Back To You

Back To You
Kejutan


__ADS_3

Di cuaca dingin seperti ini paling enak makan ramen. Rosé tersenyum seraya tangannya sibuk menyeleksi ramen yang berada di rak sebuah supermarket. Dia selalu ingat waktu dulu masih bersekolah, sering sekali dirinya makan ramen saat pulang ke apartemen karena malas untuk memasak.


Pengaruh buruk dari kekasihnya dulu memang tertular begitu erat, tak jarang pula Rosé beserta kekasihnya itu menghabiskan Ramen berdua dalam wadah yang sama.


Ingat mantan lagi 'kan.


"Menyebalkan," gumam Rosé bersamaan menghembuskan nafas keatas sehingga rambutnya menyibak tertahan.


"Siapa yang menyebalkan?" Celetuk pria bersuara bariton yang berada di samping Rosé yang tanpa dia sadari kapan datangnya.


"Ya Tuhan kau mengagetkanku, Nesh." Rosé menepuk pelan lengan Vee. "Kebiasaan ih."imbuhnya.


"Mau makan ramen?"


"Hu'um," jawabnya singkat karena masih sibuk memilih.


"Boleh aku ikut makan bersama?" Pinta Vee sedikit memohon dengan muka berbinarnya.


"Kanesh," Rosé memutar tubuhnya menghadap Vee, tatapannya menjadi sendu tak terartikan.


"Baiklah-baiklah," putusnya acuh namun otaknya terlalu pintar untuk suatu penolakan.


Sedangkan Rosé merasa lega lalu melanjutkan mengambil beberapa snack dan cola—itu juga termasuk pengaruh buruk dari Vee dulu.


"Permintaan ke-5," celetuk Vee dibalik kegembiraan Rosé.


Sialan.


Rosé menarik nafasnya kasar dan pasrah, niatnya ingin sekali Vee membatalkan permintaan yang dapat membuat tunangannya itu semakin gila karena ketakutan, namun pria itu selalu saja punya banyak cara.


"Kau menyebalkan."


"Terimakasih."


"Bodo, Nesh." Rosé berjalan cepat meninggalkan Vee yang cekikikan dibelakang.


Vee tipe orang yang akan selalu berusaha berada di dekat Rosé meski tau itu salah dan menyakiti tunangannya—egois kalau boleh dikata.


...****************...


Sesampainya di apartemen, Rosé maupun Vee dikagetkan dengan kedatangan Sena yang sudah berada di depan pintu.


Setelah Saroja pulang ke Bandung, Rosé memutuskan pindah lagi ke apartemen, semua dia lakukan hanya untuk menuruti bayinya Vee yaitu Sena, menurut Sena lebih berbahaya jika Rosé tinggal bersama ibunya Vee dibanding berada di apartemen seperti saat ini.


Namun juga ada alasan yang tak kalah penting dari itu. Keadaan yang tiba-tiba mencekam akibat secuil untaikan kata dari Sena yang sangat menyakitkan saat obrolan keluarga Bellamy beserta Rosé yang berada didalamnya, tak ayak membuat Rosé sakit hati dan memilih pergi tanpa meninggalkan jejak pertanyaan yang mencurigakan—kecuali Niko pastinya.


Juga, Sena lebih sering mengontrol Vee dimanapun dia berada, bahkan juga sering menongolkan dirinya di Rumah Sakit hanya untuk diam-diam mengawasi tunangan tercintanya, tidak sekalian ikat saja Vee agar tidak bisa pergi kemana-mana, Sen.


"Hai, Sena," sapa Rosé manis sekali, namun dalam hatinya dia tetap mengumpat, malas sekali bertemu bayi kucing yang mengekori singa.


"Hai, Rosé." Sena tak kalah manis untuk membalasnya, Vee merasa geli dan aneh saat melihat kelakuan mereka berdua.


"Aku masuk dulu ya," Rosé mencoba cepat mengindar dari pasangan itu, selain tidak ingin lama-lama bersandiwara dihadapan Vee, dia juga gerah melihat mereka yang terlihat serasi saat berdapingan—cemburu pastinya.


Acara makan ramen bersama gagal.


...****************...

__ADS_1


"Vee, kapan kita menikah?" Pertanyaan menohok dari Sena mampu membuat urat cerdas Vee terputus, lagi-lagi Sena dapat membuatnya tak berkutik, lama-lama Vee bisa idiot beneran.


Bukannya takut, hanya saja Sena terlalu baik padanya, saat-saat Vee diambang keputus asaan, dengan sabar Sena menemaninya, memberikan apapun yang terbaik meski Vee tidak pernah memintanya.


"Maumu kapan, Sen?" Jawabnya gugup namun tak terlihat, Vee juga masih sibuk dengan urusan berkas-berkas yang tak kalah membuat stres.


"Bisakan dipercepat, Vee? Bulan depan." pinta Sena tanpa ragu.


