
Rafa masih mematung ketika Arthur pergi barusan. Keduanya sama-sama terluka dibagian wajah akibat saling memberi pukulan.
"Rafa!" Giulia tampak terkejut saat keluar gedung dengan beberapa rekan kerjanya.
Perkelahian Rafa dan Arthur menyebar dengan cepat, hingga membuat Giulia meninggalkan pekerjaannya dan bergegas turun ke bawah.
Rafa menoleh ke arah Giulia. Gadis itu tampak terkejut melihat beberapa luka yang ada diwajah Rafa.
"Kamu baik-baik saja?" Tanya Giulia sambil berjalan mendekat ke arah Rafa.
Rafa tersenyum miring, lalu menampik tangan Giulia yang hendak menyentuh wajahhya yang terluka. Rafa kemudian masuk ke dalam gedung dan menuju toilet untuk melihat seberapa parah luka akibat perkelahian tadi.
Otaknya juga terus memikirkan perkataan Arthur yang menyatakan jika Hanna telah kembali ke Indonesia. Bagaimana bisa Hanna tidak memberitahunya? Atau mungkin mamanya?
Setelah membasuh wajahnya dengan perlahan, Rafa kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Semua mata langsung tertuju padanya, yang tentu saja membuat Rafa menjadi tidak nyaman.
"Kamu baik-baik saja, Rafa?" Tanya Timothy, atasan Rafa.
Rafa lalu berjalan mendekati Tim, dan meminta ijin untuk pulang lebih awal. Setelah mendapat ijin dari Tim, Rafa segera mengemasi barang-barangnya dan bergegas untuk keluar dari gedung tempatnya bekerja.
Tujuannya tentu saja menuju ke apartemen Hanna, berharap jika apa yang dikatakan Arthur tadi adalah sebuah kebohongan.
...****************...
Rafa memacu langkahnya menaiki anak tangga saat melihat pintu unit kamar Hanna terbuka. Selain itu Rafa juga mendengar samar-samar percakapan yang mungkin berasal dari kamar Hanna.
"Hanna!" Rafa memanggil saat tubuhnya bergerak masuk ke dalam unit kamar Hanna.
Dua orang wanita yang tengah asik mengobrol langsung menoleh ke arah Rafa. Pandanganya sedikit aneh, mungkin karena mereka melihat wajahnya yang tadi dihajar oleh Arthur.
"K-kemana pemilik kamar ini sebelumnya?" Tanya Rafa.
Wanita yang berambut blonde digelung itu langsung menjawab pertanyaan yang Rafa ajukan.
"Oh, Hanna tidak memperpanjang sewanya sejak minggu lalu. Dia mengatakan jika mendapat pekerjaan dan mengharuskannya kembali ke negaranya."
Kaki Rafa terasa lemas. Sepertinya apa yang Arthur katakan memang benar.
__ADS_1
"T-terima kasih." Ucap Rafa yang kemudian bergegas menuruni anak tangga.
Ia bergegas berlari menuju mobilnya. Masih ada harapan dalam pikirannya, bisa saja Hanna menginap di apartemen Eleanor untuk beberapa saat. Barang-barang Hanna cukup banyak, tidak mungkin jika dia bisa secapat ini mengemasinya dan pulang.
...****************...
Rafa mengetuk pintu kamar Eleanor dengan tidak sabaran. Berharap Eleanor masih berada disana dan belum kembali ke Irlandia.
"What the f-"
Seorang laki-laki yang membuka pintu kamar Eleanor hendak mengumpat, tapi Rafa segera memotongnya.
"Dimana Eleanor?"
"Siapa kau? Kenapa mencari Eleanor? Kau habis mabuk disiang bolong dan dihajar karena berbuat onar?"
"Dimana Eleanor?!" Rafa mengulangi perkataannya.
Lelaki segera memalingkan wajahnya dan memanggil kekasihnya. Tak lama, Eleanor keluar dan terkejut dengan kedatangan Rafa disana. Apalagi dengan kondisi wajah Rafa yang seperti itu.
"R-Rafa? Ada... apa?" Tanya El dengan terbata.
"Apa itu perbuatan Arthur?"
