak itu pasti kaget setengah mati saat mengetahui keberadaan Hanna disini, padahal Rafa sudah pusing mencarinya kemana-mana setahun ini.


Adiknya itu pasti juga akan melampiaskan kemarahannya kepadanya nanti, karena bagaimana pun Rayyan terlibat dengan upaya menyembunyikan Hanna. Rayyan juga menebak pasti Rafa merasa menyesal karena baru kali ini ia mau ikut dengannya meeting ke Lombok.


Padahal jika dari dulu Rafa menerimanya dan tidak menyerahkan tugas itu kepada Zach, pasti dirinya sudah bertemu dengan Hanna sejak dulu.


"Karena ini bersifat pribadi, mari kita semua berpindah ke ruangan sebelah saja untuk menikmati makan siang kita." Ucap Rayyan sambil berdiri dan membenarkan posisi dasinya.

__ADS_1


Hal itu sontak membuat semua orang saling berbisik mengenai maksud perkataan Rayyan barusan. Tio pun dibuat melongo tak percaya dan memandangi Rafa serta Hanna secara bergantian.


Sesaat setelah perkataannya, Rayyan beranjak keluar ruangan yang diikuti oleh yang lainnya. Hingga akhirnya hanya tersisa Rafa dan Hanna masih terduduk di kursi mereka masing-masing.


Hanna tampak salah tingkah, sedari tadi dia mencoba untuk mengalihkan pandangannya. Begitu yang lainnya telah keluar ruangan, Rafa segera bangkit dari duduknya. Membuat Hanna kaget dan refleks ikut berdiri sambil menatap Rafa.


Rafa lantas berjalan menuju Hanna dengan langkah lebarnya. Padahal sebenarnya ingin sekali ia melompati meja itu, atau malah menyingkirkan meja-meja itu agar segera bisa berhadapan dengan Hanna.


"H-hai, kak Rafa." Hanna berucap dengan terbata. Senyumnya pun terlihat kaku, karena sebenarnya dia tidak tau harus berkata apa.


Rafa tidak menggubris sapaan Hanna barusan. Ia tetap melangkah dengan tatapan yang masih lurus tertuju kepada Hanna. Lelaki itu langsung menarik Hanna dan memeluknya dengan erat, sembari menghela nafas lega.


Tentu saja Rafa merasa lega. Gadis yang dicarinya hingga ke lubang semut setahun ini telah berada di depan matanya, dan ia berjanji dalam hati tidak ingin kehilangan jejak Hanna lagi.


...****************...


"K-kak...." Hanna berbisik, sambil sedikit mendorong tubuh Rafa agar melonggarkan atau bahkan melepaskan pelukannya.


Rafa bergeming, ia tetap menutup kelopak matanya dan tidak merespon Hanna yang sejak tadi mencoba melepaskan diri darinya.


"Kak Rafa, udahan ya... pelukannya. Takutnya... nanti ada orang yang masuk ke ruangan ini." Hanna berucap lagi.


Kali ini Rafa merespon, tetapi tidak juga melepaskan pelukannya.


"Siapa yang berani masuk? Tadi Abang kan udah bilang kalo kita ada urusan pribadi."


Hanna memukul lengan Rafa, gadis itu menggerutu yang kemudian membuat Rafa mau tidak mau melepaskan pelukannya. Diamatinya wajah Hanna yang masih mengomel sambil merapikan rambut dan bajunya.


"Emang kenapa kalo orang-orang liat baju kamu kusut? Takut dikira kita habis ngapain disini? Hm, pikirannya udah mesum aja nih bocah."

__ADS_1


Rafa mengusak rambut Hanna dengan gemas, yang tentu saja membuat Hanna mengomel kembali.


"Kak Rafa! Jadi berantakan nih!" Hanna berseru sembari melayangkan tangannya untuk memukul lengan Rafa lagi.


Rafa hanya tertawa, lalu kemudian ia mengulurkan tangannya untuk membantu Hanna merapikan rambutnya.


"Tumbenan rambutnya dipendekin sebahu?"


"Disini panas banget."


"Iyalah, deket pantai pula kan? Jadi, setahun ini kamu ngumpet disini? Dengan bantuan Abang?" Rafa akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak tadi membuatnya penasaran.


"Ituuu... eee... ceritanya panjang."


"Terus kamu tinggal dimana? Di hotel ini juga? Atau Abang kasih kamu rumah? Kamu... bukan jadi selingkuhan Abang kan?"


"Kak Rafa!"


Untuk ketiga kalinya, Hanna kembali memukul lengan Rafa. Dilengan yang sama, tapi kali ini pukulannya terasa lebih sakit.


"Ngawur deh ngomongnya! Mana mungkin aku jadi selingkuhannya Abang Rayyan, dan enggak mungkin juga kan Abang Rayyan selingkuh! Abang Rayyan kan enggak kayak kak Rafa." Hanna bersungut-sungut.


Rafa mendudukkan dirinya di meja, lalu bersedekap dan kembali menatap Hanna.


"Abang emang enggak kayak aku."


Jawaban Rafa barusan, langsung membuat Hanna tidak hati meskipun benar adanya.


"Aku kemarin liat Abang menjauh saat nerima telpon. Abang juga keliatan mencurigakan karena dia telponan sambil lirik-lirik ke aku."

__ADS_1


__ADS_2