Back To You

Back To You
Lebih Baik?


__ADS_3

"Apa yang ingin kamu bicarakan?" Tanya lembut dari mulut pria bernama Vee kepada wanita di depannya.


Iya memang begitulah seorang Vee Kanesh Bellamy, seorang pria yang menjunjung tinggi hormat kepada wanita, mengingat dirinya juga memiliki beberapa wanita di kehidupannya, ibunya, adiknya, neneknya, kakak iparnya dan juga tentu saja Alyne-nya. Tak mau dan tak pernah terbayangkan jika wanita-wanita yang sangat dicintainya itu mendapat perlakuan kasar dari seorang pria suatu saat nanti.


Namun semua pikiran itu terasa dihempas kala netranya menatap wanita yang ada didepannya sedang tersenyum penuh harapan. Apa ada yang salah dengan Vee? Apakah sapaan darinya terlalu lembut sampai mampu menggelitik urat bibir untuk tertarik keatas dari ranum wanita cantik itu? Vee tidak bisa membiarkan ini terja....


"Aku yakin kau akan menarik kata-katamu untuk membatalkan pertunangan kita 'kan, Vee?" Belum sempat Vee menyelesaikan pertanyan-pertanyaan dalam hatinya, wanita itu berkata yakin sembari bertanya, kini Vee lah yang di buat tidak yakin, menurutnya itu bukanlah sebuah pertanyaan namun sebuah permintaan terlebih memerintah.


Vee terjebak dengan dirinya sendiri, salahkan dia memiliki senyum yang sangat menawan? salahkan orang selalu berpikir berlebihan atas perilaku baiknya? Terlebih wanita yang tepatnya adalah Sena itu tengah membungkus harapan sekantung plastik dari sosok pria tampan yang akhir-akhir ini merengkuh hidupnya.


"Dua minggu lagi kita menikah, persiapan pernikahan kita sudah delapan puluh lima persen, Vee?" nampaknya Sena membawa persiapan yang sangat matang kali ini.


Vee sebenarnya sangat gusar, namun tatapannya melembut, pun mengembuskan nafas tenang. "Bagimana kau akan hidup dengan orang yang perasaannya mati untukmu, Sena?"


Vee tahu ini adalah perkataan yang sangat kasar dan dapat melukai perasaan wanita yang sudah bersamanya selama satu tahun terakhir ini, namun, berkata jujur bukankah jauh lebih baik.


Vee sangat was-was, dirinya tidak tega melihat wanita menangis, terlebih wanita dengan dress hijau di depannya ini sangat mudah tersentuh hatinya, Vee tahu itu. Namun seakan terhempas oleh kenyataan, Sena tersenyum berjuta ketulusan didalamnya.


"Kau tau sendiri 'kan, Vee. Bukankah aku jauh lebih baik dan bisa meberikan keturunan di keluargamu!! Bukan seperti Rosé yang sampai saat ini masih menolak mu!!"


Harapan yang sudah melambung tinggi seakan terjatuh begitu saja, kenyataan itu memukul talak sampai menembus jantung


Vee memijit pelipisnya yang terasa berdenyut, sedangkan Sena merasa bunga bermekaran di atas kepalanya, senang melihat pria berpenampilan kusut itu seakan memikirkan serius ucapannya.

__ADS_1


Hey Sena. Ini memang masalah serius jika kau tau.


"Kami masih memiliki Nesha yang sehat, dia bisa memberikan keturunan untuk keluargaku." ucap Vee dengan seringaian tertunduk, jujur dirinya sedang memikirkan cara bagaimana lari dari keadaan ini.


Salahkah Vee yang memiliki wajah tampan? sehingga mampu membuat Sena tetap bertahan walau dirinya telah talak mengatakan tidak ada cinta. Vee berharap di kehidupan selanjutnya dia diciptakan sebagai monyet saja.


Bahu Sena merosot begitu saja, senyumnya berubah getir menandakan kegagalan, namun bukan Sena namanya jika menyerah begitu saja—sekali lagi masih punya harapan.