Sena memang sedikit putus asa akibat pembicaraan waktu itu bersama Rosé. Secara tidak langsung Sena merasa terancam atas kepercayaan diri Rosé yang sangat tinggi dengan mengatakan sangat gamblang bisa merebut Vee jika Rosé mau. Mungkin mengikat Vee dalam pernikahan akan membuat Sena sedikit lebih lega.


"Terserah kau saja mana baiknya," jawab Vee sekenanya.


"Benarkah?" sena melonjak memeluk Vee dari samping, mengecup pipi pria berkacamata itu dengan singkat.


Vee mencoba untuk biasa saja, meskipun hatinya menolak itu semua, ia tersenyum kaku dengan menganggukkan kepalanya samar sebagai jawaban untuk meyakinkan Sena.


"Aku akan mengatur semuanya, Sayang. Kamu nggak usah kawatir, pekerjaan mu terlalu banyak. Aku tidak mau kau sakit karena kelelahan."


Terkutuklah kau Vee, wanita ini terlalu baik padanya bukan. Bagaimana caranya Vee untuk menghindar dari situasi seperti ini, tidak tega juga menggoreskan luka pada wanita dengan bentuk tubuh mungil melebihi mantannya.


Vee sontak saja teringat oleh sosok Rosé, andai saja Sena tidak datang, sudah pasti saat ini dia sedang makan ramen dengan wanita jangkung itu.


Walaupun tidak bisa memiliki Rosé dalam pelukannya, setidaknya dapat melihat Rosé yang berada disekitarnya sudah cukup membuat Vee mengembangkan senyuman meski hatinya sakit teriris-iris.


Pernyataan cinta dari Rosé saat tertidur kapan hari tidak dapat membuat Vee yakin bahwa wanita itu benar masih menyimpan cinta untuknya. Toh Rosé selama ini tidak berusaha untuk mengatakan alasan dia meninggalkannya.


Vee memang enggan bertanya. Dia akan sangat lega bila Rosé sendiri yang secara terang-terangan berkata jujur padanya.


"Kalau kau masih mencintaiku, kau sudah pasti akan disampingku seperti yang dilakukan wanita ini, Lyn." batin Vee terasa menyedihkan.


"Kakak," teriakan seorang wanita yang baru saja masuk ke dalam apartemen Vee.


"Kakak, Nesha kangen bangeeeet, tinggal di Amerika bertahun-tahun sangat menjengkelkan, ups...."


"Amerika?" Vee melayangkan tatapan skeptis pada adiknya yang hanya berjarak satu tahun dibawahnya. Nesha masih setia membekap mulutnya dengan sengaja atas pernyataan yang terlontar secara sembarangan.


"Nesha, apa yang kamu sembunyikan dari kita? Jawab kakak!!" Vee marah, sangat marah.


Setahu Vee dan keluarga besar Bellamy, Nesha sedang menempuh pendidikan kedokterannya di Australia, bukan di Amerika.


"Kak...aku bisa menjelaskannya." Nesha sangat ketakutan, matanya berpindar ke segala arah untuk mencari alasan.


"Jadi, kamu berbohong selama ini? Selama enam tahun kau membohongi kami? Oh Tuhan." Vee frustasi, bagaimana bisa dia teledor terhadap adik perempuan satu-satunya yang baru saja mendapat gelar Dokter-nya.


Nesha berpindah menatap lantai sambil merapal do'a, Sena tak tinggal diam, dia mencoba menenangkannya dengan mengelus punggungnya berharap Nesha tidak ketakutan.


"Bang Niko juga nggak tahu?"


Nesha hanya mengangguk sebagai jawaban, seperti dia akan menangis, tiba-tiba Vee menarik lengan Nesha, memeluknya erat. "Tapi kau baik-baii saja 'kan? Maafkan kakak, kakak hanya terkejut, maaf membentakmu."


Tak pernah sekalipun Vee membentak Nesha seumur hidupnya, namun ia orang pertama yang paling cerewet terhadap gadis berkulit bening itu, berbeda dengan Niko yang sangat kalem dalam berbicara.


Nesha tampak tidak percaya didalam pelukan Vee. Tuhan masih sayang dengannya ternyata, buktinya baru saja berdoa agar tidak dilahap habis-habisan oleh kakaknya namun, kenyataan kakaknya sangat manis.


...****************...


"Bang, sepertinya rencana kita gagal, huuhh," ucap pria berbalut kaos hitam longgar berpadu dengan celana cream yang nampak serasi.

__ADS_1


"Minumlah dulu kopi desa-mu, kau harus menormalkan emosimu Joseph." balas pria pemilik dimple di kedua sisi pipinya.


Niko; orang itu sedang duduk di sudut meja sebuah cafe minimalis namun nampak architec di dalamnya. Setelahnya muncul seonggok manusia yang lebih pendek dari keduanya masuk melalui celah pintu utama, setelah dentingan lonceng itu maka kedua pria yang saling berhadapan menoleh pada sumber suara lalu melambaikan tangan.