Rafa mengangguk untuk menjawab pertanyaan Eleanor.
"Arthur benar-benar gila!" Gumam Eleanor.
"Dimana Hanna, El?" Rafa kembali mengajukan pertanyaan yang sama.
Eleanor menghela nafasnya, lalu menawarkan Rafa untuk masuk ke dalam apartemennya. Tetapi Rafa menolak, ia butuh jawaban dari El secepatnya.
"Hanna... pulang ke Indonesia hari ini, penerbangan jam sepuluh lewat dua puluh menit, dengan Turkish Airways."
"Kau... bohong kan, El?"
Eleanor menggelengkan kepalanya. "Aku berkata yang sebenarnya. Hanna memberitahuku mengenai rencana kepulangannya minggu lalu. Memang terkesan mendadak, tapi ternyata dia sudah mempersiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Dan... Arthurjuga meneleponku tadi, Hanna memutuskan hubungannya dengan Arthur karena...."
__ADS_1
"Karena apa?"
"Hanna tidak akan kembali lagi kesini. Itulah yang membuat Arthur marah besar dan... menghajarmu."
"Karena aku dan Hanna liburan di Robin Hood's bay bersama dan kemudian Hanna memutuskan untuk pulang?"
Eleanor menganggukkan kepalanya. "Kalian... bersama hari itu?"
"Ya, kami liburan bersama. Tapi itu tanpa disengaja, kami tidak sengaja bertemu disana, dan... aku memintanya untuk menghabiskan waktu bersama selama berada disana."
"Itulah yang membuat Arthur marah. Dia cemburu, karena setelah kalian menghabiskan waktu bersama. Kemudian Hanna goyah, dan dia memilih pulang untuk mengambil tawaran pekerjaan yang aku sendiri tidak tau dari mana."
Tubuh Rafa terasa lemas, ia lantas menyandarkan punggungnya pada dinding pintu kamar Eleanor.
"Sorry, Rafa. Hanya itu yang aku tahu, Hanna tidak bersikap terbuka padaku akhir-akhir ini. Mungkin sejak... kalian berlibur bersama."
"It's okay, El. Terima kasih karena telah memberitahuku apa yang kamu ketahui." Jawab Rafa dengan lirih.
Ia lantas pergi dari apartemen Eleanor. Lebam ditulang pipinya kian terasa semakin sakit. Rafa tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang, tetapi yang pasti ia ingin pulang juga untuk mencari keberadaan Hanna.
Rafa memacu mobilnya kembali ke rumah, lalu melepaskan pakaiannya dan mandi untuk membuat dirinya menjadi rileks. Tapi tetap saja itu tidak membantunya, hingga akhirnya ia memutuskan memberanikan diri untuk menelepon papanya dan meminta bantuan.
"Halo, Pa." Rafa menyapa saat sang ayah menjawab teleponnya.
"Hm, ada apa telpon sepagi ini?"
"Pa...." Rafa mengatur nafasnya yang terasa berat. "Tolongin Rafa, Pa."
"Kamu baik-baik aja kan, Fa?"
"Rafa baik, Pa. Tapi... Rafa minta tolong ke papa buat bantuin Rafa pulang. Rafa mau pulang secepatnya, Pa."
Suaranya terdengar berat karena sedang menahan agar ia tidak menangis di depan papanya. Ia bukan lagi anak kecil yang merengek dihadapan orangtuanya, tapi kali ini Rafa tidak bisa menahannya dan membutuhkan pertolongan papanya.
"Apa... terjadi sesuatu?"
"Hanna pulang, Pa. Hanna enggak akan balik ke Bristol lagi. Teman Hanna bilang Hanna balik karena ada tawaran pekerjaan untuknya, tapi enggak ada yang tau soal pekerjaan itu. Bantuin Rafa pulang lebih cepet ya, Pa. Rafa mau cari Hanna, Pa."
__ADS_1
Papa Adit terdiam cukup lama, sebelum akhirnya memberikan jawabannya untuk permintaan anak bungsunya itu.
"Kamu selesaiin dulu segala urusan dan pekerjaanmu disana, Papa akan atur biar kamu bisa pulang secepatnya."