
Hanna berulang kali menengok ke arah Rafa yang sedang fokus menyetir. Tidak, Rafa tidak hanya fokus menyetir. Hanna tahu jika Rafa pasti juga tengah memikirkan pertemuannya dengan Alita tadi.
Sejak keluar restoran, Rafa terus terdiam menggiring Hanna untuk berjalan cepat menuju tempat parkir. Cengkeraman pada pergelangan tangan Hanna pun cukup keras, membuat tangan Hanna terasa sakit dan memerah.
"Kak Rafa masih jengkel soal di restoran tadi?"
Akhirnya, Hanna memberanikan diri untuk berbicara setelah hampir setengah jam diam saja. Meskipun tidak mendapat balasan dari Rafa, tapi Hanna tetap mengeluarkan suaranya.
"Hanna minta maaf kalo dengan ngajak kak Alita makan bareng tadi bikin kak Rafa jengkel. Tapi... menurutku, kak Rafa enggak bisa ngehindarin lagi pertemuan kak Rafa sama kak Alita. Mau sampai kapan? Misal sekarang enggak ketemu, suatu saat nanti pasti juga ketemu kan?"
"Lo enggak ngerti apa yang gue rasain, Han."
"Iya, aku emang enggak ngerti dan enggak paham gimana rasanya." Hanna mengangguk. "Tapi menurutku, apa yang kak Rafa lakuin tadi itu salah. Selain karena kak Rafa selalu ngehindarin kak Alita, tadi kak Rafa juga terang-terangan nunjukin sikap cemburu kak Rafa. Padahal kak Alita bukan siapa-siapa kak Rafa lagi, jadi bebas aja kan kak Alita mau jalan atau dijemput sama siapa."
Rafa diam sejenak, lalu menepikan mobilnya untuk menyampaikan uneg-unegnya pada Hanna yang sok tahu ini.
"Theo itu cowok yang bikin gue sama Alita putus, Han. Dia orang ketiga yang sengaja hadir ditengah-tengah gue sama Alita, padahal dia tau kalo Alita masih pacaran sama gue."
Awalnya Hanna cukup terkejut dengan nada bicara Rafa yang meninggi. Rafa terdengar seperti sedang membentak-bentak Hanna. Tapi Hanna akhirnya memaklumi, karena sepertinya Rafa memang butuh melampiaskan amarahnya yang ia tahan sejak tadi.
Malah kini, Hanna dengan sengaja memancing amarah Rafa. Hanna tidak peduli jika nanti Rafa akan mendiamkannya, karena Hanna hanya ingin menyampaikan pendapatnya.
__ADS_1
"Kak Rafa yakin itu cowok sengaja deketin kak Alita? Ada bukti?"
Baru ditanya seperti saja, Rafa seperti mati kutu. Rafa memang tidak mengenal Theo secara langsung. Rafa hanya melihat Theo sekali dan dilengkapi oleh penuturan Alita yang mengatakan jika ia merasa nyaman bersama Theo sejak bekerja part time itu.
"Yaaa... tapi kan dia pasti tau kalo Alita punya pacar. Alita juga sering pasang foto kita pas lagi jalan." Rafa membela diri.
"Ya itu kan maunya kak Rafa. Lagian ya kak, mereka kan kerja bareng, pasti sering ngobrol juga, ya kalo tiba-tiba muncul rasa nyaman diantara mereka, kak Rafa enggak bisa nyalahin siapa-siapa. Itu perasaan kak, muncul dengan sendirinya."
"Seenggaknya Alita bisa nahan itu semua, Han. Pikirin perasaan gue gitu."
Tiba-tiba saja Hanna tergelak dengan kencangnya. Tangan kanannya bahkan refleks memukul lengan kiri Rafa dengan cukup keras. Fungsi kedua tangan wanita saat tertawa kan memang itu kan ya? Yang satu untuk nutup mulut pas ketawa, yang satunya untuk mukul orang didekatnya.
Rafa terdiam. Sesungguhnya ia merasa malu kena skak mat bocah lima belas tahun yang bahkan belum pernah berpacaran sekalipun.
"Coba diinget-inget, emang dulu kak Rafa sempet mikirin kak Alita pas ngeladenin mantan kak Rafa yang ganjen itu?" sambung Hanna lagi dan Rafa masih saja tetap diam.
"Enggak kan? Yang ada juga kak Rafa mikirin diri sendiri, puas noh ciuman sambil grepe-grepe mantan. Giliran kak Alita dideketin sama cowok lain aja mencak-mencak, kayaknya kak Rafa ini kok agak kurang waras hahahaha...." Hanna dengan sengaja meletakkan telapak tangannya didahi Rafa.
"Diem lo!" Rafa mengibaskan tangan Hanna. "Lo tuh belum pernah ngalamin pacaran dan kejadian kayak yang gue alami, makanya gampang kalo nyeramahin orang."
"Eh? Kayak gitu enggak butuh pengalaman, kak. Aku bisa komentar gini karena selama ini aku coba mikir semuanya pake perasaan juga. Aku berandai-andai kalo aku yang jadi kak Alita terus digituin sama kak Rafa."
__ADS_1
"Terus... kalo lo jadi Alita, lo bakal kayak gitu juga?"
"Ya enggaklah. Kak Alita tuh terlalu baik, udah dibohongin kayak gitu masih mau maafin dan ngasih kesempatan buat kak Rafa. Kalo aku sih ya mending putus aja habis aku cakar-cakar gitu. Ngapain ngasih kesempatan lagi, kalo setelahnya kita jadi mikir-mikir tiap mau mesra-mesraan gara-gara keiinget video itu."
"Iya, untung Alita enggak kayak lo."
"Ya makanya harusnya dari kemarin-kemarin tuh bersyukur punya pacar kayak kak Alita. Giliran sekarang udah dipepet yang lain aja marah-marah enggak jelas."
"Emangnya... kemarin gue enggak bersyukur? Sembarangan aja kalo ngomong."
"Au ah! Usaha kali, kurang banyak. Jadi enggak bisa ngeyakinin kak Alita buat ga was-was lagi sama hubungan kalian. Ga tau deh ah, pusing aku!"
"Makanya enggak usah sok-sokan mikirin cinta. Lo belajar aja yang pinter, katanya mau kuliah di luar negeri? Sekalian tuh doain gue, biar nanti dikasih kesempatan buat balikan lagi sama Alita."
"Iihhh, ogah ya!"
"Sewot amat sih lo? Orang bukan elo yang gue ajak balikan." Rafa melotot ke arah Hanna yang sedari tadi menjadi sangat menyebalkan itu.
"Ya kalo gue yang jadi kak Alita sih ogah balik lagi sama mantan. Ogah Hanna patah hati untuk kesekian kali sama orang yang sama, mending cari yang lain. Cowok juga bukan kak Rafa doang."
Hanna langsung saja melengos ke arah jendela disampingnya. Sedangkan Rafa masih nampak shock dengan apa yang Hanna ucapkan. Dalam hati ia berdoa agar Alita tidak memiliki pemikiran seperti Hanna, dan semoga hanya Hanna saja yang memiliki pemikiran seperti itu. Aamiin....
__ADS_1