
Dan untuk ketiga kalinya bagi Hana dan pertama kalinya bagi Vee sekaligus Daniel mendengar buku lama yang akan kembali dibuka dengan Rosé sebagai pemandu cerita.
"Vee, Daniel, kakak harap kalian jangan menyela, baru pertama juga 'kan datang ke tempat seperti ini?"
Kedua pria itu mengangguk kompak, diam-diam berdebar untuk alasan yang sebentar lagi bakalan mereka dengar.
"Bagus. Ayo kita mulai."
...****************...
...04 April 2013...
Rosé menatap hamparan putih salju jalanan New York yang mulai mencair dari jendela rumahnya. Musim semi akan segera tiba dan dengan elok suhu mulai menghangat diiringi salju yang sedikit demi sedikit mulai menghilang.
“Aku kangen kamu.”
Rosé berdecih agak geli setelah melihat ponsel yang menunjukkan pesan dari seseorang. Alih-alih membalas, Rosé justru menekan tombol hijau memulai panggilan.
"Kanesh, kamu tau nggak?"
Suara dibalik telepon terkekeh. "Feel empty without you, Alyne." Jawab sang kekasih yang lantas membuat Rosé mendengus hingga udara yang keluar lewat hidungnya menguap memburamkan kaca jendela.
Namun akhirnya Rosé tersenyum juga, Rosé mendengar Vee Kanesh Bellamy kekasihnya menghembuskan nafas pelan, baru satu minggu mereka berpisah, kekasihnya sudah melankolis. "Aku masih disini, masih bernapas, kamu masih bisa denger suaraku, sabar, aku juga kangen kamu."
“So, come home. Say you miss me.”
Rosé akhirnya terkekeh mendengar. "Siap-siap ya, kamu harus nurutin semua kemauanku saat nanti aku balik, aku yakin kamu bakalan kalah."
“Nggak semudah itu ngalahin aku, kamu yang bakalan nurutin kemauan ku.”
Rosé mengubah pandang pada jalanan saat kucing kepunyaan Candra kakaknya seperti kebingungan di luar sana. Terjerembab pada kubangan air di samping tong sampah.
"Kanesh, nanti aku telepon balik ya, bentaran kok."
Akhirnya sambungan tertutup, Rosé berlari menuruni tangga dengan ponsel yang masih ada ditangannya. Suara dentingan notifikasi membuat ia terpaska untuk membuka. Rosé tersenyum saat kekasihnya mengirim protes karena ia mematikan panggilan secara sepihak tampa ada kiss bye sebagai pelengkap. Dasar alay.
Rosé tak sempat membalas, nanti saja pikirnya, yang ia tuju saat ini cuma Louis si kucing berbulu lebat yang sedang kedinginan diluar karena saat ini ia melihat pintu utama rumahnya terbuka lebar, Louis-nya mungkin penasaran dengan kehidupan luar setelah mendekam dirumah ini.
Jarak rumah untuk menuju gerbang tidaklah jauh mengingat perumahan Rosé yang berada di tengah kota yang minim lahan, tak sampai kelelahan, gadis itu menengok tempat sampah.
"Louis, babe, where are you?"
Louis tidak ada. Lantas Rosé celingukan sembari mengusap-usap lengannya yang telanjang karena lupa membawa jaket tambahan untuk sedikit menghangatkan tubuh. Kulit Rosé belum terlalu baik beradaptasi dengan suhu New York yang sangat berbeda jauh dengan Jakarta.
"Ya Tuhan, kenapa lari sampai sana." Rosé menggerang. Louis di seberang jalan.
Pemandangan mengerikan itu tampak begitu kontras saat warna merah kental beradu dengan putih salju ditengah jalan. Orang-orang bergerumbul dengan kepiasan wajah melihat gadis berambut pirang terkulai dengan kepala miring bercucuran darah, serta pengemudi mobil sedan tak jauh dari sana menampilkan hal yang tak jauh berbeda—bersimbah darah dengan kepala tersandar pada setir yang mengeluarkan klakson tanpa henti.
Penabrak meregang nyawa ditempat, si korban mengalami gagar otak hingga mebutuhkan operasi besar, lebih naas lagi ia; Rosé Alyne Everleight, koma sementara selama kurang lebih tiga bulan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua tahun Rosé hanya hidup dengan memori yang hilang bak ditelan bumi. Menjadi manusia baru tanpa mengenal siapa saja yang berada di sekelilingnya. Mencoba menerima hal baru yang dirasa sangat ia paksakan karena memang tidak mengingat apapun. Membawa buku catatan untuk mengingat setiap apapun yang diinfokan ayah dan ibunya. Menempuh pendidikan layaknya manusia normal.
