
Setelah sarapan tadi, Rafa dan Hanna bergegas menuju rumah sakit. Semalaman tadi, Hanna masih belum dapat tertidur dengan pulas. Bukan hanya karena harus seranjang dengan Rafa, tetapi juga karena memikirkan kondisi ayahnya.
Dihari kedua kepulangannya, Hanna belum juga mendapat kabar jika kondisi ayahnya menjadi membaik, seperti yang diinginkannya. Dia pun juga tidak bisa leluasa menunggui ayahnya karena harus berada diluar ruangan, bersama ibu dan juga kakaknya.
Tentu saja Hanna mengharapkan adanya keajaiban yang bisa menyembuhkan ayahnya. Hanna ingin menyampaikan permintaan maafnya secara langsung, disaat ayahnya sadar dan bisa mendengar semua kata-katanya dengan jelas.
Rafa duduk bersebelahan dengan Wildan. Mereka sengaja duduk menjauhi Hanna dan ibunya karena akan membicarakan kondisi ayah mertua Rafa.
"Jadi... emang udah enggak ada harapan untuk ayah sadar dan sehat kembali?" Tanya Rafa pada Wildan, dan dijawab gelengan kepala oleh Wildan.
"Jantung ayah enggak memiliki kemampuan lagi untuk mompa aliran darah keseluruh tubuh, dan... ini udah jadi komplikasi karena banyak organ tubuh yang akhirnya mengalami kegagalan fungsi ." Jelas Wildan.
"Komplikasi? Udah separah itu?"
__ADS_1
Rafa memang tidak mengerti separah apa kondisi ayah mertuanya itu. Baginya, jika ada kata 'komplikasi' pastilah keadaannya memang sangat buruk dari yang terlihat.
"Hm. Beberapa bulan setelah ayah tau kalo menderita gagal jantung, katup jantungnya ikut bermasalah. Dan... sebelum Hanna dapet beasiswa ke Bristol, ayah baru aja tau kalo penyakitnya udah merembet ke ginjal."
"Maksud lo... ayah... mengalami gagal ginjal juga?"
Wildan kembali mengangguk atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Rafa.
"Gagal ginjal kongestif yang ayah derita itu bikin aliran darah ke ginjal jadi berkurang. Terus mungkin juga selama ini pengobatan ayah kurang maksimal, jadi ya sekarang merembet ke ginjal. That's why ayah ngotot buat nikahin Hanna kalo dia tetep mau kuliah di Inggris, dan ayah begitu lega banget karena elo yang akhirnya nikahin Hanna. Bukan orang lain yang belum ayah kenal sepenuhnya."
"Hidup ayah sekarang hanya bergantung dengan alat-alat yang terpasang ditubuhnya. Kita berencana ngasih tau semuanya ke Hanna hari ini, jadi... gue minta banget sama elo untuk bantu nguatin Hanna." ucap Wildan sembari menepuk bahu Rafa.
Percakapan mereka baru saja selesai saat seorang perawat yang akan memantau keadaan ayah Hanna melintas. Rafa dan Wildan segera berdiri dan berjalan mendekat ke bangku tempat Hanna dan ibunya duduk. Semuanya terdiam dan berdoa jika kondisi ayah Hanna akan baik-baik saja. Tapi ternyata Tuhan berkehendak lain.
__ADS_1
Tak lama kemudian, seorang dokter nampak masuk ruang ICU dengan tergesa-gesa. Diikuti oleh beberapa perawat dibelakangnya. Hanna mulai panik, pegangan tangannya pada ibunya kian mengerat. Matanya pun mulai berkaca-kaca. Wildan pun beranjak dari duduknya, lalu duduk disebelah ibunya untuk menguatkannya.
Dokter telah memberitahukan jika kemungkinan apapun bisa terjadi. Apalagi karena kini keberlangsungan hidup ayahnya hanya bergantung pada alat. Wildan dan ibunya telah bersiap untuk kemungkinan terburuknya, tapi tidak dengan Hanna. Gadis itu pastilah akan terpuruk karena kehilangan sosok yang dekat dengannya sejak kecil.
Rafa memang berpindah duduk disebelah Hanna, namun tidak melakukan apapun. Ia hanya tidak tahu apa yang diperbuatnya sekarang, karena takut Hanna akan terang-terangan menolaknya dihadapan keluarganya. Terlebih sejak meninggalkan rumah orangtuanya tadi, tak sedikit pun Hanna berbicara kepadanya. Hanna hanya diam, dan mungkin tidak menganggap keberadaan ada.
Saat dokter keluar dan memberitahukan sebenarnya, tubuh Hanna langsung merosot kebawah. Rafa langsung sigap untuk menopang tubuh Hanna, karena Wildan pasti akan mengurusi ibunya.
Ayah Hanna meninggal. Henti jantung yang terjadi beberapa saat lalu tidak dapat lagi ditangani oleh dokter. Bahkan sebelum dokter memberitahukan kondisi yang sebenarnya kepada Hanna, ayahnya itu memilih untuk lebih dulu pergi meninggalkan keluarganya selama-lamanya.
"Sabar, Han. Ikhlasin ayah, ayah udah berjuang tapi Tuhan berkehendak lain." Ucap Rafa sembari memeluk dan mengusap punggung Hanna.
Seolah tidak mendengar perkataan Rafa, Hanna masih terus saja menangis histeris. Dia setengah sadar dan juga tidak berdaya, sehingga tidak memiliki kekuatan untuk menolak Rafa yang kini tengah memeluknya dengan erat.
__ADS_1
Tidak apa, mungkin disaat beginilah Rafa jadi memperhatikan Hanna. Mungkin disaat beginilah Rafa akan terus berada didekat Hanna. Dan mungkin disaat beginilah Rafa akan memeluk Hanna dengan eratnya.