
Dengan sangat terpaksa, Rafa melangkahkan kakinya masuk ke dalam kantor Theo. Ini semua bukan karena permintaan Alita, tapi karena kemauannya sendiri. Ia tahu Theo tidak akan menyuruhnya masuk dan menemuinya begitu saja. Rafa bahkan telah memohon berulang kali kepada pegawai Theo, tapi hasilnya tetap sama.
"Yaudah, kasih telponnya ke saya. Biar saya yang ngomong sendiri sama Theo."
"Tapi, Pak-"
Rafa memaksa dengan merebut gagang telpon yang dipegang oleh pegawai yang mengaku bernama Irene ini. Dan dengan terpaksa serta khawatir akan nasibnya, Irene akhirnya menekan nomer yang tersambung ke ruangan Theo.
"Ya, Irene? Dia belum mau pergi?" Ucapan Theo barusan langsung membuat Rafa merasa kesal.
"Gue enggak akan pergi ya, ini penting woi! Biarin gue masuk kenapa sih? Lagak lo sibuk macam orang penting aja!"
"Kalo lo kesini cuma untuk ngejelasin soal salah paham kemarin, mending lo pulang aja, Fa. Gue enggak ada waktu buat itu."
"Bukan soal itu, makanya biarin gue masuk dulu!"
Dengan terpaksa, Theo akhirnya mengijinkan Rafa untuk menemuinya. Sebenarnya Theo juga penasaran dengan maksud kedatangan Rafa ke kantornya ini.
"Masih belum baikan sama Alita, eh? Gue pikir kalian akan langsung baikan semalam?" Sindir Rafa saat masuk ke ruangan Theo.
Rafa bahkan dengan sengaja mengambil figura berisi foto Theo dan juga Alita yang terletak di meja kerja Theo. "Kalian ini pacaran atau enggak sih? Fotonya kaku amat!"
"Kalo lo kesini cuma buat nyindir, mending pulang aja. Gue banyak kerjaan yang lebih penting daripada ngeladenin elo."
__ADS_1
"Eits, jangan sensi dulu dong. Lo udah kayak cewek lagi PMS aja marah-marah enggak jelas."
Tanpa dipersilahkan duduk, Rafa duduk dikursi yang berhadapan dengan Theo.
"Gue dateng kesini buat ngebantuin elo, jadi harusnya elo berterima kasih ke gue. Bukan malah marah-marah."
"Langsung aja keintinya." Ucap Theo dengan nada yang ketus.
"Jujur sama gue, elo enggak bener-bener mau pisah dan enggak jadi nikah sama Alita kan?"
"Kalo gue beneran pisah, lo seneng kan bisa dapetin Alita lagi?"
"Alita mana mau sama gue lagi. Kalo dia masih mau sama gue, Alita yang bakal minta putus ke elo. Bukan sebaliknya. Gue itu udah diblacklist untuk dalam kehidupan percintaannya dia."
"Jadi?"
"Ntar malem jam tujuh, lo dateng kesana. Mandi, pake baju yang rapi, dandan yang ganteng. Alita bakal ada disana tuh jam segitu."
"Maksudnya?"
"Ah, elo mah ganteng doang tapi lemot." Gerutu Rafa sembari memijat pangkal hidungnya.
"Jadi gini ya, Alita itu lagi ngerjain elo. Dia emang marah karena elo ngajakin pisah, tapi sebenernya Alita enggak mau kalo harus pisah. Jadi dia ngajakin gue ke kafe adik lo, tujuannya buat mancing rasa penasaran adik lo dan keluarga lo. Nanti kalo udah pada curiga, baru deh Alita ngomong ke keluarga lo kalo elo tuh enggak mau dengerin penjelasan dia dan langsung minta putus gitu aja. Bahkan kalo keluarga elo ngedukung elo untuk putus gara-gara Alita gue peluk kemarin, Alita bakal bilang kalo dia hamil anak elo. Noh, kemarin dia udah nyiapin testpack yang digaris merah dua pake spidol permanent."
__ADS_1
Karena tidak juga mendapat respon dari Theo yang malah sibuk bengong itu, Rafa akhirnya menyentil dahi Theo dengan sengaja.
"Ngerti kan gue ngomong apaan tadi?"
Theo mengangguk, lalu berdehem sambil membenarkan posisi duduknya. "Kenapa... elo ngomongin rencana Alita ini ke gue?"
Rafa menghela nafasnya, merasa kesal ini sebenarnya Theo memang lemot atau pura-pura tidak tahu.
"Itu karena... gue enggak mau lagi disangkut pautin sama hubungan kalian. Apalagi dengan rencana Alita ini gue bakal kebawa-bawa sampai keluarga besar kalian. Gue udah ikhlas kalo Alita akhirnya sama elo, seenggaknya dia enggak ketemu cowok ber*ngsek macam gue lagi. Lo jaga tuh Alita, kalo ada masalah jangan sampai gampang bilang-bilang pisah. Elo yang bakal rugi dan nyesel seumur hidup kayak gue."
Theo tersenyum sambil menahan senyumnya. Rafa telah membantunya, tidak mungkin kan dia menertawakan curhatan Rafa barusan?
"Hm, gue ngerti."
"Jangan lupa ntar malem jam tujuh." Rafa mengingatkan kembali sembari beranjak dari duduknya untuk meninggalkan ruangan Theo.
"Makasih, Fa. Dan gue... harus minta maaf ke elo."
"Minta maaf soal apa?"
Theo menggaruk kepalanya, merasa ragu untuk mengatakan yang sebenarnya pada Rafa.
"Hanna. Jadi sebenernya... gue yang kirimin foto ke Hanna waktu kalian pelukan itu. Gue... cemburu, Fa. Sorry."
__ADS_1
"Ah, kampret lo ya!"
Pintu yang telah terbuka sebagian itu akhirnya tertutup kembali, lantaran Rafa lebih memilih untuk melampiaskan emosinya kepada Theo. Bagaimana bisa Theo melakukan hal ini? Padahal ia dengan baik hatinya membantu Theo agar segera berbaikan dengan Alita.