Back To You

Back To You
Chapter 146


__ADS_3

Selepas pelukan Rafa malam itu, Giulia sedikit berusaha menjauhkan dirinya dari Rafa. Tak ada lagi bekal makan siang untuk Rafa, padahal biasanya Giulia tidak pernah absen membawakannya untuk Rafa.


Kini Giulia memilih untuk makan di tempat makan tak jauh dari kampus tempat mereka bekerja, atau memilih delivery saat kerjaannya cukup menumpuk.


Semua orang yang mengenal mereka memang menggosipkan kerenggangan hubungan mereka, tapi Rafa dan Giulia tidak ingin menanggapi. Giulia malah terfokus untuk bisa bersikap biasa saja disaat situasi mengharuskannya untuk berinteraksi dengan Rafa.


"Rafa, kau jadi ambil cuti dihari Senin?" Tanya Greg sambil memberikan beberapa berkas kepada Rafa.


"Hm, rencananya begitu. Ada apa?"


"Mr. Josh memintaku untuk menggantikanmu menemaninya meeting, aku perlu beberapa penjelasan darimu."


"Oke. Jadi apa yang ingin kau tanyakan?"


Greg menarik sebuah kursi yang tak jauh dari meja kerja milik Rafa. Pria berumur tiga puluhan tahun itu mendekat, seolah ingin mengatakan sesuatu yang rahasia.


"Jadi... Kau dan Giulia benar-benar putus?"


Rafa tercengang dengan pertanyaan Greg barusan. "Hahahahaha... itu bukanlah pertanyaan yang berhubungan dengan meeting Senin besok."


"Aku tahu, Rafa. Aku tahu. Tapi aku benar-benar penasaran, semua orang di kantor ini membicarakan kalian."


"Kami tidak putus, Greg. Karena kita sama sekali tidak terikat dalam suatu hubungan sebelumnya."


"Oh! Benarkah? Kalian... sama sekali tidak berpacaran?"


Rafa mengangguk dengan mantap untuk menjawab pertanyaan rekan kerjanya itu.


"Lalu... ada urusan apa kau sampai mengambil cuti? Keluargamu datang?"


"Tidak, aku hanya ingin menenangkan diri."


"Kemana?"


"Tidak jauh, hanya ke Robin Hood's Bay."


Greg dengan refleks memukul lengan Rafa. "Itu jauh, man! Butuh lima jam lebih untuk sampai disana."


Rafa hanya tersenyum, perjalanan lima jam tidaklah jauh baginya. Dulu setiap minggu, Rafa harus bolak-balik ke Scotland untuk bertemu Alita saja ia sanggup, apalagi sekarang yang cuma lima jam dan tidak setiap minggu?

__ADS_1


...****************...


Rafa baru saja selesai mandi saat ada satu panggilan masuk yang biasanya berasal dari mamanya. Siapa lagi yang akan menghubunginya selarut ini jika buka mamanya tercinta? Buru-buru Rafa meraih ponselnya, sebelum nanti mamanya mengomel karena ia kelamaan mengangkat panggilan teleponnya.


"Kamu baru pulang, Fa?" Ucap mama Salma begitu anak bungsunya itu mengangkat panggilan videonya.


"Udah dari tadi kok, ma. Mana pernah Rafa lembur? Apalagi sampai malam begini." Jawab Rafa dengan santai sembari menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.


"Terus, kenapa kamu baru mandi? Katanya udah pulang dari tadi? Disana bukannya udah mau jam sebelas kan?"


"Hehehehehe... iya, Ma. Tadi Rafa main game dulu, tapi malah keasikan."


"Udah gede masih kayak anak kecil aja, tiap main game selalu lupa waktu. Kamu udah makan malam?"


"Udah dong! Pake rendang kiriman dari mama."


"Kamu kok keliatan kurus? Sering telat makan ya? Mau mama kirimin makanan lagi dari sini?"


Rafa tergelak. "Enggak usah, Ma. Paket dari mama aja baru sampai minggu lalu, masa udah mau kirim makanan lagi?"


"Habisnya kamu keliatan makin kurus gitu! Makannya dijaga sih, Fa. Jangan mikirin kerjaan mulu, perhatiin kesehatanmu juga. Kamu kan jauh banget dari keluarga, nanti kalo kamu kenapa-napa siapa yang mau nolongin?"


