
"Jadi kamu ditolak Hanna?" Alita merespon saat Rafa baru saja selesai dengan sesi curhatnya.
Respon tersebut diangguki oleh Rafa, yang sontak membuat Alita kaget tapi juga ingin tertawa. Mungkin ini adalah kali pertama ada perempuan yang menolak Rafa. Bahkan dulu dirinya saja tidak bisa mengelak dari pesona lelaki di depannya ini.
"Wah, akhirnya kamu punya pengalaman ditolak juga ya, Fa." Ucap Alita sambil menahan tawa. "Jadi, udahan nih perjuangannya?"
Rafa mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Lit."
"Yaudah sih, Hanna juga enggak mau sama kamu. Mungkin emang udah waktunya buat kalian saling melepaskan. Kamu berhak bahagia, begitu pula dengan Hanna. Sekarang Hanna udah punya pacar, kamu juga burulah cari pacar. Tumben-tumbenan ini seorang Rafa ngejomblo begitu lama."
Rafa hanya melirik tajam ke arah Alita, tidak ingin menimpali wejangan yang diucapkan oleh Alita.
"Mungkin selisih umur kalian yang lumayan jauh juga jadi pertimbangan Hanna, Fa. Makanya dia lebih memilih temen kuliahnya, jadi bisa saling ngertiin."
Rafa berdecak kesal. "Edward Cullen sama Bella Swan yang selisih umurnya ratusan tahun aja enggak ada yang komplain, malah pada ngedukung. Giliran aku malah dipermasalahin. Bukannya kalo sama yang lebih tua malah lebih ngertiin? Kayak kamu sama Theo contohnya."
"Hahahaha... ya tapi kita kan enggak tau pemikiran Hanna gimana. Yang jelas, sekarang Hanna udah menentukan pilihannya, Fa."
"Tapi kan belum tentu mereka bakal bertahan sampai nikah, Wildan sama tante Widya juga belum pasti setuju. Akan ada banyak pertimbangan kalo mereka ngelepas Hanna nikah sama bule."
"Emang kalo yang nikahin kamu, keluarga Hanna bakal dengan mudah ngelepasinnya gitu?"
"Tega banget sih Lit ngomong begitu?"
"Hahahaha... maksudku, pernikahan kalian sebelumnya cuma main-main. Kamu bahkan bikin Hanna sakit hati, mereka juga pasti akan mikir saat kamu mau minta Hanna kembali."
"Jadi... aku harus nyerah sekarang?"
Alita tersenyum. "Katanya cinta enggak harus saling memiliki kan? Sama kayak pas kamu akhirnya ngelepasin aku untuk nikah sama Theo, yang kamu harus lakukan sekarang cuma mengikhlaskan. Cukup doakan yang terbaik buat Hanna, Tuhan pasti punya rencana yang pasti enggak akan berakhir sia-sia buatmu." Alita menepuk bahu Rafa yang duduk di sebelahnya.
__ADS_1
"Udaaaah... ini hari terakhirku di Bristol. Aku enggak peduli kamu lagi patah hati, jadi kamu harus jadi tour guide yang menyenangkan hari ini."
...****************...
Ikhlas.
Kadang bibir berkata ikhlas, tapi hati belum bisa sepenuhnya ikhlas. Hati membutuhkan waktu untuk mengikhlaskan suatu hal.
Inilah yang dirasakan Rafa beberapa bulan ini. Berulang kali ia mengatakan jika telah mengikhlaskan Hanna yang lebih memilih Arthur, tapi nyatanya ia masih saja diam mengikuti Hanna untuk melihat apa yang sedang dilakukan oleh gadis itu.
Bahkan diakhir kuliahnya di Bristol ini, Rafa kembali dihadapkan dengan pilihan yang harus ia pilih. Pulang kembali bersama orangtuanya atau bertahan di Bristol hingga Hanna menyelesaikan studinya.
"Fa... mama panggil dari tadi loh." Mama Salma menghampiri Rafa yang sedang melamun di meja belajarnya dengan laptop yang masih menyala.