"Nesha...masih ingin bersenang-senang, Vee. Dia juga perempuan. Apa jadinya jika semua keturunan laki-laki dari keluargamu tidak dapat melahirkan satu anak pun. Kuharap kau memikirkan hal itu, dan juga tidak ingatkah kau tentang keinginan besar nenek yang berharap banyak padamu."


Lalu pun Sena beranjak dari tempat duduknya setelah sekali menyesap teh yang sempat dipesan, perempuan itu sangat yakin masih ada banyak lagi bantahan yang mungkin diterimanya jika dirinya tetap bertahan disana. Bukankah meninggalkan Vee dengan kalimat-kalimat menusuk itu adalah ide yang bagus.


Tepuk tangan untuk Sena.


Vee seperti bajingan saja.


Bunyi notifikasi membuyarkan lamunan yang sudah sampai batasnya, Vee segera berlari sesaat setelah melihat layar benda pipih yang ada digenggamannya.


Bang Joan: Rosé sudah bangun. Setelah melihatnya, kau datanglah ke ruanganku. Penting.


...****************...


"Aku pengen liat James, mom." Rosé merengek kepada ibunya, ia hanya ingin bertemu James sekarang juga, titik.

__ADS_1


Itulah kalimat pertama Rosé setelah seminggu dirinya mengalami koma, ingat kan Rosé untuk tidak melakukan hal fatal mengingat otaknya itu sedikit bermasalah akibat terlalu sering kecelakaan, alhasil inilah yang terjadi. Sandara yang berada disana sangat senang setelah Dokter Joan memeriksa keadaan putrinya dan mengatakan semua sudah berjalan dengan normal, tidak ada yang perlu di khawatirkan.


"Alyne, James masih di perjalanan menuju kesini," ucap lembut Sandara dengan mengelus surai hitam milik Rosé.


Rosé sangat ingin melihat James, walau bagaimanapun seingatnya pria itu sangat marah, seakan tidak sabaran, Rosé mulai gelisah karena James tak kunjung datang, sedangkan kalimat dari Sandara diabaikan begitu saja.


"Aku ingin bertemu James, mom." ucapnya parau disertai buliran lembut yang keluar dari pelupuk mata.


"Alyne..." ucap terburu dari pria di seberang sana setelah sesaat dirinya menenggelamkan tubuhnya ke dalam Ruang VVIP bernuansa putih yang tepatnya adalah ruang rawat inap milik Rosé.


"James," panggilnya bersamaan mencoba mendudukkan diri dengan tidak sabar, oh jangan lupakan tangannya yang melentang ingin menyambut kedatangan sepupunya—berlebihan memang.


James semakin mempercepat langkahnya, tidak ingin membuat Rosé menunggu lama, lalu pun direngkuhnya tubuh wanita dengan bibir pucat didepannya.


"Maafin gue, Lyn, maafkan gue." ucap James yang tanpa disadarinya sudah terisak panik, takut Alyne-nya akan marah, tindakan terakhir James sungguh sangat keterlaluan.


Rosé menggeleng lirih. "Gue yang harus minta maaf, maafin gue, Jam, gue udah ngecewain lo."


Saling menyalahkan pun beradu sampai beberapa saat, Sandara yang ikut serta didalamnpun hanya mampu melihat dengan semburat senyum yang menemaninya. Sandara sempat marah pada James yang membuat putrinya sampai seperti itu, tapi jauh dilubuk hatinya dapat merasakan kekesalan yang dipendam oleh pria yang saat ini menciumi pucuk kepala putrinya.


"Jam, wajah lo kenapa? Kenapa lo jelek banget coba? Apa itu model make up untuk pria jaman sekarang?" tanya polos Rosé yang langsung dihadiahi jitakan di dahinya.


Rosé masih ternganga serta mengelus keningnya yang terasa panas, James merasa waswas akan tingkah Rosé, pria dengan bibir tebal itu menetap lekat manik mata wanita pemilik pipi gempul di depannya, mencari tahu apakah dugaannya benar terjadi. "Jam, siapa yang mukulin lo?"

__ADS_1


Sambil mengelus dada, James bersyukur kejadian tujuh tahun yang lalu tidak terulang, di mana Rosé harus kehilangan ingatan selama dua tahun.


__ADS_2