"Jam, disini," Niko sedikit berteriak memberi petunjuk pada manusia bernama James yang berada disana dengan mata yang memeta seluruh area dalam cafe.


"Hehe, maaf bang, Joseph, aku sedikit terlambat, ada operasi," sungkan James setelah mendaratkan bokongnya untuk didudukan.


"Santai, Jam," timpal Joseph.


"Nggak salah denger nih, Jo? Bukannya dari tadi kau emosi terus!!" sarkas Niko dengan sedikit gelengan.


"OK. Ayo kita bicara, apa yang harus kita lakukan, banyak kesalah pahaman dari awal." James mencoba untuk membicarakan inti pertemuan yang menurutnya sangat penting, ia sosok yang sangat serius apabila menyangkut orang yang paling disayang.


Ketiga pria dewasa itu memang tengah merencanakan hal besar untuk kesembuhan Rosé. Rencana yang sedari awal tersusun rapi ternyata berantakan di akhir. Mereka berharap Rosé mendapatkan kepercayaan diri bahwa wanita tidak bisa memiliki keturunan bukanlah hal besar yang mampu merusak kebahagiaan keluarga.


Niko adalah pencetus rencana ini; dengan Rosé yang dapat melihat langsung bagaimana hubungan Hana istrinya dengan Dera ibunya yang terlihat saling menyayangi, terlebih Dera menganggap Hana sebagai anaknya sendiri meskipun menantunya itu tidak bisa hamil.


Harapan untuk menumbuhkan kepercayaan diri dari Rosé belum sampai akhir, namun gagal total.


"Ini salahku," secuil kalimat meluncur lirih dengan nada penyesalan yang tertahan begitu lama.


"Maksudmu?" respon James dengan memincingkan matanya ke arah Joseph, begitupun dengan Niko yang tak kalah heran dan bertanya-tanya dalam hati.


Joseph meluruhkan pundaknya kebawah ditemani hembusan nafas yang pelan dan lemah. "Aku sebenarnya tahu Vee adik Bang Niko."


"Sejak kapan?" respon cepat Niko.


Sedangkan James merasa cemas dan sedikit timbul ngilu di hatinya, pasalnya ia juga tahu Niko adalah kakak dari Vee. Namun dia baru sadar bahwa ini adalah suatu kesalahan tidak mengatakan dari awal. James merutuki kebodohannya dalam hati.


"Itu tidak penting sekarang, bang. Lalu bagaimana dengan Rosé sekarang, aku yakin dia tertekan?" Joseph menyandarkan punggungnya pasrah pada sandaran sofa, meremat rambutnya yang tidak bersalah.


"Kalau kau dapat melihatnya langsung, pasti kau akan merasa duniamu runtuh, Jo. Sena sangat keterlaluan, tapi aku tidak bisa menyalahkannya, dia tidak tahu apa-apa."


"Apa yang dia katakan, bang?" tanya Jimin kelewat penasaran, bagaimana tidak, Niko saja secara gamblang mengatakan urusan ini bukan hal yang main-main saat telepon kemaren.


"Saat itu aku sedikit terlambat karena perjalanan bisnisku, saat aku tiba sudah banyak orang yang berada di ruang tamu, aku sedikit menangkap percakapan saat aku masih di balik pintu masuk." Ucap Niko tertahan, sembari meraup wajahnya frustasi.


"Hei!! Kalian."


Teriak wanita cantik dengan surai hitam indah yang terombang ambing kekanan kekiri, menggunakan jas Dokter yang sebenarnya tidak perlu dibawa berkeliaran diluar Rumah Sakit.


"Sayang."


"Kak Hana."


"Dokter Hana."


Pekik ketiga pria dewasa secara bersamaan, pemandangan menakutkan datang dari sorot mata Hana, tak lupa tangannya mengepal dengan wajah yang sudah merah padam menahan amarah.


"Kalian melakukan kesalahan besar." Menjeda sebentar untuk menormalkan nada bicara, karena disadari banyak pasang mata yang keheranan melihat sikap bar-bar dari Dokter cantik yang tak perlu diragukan lagi ketenarannya. "Hei. Niko, bagaimana kau bisa menyebunyikan rencanamu bersama mereka. Ha!!!"


"A-aku, ti-dak bermaksud menyembunyikannya sayang." ucap Niko menyanggah.


"Kau tau, aku Dokter spesialis yang menangani kondisi Rosé, kalian bodoh menyembunyikannya dariku. Haaah" emosi diatas ubun-ubun, dengan cekatan Hana mengambil minum Niko lalu meneguknya hingga habis, beginilah Hana jika sudah marah.


"APA!!!!"

__ADS_1


Sontak ketiga pria itu berteriak histeris atas pernyataan yang terlewat mengejutkan, yaa betapa bodohnya para mereka.


__ADS_2