Back To You

Back To You
Chapter 69


__ADS_3

Seminggu berlalu sejak Rafa kembali bekerja di kantor papanya. Rafa menikmati pekerjaannya, pikirannya tentang Alita juga telah teralihkan kepada angka-angka yang selalu memenuhi otaknya. Setelah obrolannya dengan pak Hans pagi itu, tidak ada yang berani untuk menggoda Rafa dengan si karyawan baru. Mungkin pak Hans telah memberitahukannya kepada karyawan yang lain jika Rafa tidak berminat akan perjodohan itu, ditambah lagi dengan sikap Rafa yang dingin dan cuek.


Siang ini, Pak Hans telah memesan tempat untuk makan siang divisi mereka. Hari ini adalah hari ulang tahun pak Hans. Semua karyawan didivisi pak Hans bahkan telah membelikan kado sebuah jam tangan mahal yang mereka beli secara patungan.


Menjelang detik-detik jam makan siang, semua karyawan telah heboh mempersiapkan diri. Karena mereka akan makan di restoran all you can eat, banyak diantara mereka yang sengaja tidak makan sejak pagi tadi agar bisa makan banyak nantinya.


Sebuah notifikasi pesan diponselnya membuat Rafa mengerutkan dahinya. Setelah berbulan-bulan ia dan Hanna tidak saling berkomunikasi dan bertukar pesan, siang ini Hanna mengiriminya sebuah pesan berisi shareloc yang aktif untuk delapan jam kedepan.


Berusaha untuk mengabaikan pesan Hanna, Rafa mencoba mengetikkan pesan untuk menanyakan keberadaan Wildan. Dan ternyata, Wildan sedang berada diluar kota.


'Gue lagi di Jogja, Fa. Gantiin ayah.'


Tanpa berpikir panjang lagi, Rafa segera bangkit dari kursinya dan beranjak pergi.


"Rafa, mau kemana? Ini belum jam makan siang woi!" seru Iwan yang mejanya bersebelahan dengan Rafa.


Rafa tidak menjawab, ia pergi begitu saja meninggalkan ruangan divisinya. Sambil berjalan menuju lift, Rafa mencoba menelpon pak Hans untuk menyampaikan permintaan maafnya karena tidak bisa ikut serta dalam makan siang nanti.


"Maaf pak Hans, sepertinya saya tidak bisa ikut makan siang. Ada sesuatu yang harus saya urus segera."


Seolah diburu oleh waktu, Rafa merasa kotak besi itu bergerak dengan sangat lambat. Belum lama ia memasukkan ponselnya ke saku celana, kini ponselnya kembali bergetar. Rafa sempat ragu untuk mengangkat panggilan telepon dari Alita, tapi akhirnya ia jawab juga panggilan telepon itu.


"Halo." ucapnya dengan ragu. Rafa bahkan merasa galau akan memanggil nama Alita atau bagaimana.


"Rafa, kamu dapat shareloc dari Hanna?"


"Kamu dapet juga?".


"Iya. Aku udah coba telpon dia tapi direject. Dia kirim pesan lagi dan bilang help, kayaknya dia lagi ada dalam bahaya, Fa."


"Hm, aku lagi mau perjalanan kesana."

__ADS_1


"Oh... Oke kalo gitu. M-maaf aku telpon kamu, karena aku... enggak bisa nolongin Hanna. Aku lagi ada kerjaan sekarang."


"It's okay. Aku tutup telponnya sekarang."


Rafa segera memantau lokasi Hanna sebelum akhirnya menyalakan mesin mobilnya. Dilihat dari lokasi Hanna sekarang, nampaknya gadis itu sedang berada dalam perjalanan. Cuma Rafa masih belum mengerti apa yang sedang terjadi pada Hanna, sampai-sampai dia mengirim shareloc padanya dan juga Alita, serta kata Help kepada Alita.


......................


Rafa sempat bergidik ngeri saat arahan dari gmaps-nya mengarahkannya ke lokasi yang sepi. Jauh dari perumahan warga dan hanya nampak sebuah danau tak jauh di depannya.


Sebuah mobil berwarna hitam juga nampak ada disana, dan disitulah posisi Hanna berada. Rafa sempat ragu untuk turun dari mobilnya dan mendekat, tapi mengingat kata yang dikirimkan kepada Alita tadi akhirnya membuat Rafa turun dari mobil juga.


Langkah kakinya semakin cepat ketika terdengar teriakan yang samar-samar ditelinganya. Diketuknya jendela kaca mobil yang gelap itu saat teriakannya semakin jelas terdengar. Itu suara Hanna, dan benar saja ternyata anak kecil itu sedang dalam bahaya.