"Beneran?"


"Iya, Ma. Beneran! Rafa baik-baik aja disini, weekend ini malah Rafa pengen ke luar kota buat jalan-jalan."


"Sendiri?" Selidik mama Salma, karena mamanya sering mendapat jawaban dari Rafa yang sedang memakan bekal makan siang dari temannya itu.


"Iya, Ma. Emang mau sama siapa lagi?"


"Ya siapa tau kamu udah punya gandengan. Mungkin aja kamu mau liburan sama cewek yang suka masakin bekal buat kamu." Sindir mama Salma.


Rafa hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.


"Yaudah, yang penting hati-hati. Kamu kan nyetir sendiri, jangan lupa kabarin mama."


...****************...


Rafa sengaja melewatkan jam makan siangnya. Sekarang ini adalah waktu yang sangat berharga baginya untuk mencuri-curi kesempatan, melihat acara wisuda Hanna dari kejauhan. Padahal baru semalam ia berjanji kepada mamanya untuk tidak melewatkan jam makan.

__ADS_1


Dengan bantuan temannya, Rafa mendapat akses masuk ke lokasi wisuda dengan mudahnya. Matanya terus sibuk, mencari-cari dimana posisi Hanna duduk diantara kerumunan mahasiswa yang hari ini diwisuda itu.


Belum juga bisa menemukan posisi duduk mantan istrinya itu, suara deheman dibelakangnya membuat konsentrasi Rafa menjadi terganggu. Ia segera menoleh ke belakang, dan mendapati Wildan sedang merokok di dekatnya.


"Baris ketujuh, empat kursi dari kanan." Ucap Wildan dengan singkat sambil terus menikmati rokok yang tengah dihisapnya.


Berbeda dengan Rafa, Wildan adalah seorang perokok aktif sejak dirinya masih duduk dibangku SMA.


Rafa kembali menoleh ke arah kerumunan, mencari posisi sesuai dengan clue yang diberikan oleh Wildan. Sudut bibirnya tertarik kala dirinya berhasil menemukan posisi Hanna duduk. Gadis itu tampak cantik berbalut jubah kelulusan dan toga dikepalanya.


Tapi senyuman itu seketika sirna saat sebuah gerakan tangan bergerak untuk merapikan anak rambut Hanna yang sepertinya berantakan. Ya, itu Arthur! Lelaki yang dipacari oleh Hanna kurang lebih setahun ini.


"Kenapa lo disini?" Tanya Rafa.


Wildan tidak menjawab, dia hanya mengangkat tangannya yang terselip sebatang rokok. Sejak masalah pernikahannya dengan Hanna diambang perpisahan, Wildan memang enggan berurusan lagi dengan Rafa.


Wildan tidak peduli bagaimana kedekatannya dengan Rafa yang dimulai sejak kecil, dia hanya tidak terima adik satu-satunya diperlakukan oleh Rafa seperti itu.


"Lo sama Bunda bakal lama disini?"


"Enggak juga, beberapa hari lagi gue sama bunda udah harus balik karena gue ada kerjaan."


"Cuma lo sama bunda? T-terus... Hanna?"


"Dia lagi mau mikirin untuk tetep stay disini mau lanjut S2 atau enggak."


Rafa terdiam. Tiba-tiba saja ia seperti dihadapkan pada sebuah pilihan untuk bertahan disini atau kembali.


"Lo yang harus pulang! Abang Rayyan butuh bantuan lo, Hanna udah gede dan bisa jaga dirinya sendiri. Lagian ada Arthur juga yang bakal jagain dia."


Arthur. Yah, mungkin memang dialah yang kini lebih dipercaya Wildan dan ibunya untuk menjaga Hanna disini. Bukan lagi dirinya.


"Gue mau pulang atau enggak itu bukan urusan lo."


Wildan tersenyum sinis. "Terserah, yang penting jangan ganggu adik gue."


Rafa tidak menghiraukan perkataan mantan


Wildan menjatuhkan puntung rokoknya, lalu menginjaknya untuk mematikan bara apinya. Setelahnya, Wildan pergi begitu saja tanpa ada basa-basi kepada Rafa.

__ADS_1


Mengalihkan pandangannya kembali untuk tertuju pada Hanna, pikiran Rafa berkecamuk. Haruskah dia tetap tinggal di Bristol?


__ADS_2