Back To You

Back To You
Chapter 57


__ADS_3

Alita mengendurkan pukulan yang sedari tadi mengarah ke tubuh Rafa. Isak tangisnya masih terdengar, meski tidak sekeras tadi. Rafa juga masih berada diposisi awalnya, berdiri diam membiarkan Alita memukulnya dengan sekuat tenaga.


"Kenapa kamu enggak membela diri, Fa!" ucap Alita dengan lirih, mendongak menatap Rafa sambil mencengkeram kaos yang dikenakan lelaki itu.


Rafa yang sedari tadi menunduk dengan mata yang berair masih setia dengan keterdiamannya. Memang lebih baik ia diam saja, ia tidak ingin semakin terluka.


"Sedari awal aku berharap kamu akan bilang kalo itu video lama, saat kamu dan Jihan masih berstatus pacaran. Bukan seperti ini jawaban yang aku pengen denger, Fa!" Alita meraung. Seolah tenaga yang ia keluarkan sedari tadi belumlah cukup untuk meluapkan semua emosinya.


"Maaf." Rafa meraih kedua tangan Alita yang masih mencengkeram kaosnya, lalu menggenggamnya dengan erat. "Tolong maafin aku. Kamu boleh hukum dan pukul aku sesukamu, tapi tolong... jangan pergi dariku."


"Kenapa? Bukannya kamu pengen balikan sama mantan kamu yang seksi itu?" ucap Alita dengan sarkastik.


Rafa menggelengkan kepalanya. "Enggak, sayang. Sama sekali enggak. Aku memang melakukan kesalahan dengannya, tapi bukan berarti aku mau balikan sama dia. Aku cuma mau kamu, Lit."


"Terus gimana sama aku? Gimana caraku untuk bisa melupakan kesalahanmu ini? Gimana caraku memaafkanmu dan bersikap seperti biasa lagi?"


Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir Rafa. Lelaki itu hanya memandangi Alita, dengan raut wajah memohon segala kebaikan yang dimiliki Alita.


"Ini enggak akan mudah, Fa."


"Aku tau. Tapi tolong beri aku kesempatan untuk menebus segala kesalahanku padamu, Lit. Aku janji kali ini enggak akan ngecewain kamu."


Kini giliran Alita yang terdiam. Alita memandangi kedua tangannya yang masih digenggam erat oleh Rafa.

__ADS_1


Dilema. Itulah perasaan yang kini melanda Alita. Dia telah dikecewakan oleh Rafa, tetapi rasa cintanya pada lelaki itu pun juga begitu besarnya. Alita tidak ingin kehilangan Rafa, tapi dia juga tidak ingin hatinya kembali terluka.


"Kedepannya mungkin hubungan kita enggak akan mudah, Fa. Aku pasti akan selalu mengungkit kesalahanmu berulang kali. Aku juga enggak bisa janji hubungan kita nanti akan sebaik kemarin, jadi... berusahalah."


Setelah mendengarkan kata demi kata yang diucapkan oleh Alita, Rafa tak kuasa lagi untuk segera menarik Alita dalam dekapannya. Memeluknya dengan erat, menyampaikan rasa terima kasihnya pada Alita, dan juga... kerinduannya.


"Makasih, sayang." ucap Rafa dengan menghujani kecupan ke puncak kepala Alita.


Rafa tidak peduli cobaan apa yang menantinya di depan nanti, ia tidak peduli. Karena ia telah berjanji untuk berjuang demi Alita-nya.


......................


Sebuah tempat makan di dekat anjungan menjadi pilihan Alita untuk mengisi ulang energinya. Setelah meluapkan segala kekesalannya kepada Rafa, Alita merasa lelah sekaligus lapar. Terlebih beberapa hari ini nafsu makannya berkurang drastis.


"Biar aku kupasin kulit udangnya." ucap Rafa sembari mengambil alih sepiring udang bakar yang berada di depan Alita.


Alita hanya mengangguk, lalu memandangi Rafa yang dengan telaten mengupas kulit udang dengan sendok dan juga garpu ditangannya.


Rafa tidak berubah. Ia memang selalu mengupaskan kulit udang untuk Alita saat keduanya memilih seafood sebagai pilihan makan mereka. Meskipun Alita merasa kini Rafa banyak diamnya, tapi Alita tahu itu karena rasa bersalah Rafa kepadanya.


"Kamu... kapan mulai magang di kantor lagi?" Alita mencoba untuk mencairkan suasana yang super canggung itu.


"Hmm... besok mungkin. Aku udah enggak ada urusan untuk ke kampus lagi." Rafa menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari udang terakhir yang dikupasnya.

__ADS_1


"Kamu mau ke kampus?" tanyanya sembari mengulurkan piring dengan udang bakar yang telah terlepas dari kulitnya.


"Enggak."


Hening kembali menyelimuti, keduanya sibuk menikmati makanan yang mereka pesan. Hingga akhirnya Rafa membayar makanan mereka di kasir, interaksi keduanya masih sangat minim.


Alita berjalan lebih dulu menuju parkiran mobil, disusul oleh Rafa yang berlari kecil untuk mengejar Alita.


"Mau pergi ke suatu tempat?" tanya Rafa sambil memasang seatbelt-nya.


"Enggak. Kita langsung pulang aja."


Rafa mengangguk, lalu melajukan mobilnya membelah jalanan menuju rumah Alita. Kali ini suasananya tidak secanggung tadi. Keduanya telah terlibat percakapan panjang meskipun hanya membahas perihal tugas akhir yang sebentar lagi akan mereka jalani.


"Aku langsung pulang ya. Aku harus mampir ke rumah Hanna untuk ambil titipan tante Widya buat mama. Kamu... bisa tanya Hanna kalo enggak percaya." Rafa mengucapkannya dengan hati-hati, tidak ingin membuat Alita tersinggung dan kembali ngambek padanya.


"Aku percaya." Alita tersenyum, yang entah mengapa langsung membuat Rafa semakin merasa bersyukur memiliki kekasih seperti Alita. Betapa bodoh dirinya kemarin dengan mudahnya jatuh dalam godaan Jihan.


"Bolehkan aku panggil kamu 'sayang' lagi?"


Alita kembali tersenyum, disertai angguka kepalanya. Meskipun sempat terkejut saat Rafa memeluknya, tapi kini Alita membalas pelukan itu sama eratnya.


"Makasih udah kasih kesempatan buatku, I promise I'll do my best to make you smile every single day."

__ADS_1


__ADS_2