
Hanna baru saja masuk ke dalam rumah setelah mobil Arthur menghilang dari pandangannya. Baru saja dia ingin mengomel kepada Rafa, tapi malah justru dirinya yang kena omel oleh Rafa.
"Lo kenapa enggak bisa nyari temen sih, Han? Cowok modus kayak dia malah lo ladenin."
Baru saja mereka masuk ke dalam rumah, Rafa sudah mengomel. Bukan karena mengangkat kopernya dan milik Hanna yang berat, melainkan ketidaksukaannya pada Arthur.
"Modus gimana sih, kak? Kak Rafanya aja tuh yang dari ketemu udah sewot duluan. Padahal Arthur kan baik. Mau jemput dan anterin kita pulang, udah gitu ditraktir makan pula." Hanna menimpali dengan santai sembari berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.
"Cih, baik. Sekarang aja keliatan baik, ntar lama-kelamaan juga keliatan aslinya kayak gimana."
Rafa ikut-ikutan mencuci tangannya di wastafel dengan memaksa Hanna bergeser.
"Iya, kayak kak Rafa gitu kan?"
"Maksud lo apaan?" Tanya Rafa dengan nada tak suka.
Sedangkan Hanna hanya tersenyum, merasa tidak terintimidasi dengan tatapan tajam Rafa kepadanya. Hanna malah asik membongkar kopernya dan Rafa untuk mengeluarkan stok makanan yang dibawakan orangtua mereka dan menyimpannya di freezer.
"Ya kak Rafa kan baik, tapi makin lama makin keliatan tuh aslinya kayak gimana."
"Emangnya gue kenapa?" Rafa bertanya kembali, masih dengan nada tak suka.
"Enggak kenapa-kenapa hehehehe...."
"Lo tuh disini harus lebih hati-hati. Cowok bule tuh enggak kayak orang-orang kita. Lo tau sendiri kan mereka kalo pacaran ngapain aja." Rafa membantu Hanna memasukkan beberapa kantong makanan ke dalam freezer.
"Enggak tau. Emang gimana mereka kalo pacaran, kak?"
__ADS_1
Rafa langsung menghentikan kegiatannya, menoleh ke arah Hanna yang tampak menunggu penjelasannya dengan antusias.
"Tuh kan! Lo aja sepolos ini, pantesan si Arthur mepet lo terus."
"Emangnya aku kenapa sih, Kak? Aku emang enggak tau, karena aku kan belum pernah pacaran."
"Terus lo mau pacaran sama Arthur gitu? Jangan! Jadi rusak ntar lo kalo sama dia."
"Tapi emangnya aku boleh pacaran? Kan kita statusnya udah nikah, kak?"
Rafa langsung terdiam dengan mata yang berkedip dengan cepat. Perkataan Hanna barusan seolah menyindirnya, atau mungkin memang Hanna benar-benar ingin merasakan berpacaran.
"Udahlah, pokoknya lo kuliah aja yang bener!" Rafa melangkah menjauhi Hanna, berniat untuk masuk ke dalam kamarnya. Tapi kemudian ia berbalik lagi.
"Gue Sabtu besok mau ke Glasgow, lo mau ikut enggak?"
Tanpa berpikir lebih dulu, Hanna langsung menggelengkan kepalanya. Tentu saja dia akan lebih memilih bertemu dengan teman-temannya daripada harus melihat kemesraan Rafa bersama Alita.
"Hah, Arthur lagi!" Gerutu Rafa sembari meninggalkan Hanna dan berjalan menuju kamarnya.
...****************...
Senyum Rafa terkembang dengan lebar. Setelah tiga hari menyelesaikan urusannyadi Bristol, akhirnya waktu yang dinantikannya tiba juga.
Rafa telah lebih dulu datang di sebuah restoran tempat ia dan Alita biasa makan bersama. Duduk persis disebelah jendela besar, Rafa mengamati setiap orang yang berlalu-lalang di depan restoran. Sudah lebih dari sepuluh menit dan Alita belum menampakkan dirinya, tapi Rafa tentu tidak masalah untuk menunggu Alita, seberapa pun lamanya.
Hingga akhirnya, sosok yang dinantikannya pun tiba. Alita datang dengan mengenakan long coat berwarna abu dan terlihat menenteng sebuah paper bag dengan ukuran yang cukup besar.
__ADS_1
"Maaf, aku telat. Ada hal yang aku urus secara mendadak." Ucap Alita sambil duduk di kursi di hadapan Rafa.
"Enggak masalah. Aku juga belum lama datang."
Rafa meraih sebuah paper bag di sebelahnya dan menyerahkannya kepada Alita.
"Aku bawain rendang masakan mama. Terus... ada beberapa snack kesukaan kamu dulu."
Alita tersenyum sembari menerima uluran oleh-oleh dari Rafa. "Ah, makasih banyak. Kamu enggak perlu repot-repot begini."
"Enggak repot, mama sekalian masak untuk stok disini."
Alita menganggukkan kepalanya. Kini giliran Alita yang mengulurkan paper bag yang dibawanya. Bukan hanya ukurannya yang cukup besar, tapi ternyata juga lumayan berat.
"Eh? Kenapa kamu juga ikutan repot-repot ngasih hadiah? Kamu habis pergi ke suatu tempat?" Tanya Rafa saat menerima hadiah dari Alita.
Senyumnya masih terurai dengan lebar. Apalagi setelah memandangi sebuah kotak besar yang terbungkus rapi dengan kertas pembungkus berwarna abu dengan taburan glitter dan pita berwarna navy itu. Rafa memang tidak tahu apa isi dari hadiah itu, tapi karena berasa dari Alita dan terbungkus rapi begini, pastilah hadiah itu sangat spesial.
"Eee... itu...." Alita tampak ragu untuk mengatakannya. Jemarinya saling bertaut, dia sedang berusaha untuk menenangkan dirinya.
Sedangkan Rafa masih memandangi Alita dengan senyumnya yang tak juga memudar.
"Itu.... hadiah untuk pernikahanmu dengan Hanna. Maaf, aku baru mengetahuinya."
...****************...
Haloooooo... balik lagi daku dihari pertama puasa. Gimana puasanya hari ini? Lancar kan ya? Alhamdulillah disini ujan, jadi enggak begitu tersiksa sama rasa haus 😅
__ADS_1
Btw, Selamat menjalankan ibadah puasa ya bagi yang menjalankan. Mohon maaf lahir batin juga, maaf kalo selama ini daku banyak salah, sering ngecewain kalian karena alurnya yang enggak nyenengin dan sebagainya hehehehehe... Semoga puasanya lancar dan menjadi berkah untuk kita semua. Aamiin....
Jangan bosen buat nungguin dan baca ceritanya si Rafa ya. Yaahhh... meskipun nyebelin, tapi seenggaknya daku enggak nyebelin ye kan? Hahahahaha.... Sehat-sehat selalu ya semuanyaaaaa 🤗😘