
"Rafaaaaa...! Aku mau yang itu." Alita masih merengek sambil menunjuk ke mobil es krim yang letaknya tak jauh dari tempat mereka duduk sekarang.
Setelah selesai makan tadi, keduanya berpindah tempat menuju sebuah taman yang letaknya tak jauh dari Universitas Bristol. Hal ini dipilih Rafa agar memudahkan Theo dalam mencari alamat dan dapat segera bertemu dengan istrinya yang super duper rempong ini.
Dan sejak awal kedatangan mereka di taman ini, sejak itu pulalah Alita terus merengek untuk membelikannya es krim. Tapi Rafa tetap pada pendiriannya untuk tidak membelikan mantan kekasihnya itu es krim. Kini lelaki itu malah menyibukkan diri dengan ponselnya, untuk mengurusi beberapa pekerjaan yang tertunda karena kedatangan Alita yang tiba-tiba itu.
"Beliin dulu lah, Fa. Nanti pasti diganti kok sama Theo."
Rafa menghela nafas dan menurunkan ponsel dari pandangannya.
"Bukan masalah digantinya, Lit. Kamu habis makan segitu banyak, dijeda dululah. Lagian orang hamil mana boleh makan es krim?"
"Sok tau kamu!" Alita bersedekap sambil memanyunkan bibirnya. "Es krim kan juga ada manfaatnya tau buat ibu hamil. Buat nambah BB, ngurangin mual, dan sebagainya."
Rafa memijat pangkal hidungnya. Ia merasa telah kehabisan akal untuk menghadapi Alita yang tengah hamil ini.
"Iyaaaaa... nanti aku beliin, tapi nanti! Kamu istirahat dulu, ngehirup udara alam terbuka, biarin makanannya melorot dulu, baru nanti aku beliin es krim kalo suamimu itu enggak dateng-dateng."
"Ngapain dia dateng kesini? Disana kan ada mantan terindahnya!" Alita menggerutu.
"Ya kan kamu istrinya, ya pasti Theo bakal nyusulin kesinilah."
"Mana buktinya? Dari tadi dia enggak dateng-dateng?"
"Jarak London ke Bristol kan enggak deket, Lit. Kamu kan juga tadi ngerasain perjalanan kesini itu berapa jam."
"Dianya aja yang emang sibuk sama mantannya."
Rafa membungkam mulutnya, ia tidak ingin berkomentar mengenai masalah rumah tangga Alita.
"Lagian disini tuh panas, Fa. Kenapa pula sih kamu ngajakin aku kesini, bukannya ke rumah kamu aja biar aku bisa tiduran. Capek tau enggak bawa beban dua kali lipat gini. Om Adit pasti juga akan ngerti, kan beliau tau kalo aku udah nikah."
Rafa kembali menghela nafasnya. "Bukan masalah itu, Lit. Itu rumah kan enggak cuma punyaku, jadi aku enggak bisa bawa semuanya masuk kesana."
"Yaudah kalo gitu sebagai gantinya kamu beliin aku es krim aja sana!"
Rafa menggelengkan kepalanya, dan tentu saja itu membuat Alita semakin merasa kesal.
__ADS_1
"Kenapa sih kamu kayak Theo?! Makan ini enggak boleh, makan itu enggak boleh, bikin kesel aja!"
"Duh, Lit. Masalah itu anakmu sama Theo, ntar kalo kamu kenapa-napa dan berimbas ke bayinya, bisa dihajar aku sama Theo. Kalo itu anakmu sama aku ya enggak masalah, sok sana beli es krim se-abang sama mobilnya sekalian."
"Ga lucu!" Alita mendengus kesal. Matanya bahkan sudah mulai berkaca-kaca, seperti anak kecil yang akan menangis karena tidak dibelikan es krim oleh orang tuanya.
Tak berapa lama, terlihat seorang lelaki yang tengah berlari menuju bangku tempat Rafa dan Alita tengah duduk.
"Sayang...." Ucap Theo dengan nafasnya yang terengah-engah dan berjongkok di depan tubuh Alita.
"Kenapa lama banget sih?! Enggak enak tau lama-lama disini. Udah panas, Rafa juga enggak mau beliin aku es krim." Alita mencebik, mengadu pada sang suami yang baru saja tiba.
Sedangkan Rafa terperanga, tidak percaya dengan apa yang terjadi sekarang. Bukan beberapa saat yang lalu Alita baru saja mengomel soal suaminya itu? Kenapa sekarang malah berubah manja seperti ini?
"Maaf." Theo menjawab singkat sembari masih mengatur nafasnya. "Ayo kita beli es krim sekarang."
