
"Jangan keluyuran malam-malam atau sampai pergi tempat-tempat enggak jelas, besok kita ada meeting yang bakal memakan waktu lama."
Itulah nasihat Rayyan saat mereka menginjakkan kaki di hotel, tempat mereka menginap selama dua malam ke depan. Rayyan tahu jika adiknya tidak pernah keluyuran di malam hari sejak kepulangannya, berbeda dengan dulu yang sering banyak alasan dan pulang larut malam.
Rayyan hanya mengkhawatirkan adiknya akan penasaran mengunjungi tempat hiburan di sekitar sini, meskipun sebenarnya tidak seramai jika berada di Bali. Rayyan hanya berjaga-jaga untuk mengingatkan saja. Pasalnya dia telah melihat adiknya telah berubah dari Rafa yang dulu, dia hanya tidak ingin Rafa kembali seperti dulu dan membuat pusing papanya.
Lagian, sepertinya Rafa juga tidak berniat untuk pergi kemana-mana malam ini. Entah kenapa cuaca tiba-tiba menjadi tidak bersahabat saat perjalanan mereka menuju hotel tadi.
Hujan deras mengguyur selama perjalanan, bahkan tidak kunjung reda juga saat kini mereka telah sampai di hotel. Rafa hanya ingin segera masuk ke kamar mandi, untuk kemudian mandi dan bergelung dibawah selimut yang hangat. Entah karena kelelahan atau memang sedang tidak enak badan, yang jelas Rafa hanya istirahat sekarang.
Rafa memperhatikan Abangnya yang baru saja menjauhinya untuk menerima telepon. Entah telepon dari siapa yang sampai memaksa Abangnya pergi menjauh, padahal Tio telah selesai dengan pengambilan kunci kamar mereka. Rayyan bahkan melirik ke arah Rafa beberapa kali, seolah sedang menyembunyikan sesuatu dan tentunya membuat Rafa menjadi curiga.
"Selingkuh lo, Bang?" Tuduh Rafa saat Abangnya mendekat ke arahnya untuk mengambil kopernya. "Inget kak Zahra sama Abby di rumah, inget juga sama Mama. Kasian kalo mama sedih lagi gara-gara kelakuan anaknya yang enggak bener."
"Ngaco!" Rayyan menjawab dengan ketus. Lalu tanpa memberikan penjelasan, dia menarik kopernya dan berjalan menuju lift.
Rafa tidak berkomentar lagi, ia menjaga harga diri Abangnya karena kini ada Tio dan dua orang asisten abangnya di dalam lift. Hingga akhirnya ia mencoba bersikap bodo amat. Jika nanti tuduhannya benar, Rafa akan menghajar Abangnya habis-habisan disini.
Yah, itung-itung balas dendam karena dulu Rayyan juga menghajarnya saat Abangnya mengetahui soal sandiwara pernikahannya bersama Hanna.
...****************...
Rafa benar-benar merasa tidak enak badan. Badannya demam, tapi juga merasa menggigil. Rafa bahkan menolak ajakan abangnya untuk makan malam diluar, dan memilih untuk makan malam di kamar. Tujuannya kesini adalah untuk pekerjaan, bukan untuk menyembuhkan diri di kamarnya. Padahal tadi ia berencana untuk memata-matai abangnya, tapi ternyata malah gagal.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul satu dini hari dan Rafa belum dapat memejamkan matanya. Badannya memang sedang sakit, tapi entah mengapa sulit diajak kompromi agar bisa segera tidur. Sedari tadi ia hanya sibuk mencari posisi nyaman agar tidak merasa kedinginan.
Ia memaksa tubuhnya untuk melawan hawa dingin yang terkena kulitnya. Lalu berjalan secepat mungkin menuju koper, guna mencari kotak obat yang selalu dibawakan oleh mamanya. Rafa menghela nafas lega, setidaknya ada obat demam yang dimasukkan mamanya. Buru-buru ia meminumnya agar badannya lekas membaik dan bisa tidur dengan nyenyak. Karena ia tahu, pertemuan besok pagi pasti akan berlangsung lama.
...****************...
Suara ketukan di pintu dan bel itu terdengar seperti sedang bersahut-sahutan. Tidak merdu sama sekali, yang ada malah mengusik Rafa dalam alam mimpinya.