Kedua orangtua Rafa datang ke Bristol untuk menghadiri acara wisuda Rafa yang akan diadakan dua hari lagi.
"Makan malam udah siap, Papa juga udah nungguin tuh."
"Iya, Ma. Rafa matiin laptop dulu, bentar lagi Rafa keluar ya."
Rafa segera mematikan laptopnya dan merapikan meja belajarnya. Setelah itu bergegas keluar kamar untuk menuju ruang makan dan makan malam bersama orangtuanya.
Kedatangan orangtuanya ke Bristol sangat mengobati kerinduan Rafa kepada mereka, terutama kerinduan Rafa pada mamanya. Selain itu, Rafa juga dapat merasakan masakan mamanya secara langsung.
Tidak banyak obrolan yang terjadi selama makan malam. Hingga akhirnya Rafa membuka obrolan yang cukup serius ketika semuanya sudah selesai makan.
"Pa... Ma... Rafa enggak akan ikut pulang papa mama." Ucap Rafa yang sontak membuat kedua orangtuanya kaget. "Jadi waktu itu... Rafa ngurus untuk memperpanjang tinggal disini."
"Kenapa?" Tanya Papa Adit.
__ADS_1
"Rafa akan disini sampai Hanna selesai kuliah."
"Tapi kamu bilang... Hanna enggak masalah kalo kamu balik kan?" Mama Salma yang tengah memasukkan piring ke dishwasher segera menghentikannya dan duduk di kursi makan sebelah Rafa.
Mama Salma merasa sedih, karena ini berarti dirinya masih harus berjauh-jauhan dengan anak bungsu kesayangannya itu.
"Iya, Ma, tapi Rafa mau menuhin janji Rafa ke om Taufik. Seenggaknya kalo nanti Hanna ada apa-apa, ada Rafa disini yang bantuin karena tante Widya dan Wildan enggak bisa secepatnya kesini. Gimana pun, Rafa masih terdaftar sebagai walinya Hanna, Ma."
Mama Salma menghela nafas panjang, sementara papa Adit sedari tadi hanya memperhatikan Rafa.
"Terus, apa rencanamu selama disini?" Tanya papa Adit dengan kedua tangannya yang bersedekap di depan dadanya.
"Rafa... udah apply lowongan di kampus, kebetulan ada lowongan di web sebagai credit controller. Awal bulan depan Rafa udah mulai kerja."
"Fa, kamu... yakin dengan keputusanmu ini? Karna kalo kamu udah kerja nanti, kamu enggak bisa seenaknya pulang. Dan juga-"
"Ma, Rafa udah pikirin semuanya dengan baik." Rafa menyela perkataan mamanya. "Mama enggak perlu khawatir sama Rafa disini, Rafa hanya perlu kerja tiga puluh lima jam dalam lima hari kerja. Gajinya juga lumayan, Rafa bisa dapet lebih dari dua puluh tujuh ribu poundsterling dalam setahun. Jadi Papa dan Mama enggak perlu kirimin uang lagi buat Rafa."
Rafa mencoba menenangkan mamanya yang mulai berkaca-kaca, meskipun ia tahu ini tidak akan mudah. Meskipun ada keinginan untuk pulang bersama orangtuanya, tapi Rafa lebih memilih bertahan di Bristol.
"Pa... bantuin mama ngomong gitu ke Rafa sih! Jangan diem aja gitu!"
"Rafa udah gede, Sal. Anggap aja Rafa kayak masih kuliah disini, kita masih bisa kesini untuk nengokin Rafa. Dan Rafa juga masih bisa pulang dengan libur tahunannya."
"Tapi kan-"
"Oke, papa enggak masalah dengan keputusanmu ini. Yang penting kamu bisa bertanggung jawab aja dengan apa yang kamu jalani selama disini."
Rafa merasa lega karena akhirnya memperoleh ijin dari orangtuanya untuk tetap berada di Bristol. Yah, meskipun mamanya agak keberatan dengan keputusannya. Setidaknya, kini Rafa masih memiliki waktu untuk menjaga Hanna dan memastikannya baik-baik saja.
__ADS_1