"Buka, br*engsek!" tangan Rafa terus menggedor kaca jendela itu.


Merasa aksinya telah terganggu dan kepergok, sang pengemudi langsung menekan kunci pintu otomatisnya. Hanna langsung saja menarik handle pintu dan keluar dengan rambut yang berantakan dan menangis.


Disaat dua anak manusia itu sedang mematung satu sama lain, teman Hanna yang tak bertanggung jawab itu langsung melajukan mobilnya dan pergi begitu saja. Rafa langsung saja mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan untuk William.


Setelah memasukkan ponselnya ke dalam saku celana, barulah Rafa kembali memperhatikan Hanna yang kini telah berjongkok sambil menangis dan memeluk kedua kakinya.


"Han... apa yang terjadi?" tanya Rafa dengan ragu-ragu, diikuti dengan Rafa yang ikut berjongkok di depannya.


"Kak Rafa kenapa lama banget?" ucap Hanna disela-sela isak tangisnya.


"S-sorry, Han. Tapi tadi gue enggak ngerti apa maksud lo ngirim shareloc gitu."


"Kalo aku enggak ngirim juga ke kak Alita, kak Rafa juga enggak bakal datang kesini kan? Enggak ada kak Wildan atau siapa pun yang bisa nolongin Hanna. Mungkin aku juga bakal ditinggalin disini sama dia."


Melihat Hanna kembali menangis dengan kencang, Rafa memajukan tubuhnya untuk memeluk Hanna. "Masuk mobil dulu yuk, Han. Kita pergi dulu dari sini, ngeri gue tempatnya sepi gini."

__ADS_1


Hanna mengikuti perintah Hanna. Dengan langkahnya yang melemah, Hanna masuk ke dalam mobil dibantu oleh Rafa. Tanpa banyak bicara, Rafa segera melajukan mobilnya meninggalkan tempat yang sepi itu. Sesekali pandangannya menoleh ke arah Hanna yang tampak masih menangis sesenggukkan.


Setelah kembali ke jalanan yang ramai, Rafa menepikan mobilnya di sebuah mini market.


"Tunggu disini dulu, gue beliin minum." Tanpa menunggu jawaban dari Hanna, ia begitu saja turun dan masuk ke dalam mini market.


Bergerak cepat untuk mengambil beberapa barang yang akan ia beli, Rafa tidak ingin meninggalkan Hanna terlalu lama di mobil. Ia bahkan tidak meminta kembalian dari jumlah belanjaan yang dibelinya.


"Nih, minum dulu. Baru cerita sama gue tadi itu lo kenapa?"


Menerima sodoran minuman dari Rafa, Hanna meneguknya beberapa kali, lalu kembali menghapus air matanya dengan punggung tangannya.


"Dia temen deketku, dan tadi... dia maksa aku untuk melakukan itu sama dia."


Tangis Hanna kembali pecah, membuat Rafa merasa takut sekaligus geram. Diraihnya bungkusan tisu basah yang ia beli tadi dan mengeluarkannya beberapa helai.


"Liat gue!" nada bicara Rafa yang terdengar tegas dan naik satu oktaf membuat Hanna mendongakkan wajahnya dengan takut. Apalagi saat tangan Rafa yang memegang tisu basah mulai menyapu diatas permukaan kulit wajahnya.


"Kan udah gue bilang lo enggak usah dandan. Enggak usah juga lo deketin itu cowok karena dia itu enggak baik. Susah banget sih lo kalo gue bilangin!"


Rafa menghapus make up yang dipoleskan oleh Hanna. Memang tidak tebal, tapi cukup terlihat terutama dibagian bibir dan matanya.


"Lo mau gue bantuin ngomong ke Wildan soal masalah ini?"


Hanna langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan, kak. Nanti ayah sama bunda bisa tau."


"Ya tapi masalahnya udah keterlaluan kayak gini, Han. Udah diapain aja lo sama dia?" Dan kali ini, Rafa benar-benar marah.


Hanna kembali menggelengkan kepalanya. "Aku baru kali ini mengiyakan ajakannya buat jalan berdua, sampai akhirnya... aku mulai curiga karena arahnya enggak ke pusat kota."


Rafa membuang bekas tisu basahnya ke dashboard mobilnya, entah kenapa ia merasa begitu marah sekali sekarang.

__ADS_1


"Mulai besok lo anter jemput sama gue, tapi gue tetep akan ngomong ke Wildan sambil nunggu waktu yang tepat. Gue enggak terima penolakan."


__ADS_2