
Rafa memasuki sebuah restoran kecil yang menjual ramen dan sushi dengan tatapan tak percaya. Dengan langkah besarnya, Rafa mencapai meja si pengirim pesan dengan cepat, dan langsung mengajukan pertanyaan.
"Ngapain kamu ke Bristol? Sendirian? Theo mana?"
Alita yang sedang menikmati ramen kesukaannya pun hanya tersenyum. Wanita itu meletaklan sumpitnya, lalu mengelap bibirnya dengan tisu yang disediakan.
"Aku kesini sendiri, Theo lagi ada banyak banget kerjaan yang enggak bisa dia tinggal. Niatnya cuma ke Scotland, nengokin kakak ipar yang habis lahiran. Tapi terus terdampar kesini hehehehe...."
"Ngapain kesini? Buat ketemu sama aku?"
"Hahahahaha... enggaklah. Aku kesini buat jalan-jalan,tapi karena aku enggak paham Bristol. Jadi aku pikir enggak ada salahnya kan kamu jadi tour guide aku selama beberapa hari ini disini?"
"Kamu serius, Lit?"
"Seriuslah. Emang aku pernah bohong gitu?"
"Maksudku... kamu udah bilang Theo kalo bakal ketemu aku?"
"Ya udahlah. Kamu pikir aku istri macam apa yang seenaknya ketemu cowok lain?" Alita mendengus kesal, Alita lantas menyodorkan ponselnya dan menunjukkan pesan antara dirinya dengan sang suami.
"Aku udah minta ijin dulu ke Theo kalo aku mau ke Bristol dan ketemu sama kamu. Yah, dia emang agak cemburu. Tapi akhirnya ngijinin juga setelah aku rayu dengan berbagai cara, tapi dengan syarat."
"Mana syaratnya? Aku cari-cari enggak ada?" Tanya Rafa sambil men-scroll layar ponsel Alita.
"Aku ngomongnya pas telpon, karena setelah aku bilang mau minta kamu untuk nemenin jalan-jalan disini, dia enggak jawab lagi." Alita merebut kembali ponselnya.
"Terus syaratnya apaan?"
Alita menunjuk ke sisi sebelah kanan dengan dagunya, tapi Rafa tidak mengerti. Rafa memang menengok ke arah yang diberitahukan oleh Alita, tetapi tidak paham dengan maksud Alita.
"Itu! Laki-laki yang pakai kacamata hitam dan ngeliatin sini dari tadi, itu orang suruhannya Theo buat ngawasin aku selama disini."
Rafa melongo. Tapi dengan cepat langsung mengubah ekspresi wajahnya.
"Gaya banget pake sewa bodyguard segala, kayak aku bakal ngapa-apain kamu aja."
__ADS_1
"Hahahahaha... wajarlah kalo Theo begitu, dia tau betul kamu kayak gimana ke aku dulu."
"Emang berapa sih pendapatan dia sampai bisa sewa bodyguard bule disini."
"Enggak usah dipikirin, yang jelas masih banyak pendapatan papa kamu."
Alita menyodorkan sepiring sushi yang baru saja dihidangkan oleh pramusaji restoran itu. "Nah, aku pesenin seporsi dulu. Lainnya kamu bisa pesen sendiri. Pokoknya selama aku di Bristol, aku yang traktir."
Rafa menggelengkan kepalanya. "Aku enggak mau dibayarin pake uang Theo, aku bayar sendiri." Ucap Rafa setelah menyumpit sushi ke dalam mulutnya.
"Hahahahaha.... terserah, aku enggak akan maksa. By the way, Hanna apa kabar?"
"Udah kayak belut, susah ditangkep."
Alita yang baru saja mencicipi sushi itu hampir saja menyemburkan makanannya keluar. "Kenapa bisa begitu? Kamu udah enggak punya daya pikat lagi untuknya?"
Rafa mengangkat kedua bahunya, merasa enggan menimpali pertanyaan Alita yang membahas soal nasibnya.
"Lagian kamu sih, dulu seenaknya sama dia."
"Ya tapi harusnya kamu mikir juga, emang kalo saat itu aku tau kamu dalam posisi udah nikah sama Hanna, aku bakalan nerima kamu gitu aja? Atau setelah kamu pisah sama Hanna karena aku, apa aku juga dengan senang hati bakal nerima kamu gitu?"