Rafa merasa jengkel, ia baru saja bisa tidur lelap setelah efek dari obat penurun panas itu bekerja. Rasanya ia baru terlelap beberapa saat, tapi kini justru muncul gangguan yang memaksanya untuk segera bangun.
Demam dan rasa menggigil itu tidak muncul lagi, tapi berganti dengan pusing yang mungkin disebabkan karena kurang tidur. Sambil mengomel tidak jelas, Rafa bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju pintu kamarnya. Ia bersumpah akan segera memaki siapa pun itu jika membangunkannya untuk sesuatu yang tidak penting.
"Kenapa sih berisik banget pagi-pagi gini?" Rafa langsung mengomel saat mendapati Tio yang berdiri di depan pintu kamarnya
"Terus, kenapa pula elo udah rapi? Ini jam berapa sih?" Imbuh Rafa sembari mengucek matanya.
"Ini udah jam sembilan lewat, Pak. Pertemuannya udah dimulai, dan... pak Rayyan keliatan marah karena pak Rafa belum hadir disana." Jawab Tio dengan gusar.
Rafa langsung membelalakkan matanya. Saat itu juga ia langsung menarik tangan kiri Tio untuk melihat jam tangannya. Ia tidak percaya, dirinya baru saja terlelap kenapa sekarang sudah tiba-tiba jam sembilan lewat?
"Kenapa lo enggak bangunin gue dari tadi sih?! Bilangin Abang gue lagi siap-siap, bentar lagi gue ke ruangan."
Rafa buru-buru menutup pintu kamarnya, namun kemudian Tio mengetuknya kembali.
__ADS_1
"Apa lagi sih, Tio? Lo mau gue makin dimarahin sama Abang?"
"B-bukan gitu, Pak. Pertemuannya... ada di lantai dua, meeting room nomer dua."
Rafa hanya menganggukkan kepalanya, lalu kembali menutup pintu kamarnya dan buru-buru bersiap. Pusing di kepalanya sepertinya akan semakin menjadi hari ini. Sudah pasti karena ia akan kena semprot dari Rayyan lantaran terlambat datang, dan pastinya karena jam tidurnya yang berantakan.
...****************...
Rafa sedang buru-buru. Sekeluarnya ia dari kamarnya tadi, Rafa berjalan dengan langkah lebar sambil memasang dasinya. Ia tidak peduli rasa lapar yang kini melanda perutnya karena semalam hanya makan beberapa suap. Diliriknya jam tangannya dan waktu menunjukkan hampir pukul sepuluh, dan berarti pertemuan itu sudah hampir satu jam berjalan.
Meskipun Abangnya adalah bos-nya, dan hotel tempat mereka menginap ini adalah milik papanya, tetapi Rafa tidak bisa semena-mena itu dalam bekerja. Sudah pasti ia akan dicap buruk karena terlambat datang, apalagi dengan keterlambatan hampir satu jam.
Sebelum menarik handle pintu meeting room nomer dua, Rafa menghirup nafas dalam-dalam. Bersiap untuk menerima tatapan sinis dari orang-orang yang berada di dalam ruangan, terutama Abangnya.
Abangnya pasti akan marah besar karena dibuat malu olehnya. Membayangkan kemarahan Rayyan entah kenapa membuatnya bergidik ngeri, padahal sebelumnya ia akan bisa bersikap santai menghadapi abangnya.
Setelah menghitung mundur dalam hati, Rafa segera menarik handle pintu itu dan masuk ke dalam tanpa bersuara. Ditatapnya wajah Rayyan yang menatapnya dengan ekspresi datar, pasti abangnya itu sedang menyimpan kemarahannya untuk dilampiaskan nanti.
Tio memberi aba-aba kepada Rafa agar segera duduk di kursi yang berada disebelahnya. Rafa segera berjalan mengendap-endap, agar tidak menganggu seseorang yang sedang menyampaikan presentasi kerjanya.
Namun baru beberapa langkah saja, Rafa langsung berhenti dan mendengar dengan seksama suara seseorang yang sedang berbicara. Ia mengenali suara ini, dan ia yakin betul bahwa ini adalah suara dari seseorang yang sedang dicarinya.
Hanna!
__ADS_1
Ya, itu Hanna. Gadis yang ia cari setahun ini hingga membuatnya hampir gila, ternyata bersembunyi disini. Bersembunyi sambil bekerja untuk keluarganya.