__ADS_1
Hal mengerikan dalam novel yang ia baca ternyata memang benar. Hilang ingatan memang tidak menghapus kemampuan otak, hanya saja mengilangkan memori yang dirasa sangat sia-sia ia jalani selamaa hidupnya jika tak membekas sedikitpun.
Hingga akhirnya, Rosé menangis di sudut kamar setelah tindakan diam-diam yang ia lakukan membuahkan hasil. Rosé; gadis itu memaksa otaknya untuk di stimulus dengan paksa meskipun kerap sekali pingsan karena pusing yang menerjang sakit luar biasa parah, semua yang ia lakukan guna mengembalikan hidupnya yang terasa sangat abu-abu, ia ingin warna, ia ingin hidupnya yang dulu kembali seperti sedia kala.
Ingatan tentang ibunya, ayahnya, kakaknya, James sepupunya yang selama dua tahun menemaninya dan menjaganya saat di rumah maupun di kampus, sahabat kuda-nya yang berada jauh di Indonesia, bagaimana nasib Joseph saat pria itu tak bisa menghubunginya, ingatan itu menumpuk bagai gunung menjulang tinggi dan memenuhi memori otaknya.
Satu lagi. Vee Kanesh Bellamy, pria yang selama ini hanya ia pandangi dalam bentuk photo dalam dompet tanpa tahu namanya. Akhirnya Rosé ingat—pria itu kekasihnya, rindu itu tiba-tiba meyerang sesak sampai ulu hatinya. Rosé me rindu dengan kejamnya, meringkuk lebih mengenaskan atas kecerobohan dua tahun lalu sebelum tragedi naas menghancurkan hari-hari indahnya.
"Sayang, kamu dimana?" Suara wanita dewasa terdengar setelah pintu menyibak. "Oh, Tuhan, Alyne, kenapa?"
Dara; ibu dari Rosé berlari kelabakan melihat putri semata wayangnya meringkuh bagaikan anak panda yang butuh perlindungan, menangis bagai bayi yang kelaparan di malam hari.
"Mom, Alyne ingat," ucapnya sesegukan dengan mata yang terus mengeluarkan air mata, peluhpun mmemenuhi rambutnya hingga basah. "Maafin Alyne mom, Alyne sama sekali tidak berniat melupakan kalian, maafkan Alyne."
Selain ucapan syukur tidak ada yang bisa dikatan Dara. Bahagia luar biasa mendapati putrinya mengingat semua, bahkan semuanya. Tak ayak membuat Dara memborong Rosé untuk menemui dokter Robert yang selama dua tahun ini menjadi tempatnya ber kontrol.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
"Brengsek, lo kemana aja selama ini?"
Rosé sama sekali tak tersinggung mendengar umpatan yang ia dapatkan setelah susah payah mencari informasi dimana tempat tinggal seorang Joseph sahabat kudanya.
Apartemen berukuran minim dan sederhana, pria itu baru saja bangun tidur terlihat dari setelan balutan yang ia kenakan; kaos oblong beserta koloran hitam sebatas lutut.
"Lo tahu sendiri, gue nggak punya duit buat cari lo ke seluruh belahan dunia."
"Setidaknya biarin gue masuk." Rosé mencibik.
Joseph malahan menutup pintu alih-alih mempersilahkan, dan itu membuat Rosé lagi-lagi tersenyum. Ia yakin sahabatnya itu sedang menangis.
Pintu terbuka tak lama kemudian. Benar saja, mata Joseph memerah, dasar pria tsundere, dan Rosé geli setelahnya.
Berbincang, menuntaskan rasa rindu dan menceritakan semua yang terjadi. Joseph, pria itu tersedu-sedu dengan rengekan melebihi anak SD yang gagal mendapatkan permen.
"Ih, Joseph. Udah dong nangisnya."
"Gue benci lo."
Rosé mendekat, memeluk Joseph. "Utututu kudaku, udah dong, gue udah disini, udah sehat ini."
Joseph semakin erat memeluk Rosé, pria itu hiperbola, sekali lagi Rosé hanya akan sabar menghadapi tingkah Joseph.