"Emangnya enggak?"
"Ya enggaklah. Mau ditaruh dimana wajahku ini setelah menyandang predikat sebagai orang ketiga? Terus sekarang rencanamu gimana?"
"Enggak ada rencana, pikiranku udah mentok dan kusut. Pusing juga karena harus mikirin tugas akhir." Jawab Rafa sembari menikmati makanannya.
Alita hanya menganggukkan kepalanya. "Tampaknya kamu emang harus belajar semuanya sejak awal soal Hanna. Dia beda kan dari mantan-mantan kamu? Makanya jurus rayuanmu itu enggak ada yang mempan untuk naklukin dia."
"Tapi dia bilang udah punya pacar, Lit."
"Terus apa masalahnya? Itu kan cuma pacar, belum tentu bakal jadi suaminya. Masa segini doang perjuanganmu?"
"Hah, entahlah. Pusing kepalaku." Rafa menyudahi makannya, lalu meminum teh hijau yang dipesankan oleh Alita.
__ADS_1
"Hubunganmu sama Theo baik-baik kan?"
"Emang kamu berharapnya gimana?"
"Kenapa belum hamil sampai sekarang? Kamu belum yakin nikah sama Theo?"
Alita menghentikan makannya untuk tertawa terbahak-bahak selama beberapa saat. "Itu keputusan kami. Aku dan Theo sepakat untuk enggak punya anak ditahun pertama pernikahan kami. Karena kita masih pengen menikmati waktu intim berdua tanpa gangguan dan lebih mengenal satu sama lain."
"Cih, aneh. Orang dimana-mana nikah pengennya cepet-cepet punya anak, kalian malah nunda."
"Suka-suka kita dong." Alita menjawab dengan nada bicara yang sedikit ketus.
"Oh, aku mau tanya sesuatu ke kamu. Tapi jawab dengan jujur ya?"
"Soal apa?"
"Waktu aku... ngehianatin kamu saat itu, ehh... bukan-bukan. Maksudku, ketika berulang kali aku bohongin kamu, terakhir waktu aku udah nikah sama Hanna. Kamu... pernah enggak nyumpahin aku? Kayak misalnya, biar... aku jomblo seumur hidup gitu?"
Meskipun awalnya bingung, tapi kemudian Alita mengerti maksud perkataan Rafa dan kembali tertawa.
"Enggak... enggak.... Sekalipun aku sakit hati dan benci banget sama kamu, aku enggak pernah nyumpahin kamu. Kamu nanyanya ke aku doang? Ke mantan-mantanmu yang lain enggak? Mereka kan ada banyak banget tuh, siapa tau doa mereka sama begitu semua. Jadi terkabulkan hehehehe...."
Rafa menghela nafasnya. Mungkin jawaban Alita barusan benar juga. Bukan Alita yang menyumpahi untuk kemalangan dirinya sekarang ini, tapi para mantan kekasihnya atau gadis-gadis yang cintanya ditolak olehnya.
"Aku udah selesai, kamu masih mau nambah?" Tanya Alita yang dijawab gelengan kepala oleh Rafa. "Oke, setelah bayar, kita langsung jalan-jalan ya. Jadi sebaiknya kamu udah tau kemana tujuan kita setelah ini."
"Terus bodyguard-mu gimana?"
"Oh, kamu bisa pulang dulu untuk ngembaliin mobil. Kita naik mobil yang disewa Theo aja. Greg yang nyetir, kamu duduk di sebelah Greg, dan aku dibelakang."
...****************...
Haloooooo.... ada yang masih nungguin? Hahahahaha....
Akhirnya up lagi ya setelah sekian lamanya. Niatnya tuh sekali up mau langsung sampai tamat gitu, tapi ternyata enggak bisa. Karena sibuk sama kerjaan rumah, ngadon, ngedrakor, bahkan minggu lalu sampai tepar dan diinfus, jadi yang keluar 3 chapter dulu deh ya. Chapter lainnya menyusul, semoga rasa malesnya buat ngedit dan ngetik-ngetik enggak muncul lagi. Jadi ceritanya si Rafa bisa cepet kelar deh ya hehehehe....
__ADS_1
Sehat-sehat ya semua, selalu jaga kondisi dan maskernya jangan sampai kendor 😎🤟🏻