
Rafa meletakkan hadiah dari Alita di dekat tenpat tidurnya. Hadiah yang Alita bilang sebagai kado pernikahannya dengan Hanna, bukan hadiah untuk dirinya seorang seperti yang ia harapkan.
Pikirannya sangat kacau, badannya juga terasa sangat lelah karena perjalanan jauhnya dalam waktu singkat. Rafa harusnya bersyukur karena dapat sampai di rumahnya dengan selamat, karena saat menyetir tadi pikirannya benar-benar kacau.
Rafa tidak menyangka Alita akan begitu cepat mengetahui rahasia yang selama ini begitu rapat ia sembunyikan. Rafa juga tidak menyangka jika Alita akan merespon demikian, meminta agar mereka tidak bertemu lagi.
Merebahkan diri dikasurnya, Rafa memandangi langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkecamuk. Ini semua tidak benar! Ia tidak akan mungkin bisa melepaskan Alita begitu saja. Karena bagi Rafa, Alita adalah segalanya.
Tapi kini keadaannya telah berubah. Karena kesalahan dan kebodohannya mengambil tindakan secara impulsif-lah yang menyebabkan Alita lepas dari genggamannya. Dirinya kembali melakukan kesalahan lagi kepada Alita, dan kesalahan kali ini adalah kesalahan yang fatal, yang mungkin saja sulit untuk dimaafkan.
Merogoh ponselnya yang berdering disaku celana, Rafa menghela nafasnya saat membaca nama Hanna dilayar ponselnya. Gadis yang namanya ikut disebut Alita saat dengan tegas Alita menolak dirinya lagi, beberapa jam yang lalu.
"Halo." Ucap Rafa sambil memijat pangkal hidungnya.
"Kak Rafa, aku tadi udah nge-chat kak Rafa tapi belum diread atau dibales. Jadi aku telpon aja hehehehe... aku sama temen-temen lagi perjalanan ke London, kami mau ke penutupan Winter Wonderland. Mungkin akan nginep dua atau tiga hari disini, dan aku udah telpon bibi May untuk bantu beres-beres selama aku pergi."
"Hm." Jawab Rafa dengan singkat.
Rafa lalu menutup panggilan telepon dari Hanna, padahal gadis itu belum menyelesaikan perkataannya setelah jawaban singkatnya tadi. Kepalanya terasa berat dan pusing, ditambah dengan pikirannya yang masih menerka-nerka siapa sosok yang membongkar rahasianya kepada Alita.
...****************...
__ADS_1
Tiga hari berlalu, dan Hanna belum juga kembali ke rumah. Dia bilang akan kembali sore ini, dan Rafa tidak peduli akan hal itu. Ia bahkan mengabaikan semua pesan yang Hanna kirimkan padanya.
Penampilannya juga terlihat kusut. Tiga hari mengalami kesulitan untuk tidur langsung berimbas pada munculnya lingkaran hitam di sekitar area matanya. Nafsu makannya pun berkurang, apalagi kalo bukan karena Alita. Gadis tercintanya itu bukan hanya menolak dan tidak ingin bertemu dengannya lagi, tetapi juga kembali memblokir dirinya.
Rafa tidak bisa mengirimkan pesan dan juga menelpon Alita. Tidak ada akses untuk dirinya berkomunikasi dengan Alita. Oleh sebab itulah ia berencana untuk kembali ke Glasgow akhir pekan ini.
Rafa memandangi ke arah jendela luar saat suara mobil tertangkap oleh pendengarannya. Itu mobil Arthur, yang tentu saja sedang mengantar Hanna pulang. Bibirnya tersenyum sinis saat melihat Hanna dan Arthur saling melempar senyum. Keduanya bahkan tak sungkan untuk berpelukan sebelum Hanna berlari kecil untuk masuk ke dalam rumah.
"Astaga, kak Rafa!" Hanna berseru kaget saat melihat Rafa yang sedang berdiri di dekat jendela ruang tamu rumah mereka.
