
Rafa tidak main-main dengan keputusannya. Sepulang bertemu dengan Hanna tadi, ia langsung kembali ke rumah untuk membicarakannya dengan keluarganya. Meskipun ia tidak menjawab jawaban dari Hanna, tapi Rafa tetap pada keputusannya.
Hari Sabtu begini, keadaan rumah orangtua Rafa selalu ramai. Kakak-kakaknya akan datang ke rumah untuk berkumpul, ditambah kehadiran Abby yang semakin membuat suasana rumah menjadi kian ramai.
"Lo gila ya, Fa!"
Eowyn adalah orang yang pertama kali berkomentar. Sementara anggota keluarga yang lain masih tercengang dengan apa yang baru saja Rafa ucapkan. Zach malah sibuk mengamati raut wajah mertuanya dan juga iparnya yang masih tampak shock itu.
Eowyn bukan hanya berucap dengan nada suaranya yang naik satu tingkat, tapi sebuah pukulan keras juga ikut mendarat dilengan Rafa. Sempat mengaduh dan mengusap lengannya yang terasa sakit, Rafa kembali melanjutkan kalimatnya. Menyampaikan jika ia ingin mempersunting Hanna sebagai istrinya.
"Rafa udah ngomongin hal ini ke Hanna barusan. Memang semuanya terkesan dadakan, tapi... Rafa udah yakin sama keputusan ini."
"Fa, mama tau kamu selama ini deket sama Hanna. Dan... kemarin... mama ceritain semua ke kamu itu biar kamu bisa nenangin Hanna. Mungkin kamu bisa hibur Hanna dengan jalan-jalan atau... kamu bujuk mungkin buat kuliah disini aja. Bukan malah kamu ambil keputusan kayak gini, Fa."
Mama Salma akhirnya ikut bersuara. Meskipun dengan terbata-bata, dia mencoba menjelaskan keadaannya kepada Rafa. Mungkin saja Rafa bisa memikirkan kembali keputusannya ini.
"Rafa tau, Ma, dan Rafa udah yakin sama keputusan yang Rafa ambil. Rafa udah mikirin ini semalaman."
"Lo nikahin Hanna bukan karena ada maksud lain kan?" giliran Rayyan yang mencerca Rafa layaknya seseorang yang sedang diinterogasi.
__ADS_1
Rafa menghela nafasnya. "Maksud lain apaan sih, Bang? Orang adiknya mau nikah buat ibadah kok malah dicurigain sih?"
"Ya jelas curigalah, Rafa." Eowyn berpindah duduk dari sebelah suaminya ke sebelah Rafa. "Masalahnya lo udah lama enggak ada pacar, trus sekarang tiba-tiba aja mau nikah. Gue juga baru sebulan nikah, wajar dong kalo semua curiga sama kamu."
"Ya emang kenapa kalo lo baru sebulan nikah?" Rafa berucap cuek. Sebenarnya ia merasa sedikit takut lantaran papanya belum juga bersuara. Sementara Zahra dan Zach sepertinya memang memilih untuk diam dan tidak ikut campur dalam permasalahan ini.
"Fa, kamu pikir-pikir lagi deh." Kini giliran mamanya yang berpindah duduk ke sebelah Rafa. "Menikah ini tuh jangka panjang, bukan kayak kamu pacaran kemarin-kemarin itu. Trus-"
"Rafa tau, Ma." Rafa menyela kalimat mamanya. "Kan Rafa udah bilang kalo Rafa udah yakin sama keputusan ini."
"Eee... maksud Mama, bisa jadi... Om Taufik itu cuma asal ngomong gitu. Jadi, dia enggak betul-betul pengen nikahin Hanna sama orang lain. Lagian Hanna kan baru aja lulus SMA, masih... terlalu muda kan untuk menikah?"
Tapi Rafa tidak gentar, ia tidak akan mundur dan menyerah akan keputusan yang telah ia ambil.
"Tapi kan kamu sendiri yang selalu bilang kalo Hanna itu masih anak kecil. Nama kontaknya dihape kamu aja 'bocil' kan?"
Rafa terdiam. Tampaknya ia baru saja kalah adu argumen dengan mamanya. Ia tidak bisa mengelak, memang benar apa yang dikatakan mamanya. Ia memang selalu menganggap Hanna sebagai anak kecil, dan nama kontak Hanna diponselnya memang 'bocil'.
"Lo cinta sama Hanna?"
__ADS_1
Keterdiaman Rafa semakin menjadi kala Rayyan melontarkan pertanyaan itu padanya. Cinta? Rafa yakin ia tidak menyimpan perasaan cinta untuk Hanna. Karena sebagian besar ruang dihatinya masih diisi oleh Alita.
Tapi entah mengapa kali ini Rafa merasa tidak suka dengan keputusan ayah Hanna. Membayangkan Hanna menikah dengan sosok orang asing sukses membuatnya ngeri. Rafa pun tidak mengerti kenapa ia bisa sampai berpikir serti itu, yang jelas ia hanya takut Hanna akan mendapat perlakuan kasar.
Ia dan Hanna memang saling mengenal sejak kecil. Namun baru sekitar lima tahunan yang lalu keduanya saling dekat. Hanna selalu mengandalkan Rafa karena tidak ingin kebebasannya diluar rumah hilang karena ayah atau kakaknya terlalu mengekangnya. Dan Rafa selalu menjadikan Hanna sebagai tempatnya berkeluh kesah.
Jadi keputusannya ini tidak didasari oleh perasaan cinta kan? Apalagi awal keberanian Rafa mengambil keputusan ini karena ia juga ingin memastikan keadaan Alita.
"Abang mah aneh, orang udah yakin mau nikah masih ditanya begituan." Kini Rafa memasang raut wajah kesal, seakan-akan ia tidak senang dengan pertanyaan abangnya barusan dan menyinggung perasaannya.
"Oke, kita bisa persiapkan semuanya sekarang. Dan besok kita ke rumah Hanna sekeluarga."
Akhirnya papa Adit buka suara juga, membuat semua orang kembali tercengang untuk kedua kalinya.
"Mas Adit serius?"
Papa Adit menganggukkan kepalanya. "Rafa dan Hanna udah cukup umur. Jika anak udah dewasa dan meminta menikah, bukankah kita harus segera mewujudkannya? Daripada nanti mereka bertindak melewati batas. Rafa juga akan belajar untuk semakin bertanggung jawab saat dia udah nikah nanti."
"Tapi mas-"
__ADS_1
"Kamu telpon Widya sekarang, setelah itu kita keluar untuk beli segala keperluan untuk lamaran besok."
Sama seperti Rafa yang telah bertekad untuk menikahi Hanna, maka papa Adit juga telah bertekad untuk segera menikahkan anak bungsunya itu meskipun segalanya serba tiba-tiba.