
Hanna tidak menduga jika Rafa akan membutuhkan waktu yang begitu lama untuk memilih kado pernikahan Alita. Beberapa barang yang disarankan olehnya pun ditolak oleh Rafa, lelaki itu begitu selektif dan mempertimbangkan segala aspeknya dari Alita. Dan tentu saja Rafa tidak ingin jika kado darinya sama dengan kado dari tamu undangan lainnya.
Keduanya berkeliling, hanya keluar masuk toko yang mereka pilih tapi tanpa membawa hasil. Berjalan dari perut yang terasa kenyang, hingga menjadi lapar kembali. Hingga akhirnya, di toko yang kini mereka berdua masuki, Hanna memilih untuk duduk manis tanpa mengikuti Rafa berkeliling.
"Capek?" Tanya Rafa sambil menyodorkan minuman kemasan berukuran kecil, yang sepertinya Rafa minta dari pelayan toko.
"Capeklah! Udah hampir tiga jam tapi belum dapet juga kadonya. Harusnya kak Rafa udah tau dulu mau beliin kado apaan, jadi kita enggak perlu buang-buang banyak waktu kayak gini."
Rafa tersenyum, dan duduk di sebelah Hanna. "Itu sebabnya aku ngajak kamu. Biar ada yang bantuin milih, terus juga kita sekalian jalan-jalan."
"Tapi dari tadi pilihanku selalu enggak cocok sama maunya kak Rafa. Dan juga, ini jalan-jalan dalam artian yang sebenarnya. Aku enggak suka, kaki aku udah pegel banget."
Rafa tidak bisa lagi menahan tawanya, dan mengulurkan tangannya untuk kemudian mencubit pipi Hanna dengan gemas. "Aku enggak tau kalo kamu jadi galak banget sekarang."
"Iiihh, sakit tau, kak!"
"Kamu tunggu disini, aku pilih kado buat Alita dulu."
Hanna mendengus kesal. "Tadi juga ada dua toko perhiasan yang kita datengin, bilangnya enggak ada yang cocok."
"Enggak cocok bukan berarti enggak mau beli perhiasan kan? Aku cuma enggak suka modelnya. Kamu duduk manis disini dulu, ini enggak akan lama. Aku janji."
__ADS_1
...****************...
Rafa menepati ucapannya. Ia benar-benar tidak lama memilih kado untuk Alita, dan Hanna tidak tahu perhiasan macam apa yang akhirnya Rafa pilih sebagai kado untuk hari bahagia mantan kekasihnya itu. Hanna tidak bertanya, dan tidak ingin tahu juga.
Tidak ingin semakin lama memutari mall, Hanna meminta Rafa agar pulang saja. Padahal Rafa begitu bersemangat untuk membeli baju yang akan mereka kenakan saat menghadiri pernikahan Alita nanti.
"Kenapa berhenti?" Tanya Hanna sambil mengamati sekitar.
Rafa sepertinya dengan sengaja menghentikan mobilnya. Padahal beberapa meter lagi sudah sampai di rumah Hanna.
"Jadi kak Rafa enggak berani anterin aku pulang nih? Makanya aku diturunin disini?" Imbuh Hanna.
"Hahahaha... enggaklah, mana tega aku ngebiarin kamu jalan. Bisa-bisa aku langsung diblacklist sama bunda."
"Ini apaan?" Tanya Hanna kebingungan.
"Buka aja, itu buat kamu."
Hanna menuruti perkataan Rafa. Dia segera mengambil sebuah kotak yang cukup besar dari dalam paper bag yang dipegangnya, lalu membukanya. Kotak yang berisi sebuah kalung dan sepasang anting itu.
"Itu harus kamu pake ya pas ke nikahannya Alita."
__ADS_1
"K-kenapa harus?"
"Ya pokoknya harus, ini hadiah buat kamu karena udah mau capek-capek nemenin aku. Jangan bilang kamu nolak karena kita belum jadi pasangan."
"Tapi kan...."
"Enggak ada tapi-tapian, pokoknya harus dipake. Soalnya-"
"Tapi aku dateng ke pernikahan kak Alita itu sama kak Wildan."
Rafa terdiam sejenak. "Kenapa harus sama Wildan? Kamu kan bisa bareng aku, kasian Wildan kalo lagi sibuk."
"Kak Wildan udah menyanggupi, kak. Jadi aku dateng ke acara itu enggak bareng kak Rafa. Maaf."
Rafa menyandarkan punggungnya pada jok mobilnya. Kesalahan fatalnya benar-benar membuat Wildan tidak memberikan jalan baginya untuk kembali mendekati adiknya.
"Oke. Enggak masalah kamu enggak pergi bareng aku, tapi kalung dan anting itu harus tetap kamu pake."
"Kak Wildan pasti bakal langsung tau kalo ini semua dari kak Rafa. Aku enggak bisa-"
"Pokoknya harus kamu pake, Han. Itu aku beliin buat kamu, sebagai tanda terima kasihku karena kamu masih kasih aku kesempatan memperbaiki kesalahanku kemarin."
__ADS_1
Rafa kemudian melajukan mobilnya ke rumah Hanna yang tak jauh dari tempatnya berhenti sekarang. Pikirannya langsung berkecamuk, mengapa tidak ada kejadian yang terjadi sesuai keinginannya.
"Apapun yang terjadi, aku mohon kamu harus kuat, Han. Kamu udah membuat keputusan dengan kasih aku kesempatan, jadi aku akan berusaha sekuat tenaga biar kita bisa balikan lagi."