
Kini telah dua bulan lamanya Rafa dan Hanna tinggal di Bristol. Dan selama dua bulan itu pula Rafa belum berhasil menemukan keberadaan Alita.
Selama dua bulan ini, kehidupan Rafa dan Hanna berjalan biasa-biasa saja. Hanya seperti dua orang yang sedang melanjutkan kuliahnya dan tinggal bersama. Hubungan mereka tidak terlihat seperti pasangan suami istri, malahan seperti kakak beradik.
Percakapan keduanya pun hanya terjadi sekilas, seperti saat sarapan atau makan malam. Hanya obrolan singkat mengenai apa kegiatan mereka hari ini dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kuliah mereka, atau sesekali membicarakan kabar dari keluarga mereka.
Hanna dan Rafa hanya akan terlihat pergi berdua saat berbelanja ke supermarket. Karena saat weekend, Hanna dan Rafa pun sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Hanna pasti akan berjalan-jalan dengan Eleanor dan beberapa teman lainnya, sedangkan Rafa (tentu saja) akan pergi ke Glasgow untuk mencari Alita.
"Masak apaan?" tanya Rafa yang baru saja masuk ke area dapur.
"Soto ayam." jawab Hanna yang tengah sibuk menuang kuah soto ke dalam mangkuk.
"Aahhh... terima kasih ya Allah, akhirnya bisa sarapan ala Indonesia." seru Rafa yang tidak bisa lagi menutupi kegembiraannya.
"Emangnya nasi goreng bukan menu sarapan ala Indonesia?" Hanna meletakkan mangkuk soto ke hadapan Rafa dengan wajah cemberutnya.
"Yaaa... ala Indonesia sih. Cuma kan dua bulan disini kita seringnya sarapan tanpa kuah-kuahan gini, Han. Nasi gorenglah, roti panggang, full English breakfast." Rafa mulai menyendok dan meniup kuah soto yang masih mengepulkan uap panas itu.
"Jadi protes nih?"
Rafa yang berencana ingin memuji masakan istrinya itu pun langsung menundanya. Sekarang lebih penting mengembalikan mood Hanna terlebih dulu, daripada nanti istri kecilnya itu ngambek, malah akan merepotkan dirinya.
"Enggak gitu maksud gue. Lo sensi amat sih kayak lagi PMS." Rafa meletakkan sendok makannya dan mulai beragumen untuk menyenangkan hati Hanna.
__ADS_1
"Ini kan udah mulai masuk musim gugur, Han. Bentar lagi musim dingin kita pertama disini. Sekarang aja suhunya udah mulai sebelas sampai lima belas derajat, yang mana itungannya udah dingin kan buat kita yang cuma ada dua musim. Jadi kita tuh perlu banyak makan yang berkuah, anget-anget gitu, biar enggak gampang sakit. Bukan maksudnya gue mau protes ke elo."
"Iya-iya. Udah buruan makan, ntar keburu dingin kuahnya." Meskipun masih dengan wajah kesalnya, Hanna mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.
"Ini sotonya enak banget, Han. Rasanya hampir sama kayak sop ayam yang masak kak Zahra sama abang dulu tuh."
"Jadi maksudnya ini sop ayam yang kuahnya dipakein kunyit gitu?"
Rafa yang sedang menikmati sarapannya pun kembali harus meletakkan sendoknya untuk mengoreksi perkataannya.
"Enggak. Maksud gue, ini sama enaknya dengan masakannya kak Zahra sama abang. Rasa sotonya sama kayak buatan mama kok, enak."
Nampaknya hari ini Rafa harus berhati-hati dengan setiap kalimat yang ia ucapkan. Karena kalau tidak, ia pasti akan kembali membuat Hanna kesal dan mungkin akan menimbulkan pertengkaran.
"Kak Rafa enggak ke Bristol? Kok jam segini masih nyantai? Biasanya udah rapi."
"Oh, itu." Rafa memilih untuk menelan makanannya terlebih dulu sebelum mengatakan alasannya tidak mengunjungi Glasgow hari ini.
"Gue mau mikirin cara yang efektif dulu. Udah dua bulan gue bolak-balik kesana tiap weekend tapi enggak ada hasil. Sekalian mau istirahat dulu, semingguan ini gue capek kebanyakan tugas. Kalo ke Glasgow enggak kuat gue, perjalanan pulang pergi dua belas jam, belum lagi keliling Glasgow-nya."
Hanna hanya ber-oh ria mendengar penuturan Rafa, sembari menikmati sarapannya yang mulai dingin itu.
"Elo mau pergi hari ini?"
__ADS_1
Hanna menggelengkan kepalanya. "Kayaknya enggak jadi, soalnya El bilang ada masih ada tugas yang belum kelar."
"Yaudah, kita jalan-jalan aja berdua."
Ide Rafa barusan membuat Rafa mendongakkan kepalanya dan membelalak ke arah Rafa. Selama dua bulan tinggal di Bristol bersama, baru kali ini Rafa mengajaknya untuk pergi jalan-jalan."
"Jalan-jalan kemana?"
"Di Bristol-lah. Gue baru baru jalan-jalan disini ya pas sama Abby ke festival balon udara itu."
"Suruh siapa rajin banget muter-muter Glasgow tiap minggu, padahal di Bristol aja belum pernah jalan-jalan." sindir Hanna sembari menyeka mulutnya dengan lap makan.
"Ya makanya, elo jadi tour guide gue hari ini. Lo kan udah sering jalan-jalan disini, jadi udah tau tempat-tempatnya kan? Mumpung gue lagi enggak ke Glasgow nih, biar gue paham daerah sini juga."
Hanna tampak mempertimbangkan ajakan Rafa untuk pergi jalan-jalan. Sebenarnya Hanna sih mau-mau saja daripada menghabiskan waktu seharian di rumah.
"Tapi tadi bilangnya capek?"
"Cuma muter-muter Bristol doang enggak bakal capek, Han. Kita jalan habis gue mandi, oke?"
"Hm. Yaudah sana mandi, sambil aku pikirin nanti enaknya jalan-jalan kemana."
Rafa melanjutkan sarapannya yang tersisa beberapa sendok makan itu. Setelah menyelesaikan sarapannya, ia bergegas kembali ke kamarnya untuk membersihkan diri.
__ADS_1