"Ngomong-ngomong, gue pengen beliin lo gantungan kuda, warnanya ungu, limited edition keluaran merk terkenal, tapi keduluan orang lain, gue lebih sedih daripada sikap lo yang alay ini."
Serta merta Joseph melepaskan pelukan beralih menggetok kepala Rosé dengan bantal yang berada di sampingnya. "Lo bilang hilang ingatan alay. Lo bego."
"Lo kok mukul gue, nanti gue hilang ingatan lagi gimana, lo yang bego."
"Bantal nggak bakalan bikin lo hilang ingatan, bego, bego, bego."
Dan situasi berubah 360 derajat.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
"Lo yakin sama warna ini?"
"Seratus persen yakin."
"Lo yakin Vee nggak punya cewek saat ini, lo ngilang nggak kabar-kabar."
Mendung tiba-tiba mampir dikepala Rosé, namun nihil, ia tak tersiram hujan. Yang dikhawatirkan Joseph tak berguna. Nyatanya kabar dari Candra sangat akurat. Selama dua tahun, kakaknya itu memantau Vee, bahkan selalu berada disisi Vee dan meyakinkan jika adik perempuannya bakalan balik untuk menemuinya nanti.
"Dia setia sama gue."
Joseph mencibik yang tak luput dari pandangan Rosé lewat kaca di depannya. Mereka berdua berada di salon saat pagi-pagi sekali. Untung sekali, Joseph tidak ada jam kuliah hari ini. Jadi mengikuti rencana Rosé adalah pilihan terakhirnya.
"Lo nggak percaya?" Rosé bertanya karena Joseph diam saja.
"Iya, gue percaya."
Waktu menjelang siang. Dengan senyum yang tak pernah redup di balik badan yang terduduk di kursi penumpang, Rosé menuju Universitas Jakarta Hit dengan Joseph yang duduk di kursi kemudi.
"Kata kak Candra, jam dua belasan Vee bakalan keluar kampus, dia pakek mobil SU-"
"SUV hitam, perlu juga gue sebut plat nomernya, gue satu kampus ngomong-ngomong, tapi jarang papasan, dulu waktu lo ngilang, itu komunikasi terakhir gue sama Vee. Cuma sering lihat tu cowok dari kejauhan sih."
"Beneran?"
"Mana pernah gue bohong sama lo, yang ada lo yang keterlalun sama gue."
"Maaf, astaga, masih diungkit."
Joseph mendengus. "Seumur hidup gue bakalan ungkit masalah ini."
"Pendendam."
"Ya biarin."
Waktu yang mendebarkan tiba. Kurang dari tiga puluh menit, Rosé sudah sampai di depan kampus kekasihnya. Bersiap untuk memberikan kejutan tepat saat pria itu akan keluar.
"Kita berhenti disini aja, masih setengah jam lagi."
Tangan Rosé saling meremat, jantungnya berdebar hebat. Ia sangat merindukan Vee, ingin memeluk pria itu dengan erat. Ingin menuntaskan rindu yang tertunda. Dan ingin mengalahkan pertarungan juga.
Rambut ungu Rosé pertanda perang, perang atas perjanjian konyol yang dibuat kekasihnya saat sebelum Rosé berangkat ke Amerika.
"Jo, gue gemeter, gue beli minum dulu kali ya."
Joseph menoleh ke arah kanan. "Situ ada indoapril, mau gue aja yang beliin."
Rosé menggeleng. "Gue aja, cuma bentar," tolaknya.
Joseph melepas seatbelt miliknya, "udah gue aja, lo tunggu sini."
"Dibilang gue aja, Jo. Gue yang beli. Titik."
Oke. Joseph mengalah. Niatnya ia sekalian mengambil uang di ATM karena dompet menipis tinggal beberapa lembar saja.
__ADS_1
Sedangkan Rosé si pemaksa memilih untuk beli minum sendiri bukan tanpa alasan. Ia terlalu gugup jika hanya duduk manis di dalam mobil, setidaknya ia akan melemaskan otot kakinya dengan sedikit berjalan-jalan walau hanya ke indoapril saja.
Rosé menarik handle pintu mobil dari dalam bersiap untuk keluar, baru saja kakinya sampai pada tanah paping di bawahnya sebelum menutup lagi pintu mobil, serangan mendadak tiba-tiba membuat kepalnya berkunang-kunang. Rosé terjatuh dengan pisau yang manencap pada perut bagian kanan miliknya. Rosé seperti mengalami trauma dengan rasa ini. Detik itu juga, Rosé pingsan.