Theo menggandeng tangan istrinya, lalu berdiri dan kini menghadap ke arah Rafa yang masih tak bisa berkata-kata itu.
"Lo mau es krim, Fa?" Tanya Theo yang dijawab gelengan kepala oleh Rafa.
Terlihat Theo berbalik badan ke arahnya, menggerakkan tangannya untuk memberikan kode kepada Rafa. Theo nampak mengusap dadanya dan membuat gerakan dengan tangannya yang menggambarkan perut yang sedang membesar karena hamil.
Ah! Rafa mengerti. Theo menyuruhnya bersabar untuk menghadapi ibu hamil itu. Nampaknya Theo sangat paham dengan mood istrinya yang tidak menentu itu.
...****************...
Setelah Alita dan Theo memutuskan untuk kembali ke London, Rafa memacu mobilnya untuk pulang ke rumah. Jaraknya memang tidak jauh, tapi tubuhnya benar-benar merasa lelah. Mungkin karena ia tidak terbiasa berlama-lama duduk santai di taman seperti tadi.
Rafa menghela nafasnya saat mengetahui mobil Giulia terparkir di pinggir jalan, tepat di depan rumahnya. Giulia memang mengiriminya banyak pesan tadi, dan Rafa tidak membalasnya. Mungkin itulah alasan mengapa Giulia menunggunya di depan rumah seperti ini.
"Hai." Sapa Giulia dengan senyum merekah saat Rafa berjalan ke arahnya.
Rafa menjawabnya dengan senyuman. "Kau telah menunggu lama?"
Giulia mengangguk samar. "Lumayan hehehehe...."
Gadis itu lantas berbalik dan mengambil tas ransel Rafa yang biasa digunakan Rafa saat bekerja.
__ADS_1
"Aku membawakan tasmu pulang. Laptop, charger dan beberapa dokumen sudah aku masukkan ke dalamnya." Giulia menyerahkan tas itu kepada Rafa.
"Terima kasih, Giulia. Maaf telah merepotkanmu."
"Tidak. Aku... tidak masalah. Eee... soal tadi siang, aku minta maaf. Ayahku memang... sedikit keras."
Tiba-tiba saja Giulia merasa kikuk saat harus membicarakan tentang makan siang mereka tadi.
"Ah, soal itu! Tidak apa-apa, kamu anak satu-satunya, wajar saja jika ayahmu memperlakukanku seperti itu. Tapi Giulia-"
Seolah bisa menebak apa yang akan Rafa katakan, Giulia dengan cepat memotong perkataan Rafa.
"Tidak, Rafa. Apapun yang akan kamu katakan, perasaanku padamu tidak akan pernah berubah."
"Giulia... itu hanya akan menyakitimu. Sudah kukatakan berulang kali apa alasanku tidak bisa menerima perasaanmu, dan itu tidak akan berubah."
"Tidak bisakah kau memberikanku kesempatan, Rafa? Aku akan membantumu keluar dari kenangan itu."
Rafa tersenyum tipis. "Aku bukannya tidak bisa keluar dari kenangan itu, Giulia. Tapi aku yang tidak ingin."
Rafa meletakkan ranselnya di tanah, lalu berjalan mendekat ke arah Giulia. Memegangi kedua bahu Giulia untuk menenangkqn Giulia yang kini mulai berlinang air mata itu.
"Carilah lelaki yang bisa membahagiakanmu, Giulia. Lelaki yang bisa membalas cintamu, lebih besar dari cinta yang kamu berikan kepadanya. Kau hanya akan melukai dirimu sendiri jika terus berada disampingku, karena kau tau... aku tidak akan bisa melakukan itu semua."
Rafa menarik tubuh Giulia, dan memeluknya dengan erat. Rafa berharap pelukan ini sebagai pelukan terakhir untuk Giulia agar gadis itu bisa melepaskan perasaan cintanya untuk dirinya.
...****************...
Ada yang kangen sama akuuuuu? 🤣🤣🤣
Maapkeun ngilang lagi selama beberapa waktu, biasaaaaa... lagi butuh inspirasi. Jadi kemarin 'melarikan diri' dari kesibukan sehari-hari dulu, eh malah keterusan 🤭
Setelah chapter ini, nanti alurnya bakal aku cepetin ya. Biar cerita ga berbelit-belit dan yang jelas bisa segera menuju ending hehehehehe....
Terima kasih semuanya yg udah mau sabar nungguin, semoga kalian sehat-sehat selalu ya 🤗🤗🤗
Kalo dalam beberapa hari ke depan aku enggak nongol lagi, berarti lagi ngadon hahahahaha.... Tungguin aja pokoknya 🤭😘
__ADS_1