"Kak Rafa ngagetin aja sih, mana rambutnya acak-acakan gitu. Belum mandi ya?" Hanna masih berceloteh sambil menutup pintu.
"Udah puas kencan sama si Arthur?" Tanya Rafa dengan nada bicara yang dingin.
"Terus kenapa tadi cuma ada elo sama Arthur? Pake acara peluk-pelukan segala!"
"Ya kan Eleanor, Valerie, sama Greg udah pada balik ke dorm. Arthur kan enggak tinggal di dorm, jadi dia nganterin aku pulang."
Sebenarnya Hanna malas menimpali Rafa yang sedang marah-marah tidak jelas ini hanya karena Arthur, oleh sebab itulah dia berlalu pergi setelah memberikan penjelasan pada Rafa.
"Gue belum selesai ngomong sama elo, Han!" Bentak Rafa yang membuat Hanna menghentikan langkahnya, tepat di depan pintu kamar Rafa.
__ADS_1
Dengan sedikit rasa takut, Hanna membalikkan badannya untuk menatap Rafa yang kini tengah menatapnya dengan tajam. Hanna tidak tahu kenapa Rafa menjadi se-emosi itu. Padahal dia sudah menjelaskan kepergiannya ke Winter Wonderland itu bersama empat sahabatnya yang lain. Hanna tidak berbohong, dan Rafa bisa melihat fotonya diakun sosial Hanna, tetapi kenapa Rafa begitu marah kepadanya? Bahkan sampai mengabaikan pesan dan menolak panggilannya tiga hari ini.
"Mau ngomongin apalagi sih, kak? Aku kan udah bilang kalo aku pergi bareng temen-temen, tanya ke Eleanor sana kalo enggak percaya." Ucap Hanna sambil menyodorkan ponselnya ke arah Rafa.
Rafa menerima uluran ponsel milik Hanna, tetapi bukan untuk menelpon Eleanor untuk mengkonfirmasi segala kebenarannya. Melainkan melemparkannya ke arah sofa, yang beruntung tidak terpental jatuh ke lantai.
Hanna terkejut dengan respon Rafa barusan. Saat dirinya sedang mengomel dan melangkah kenarah sofa untuk mengambil ponselnya, dengan cepat Rafa mencekal pergelangan tangan Hanna. Lalu dengan kuat mendorong tubuh Hanna ke arah dinding.
"Kak Rafa apa-apaan sih? Sakit tau, Kak!" Hanna meronta, sembari mencoba melepaskan tangannya dari cekalan tangan Rafa yang begitu kuat dan menyakitkan itu.
"Lo sengaja kan posting foto liburan kita ke London biar Alita tau? Foto itu lo upload sehari sebelum gue ke Glasgow, lo sengaja kan bikin Alita tau soal pernikahan kita!"
Rafa masih berbicara dengan suara kerasnya. Kali ini ia benar-benar sedang membentak Hanna. Apalagi dengan jarak yang cukup dekat begini, bentakan Rafa terdengar begitu nyaring ditelinga Hanna.
"Gue udah bilang lo jangan ikut campur soal masalah pribadi gue. Segitu pengennya ya lo untuk dapet pengakuan istri dari gue? Jawab!"
Hanna terdiam, air matanya bahkan langsung meluncur saat Rafa membentaknya barusan.
"Aku enggak ada maksud waktu posting foto itu. Kak Alita juga enggak follow akun medsos aku. Kak Rafa tau sendiri kalo kak Alita sekarang enggak pake medsos, cek hape aku kapan terakhir kali aku chat sama kak Alita! Aku masih simpen semua chatnya."
Hanna melawan. Tentu saja dia harus membela diri karena merasa tidak melakukan kesalahan seperti yang Rafa maksud. Tapi Rafa tidak percaya, ia masih tetap menyalahkan Hanna.
__ADS_1
"Karena lo posting foto itu, Alita jadi ninggalin gue. Karena lo posting foto itu, Alita jadi ngehindarin gue. Ini semua salah lo, Han!"