Back To You

Back To You
Chapter 60


__ADS_3

Rafa tidak langsung pulang seperti yang diperintahkan Alita. Ia segera menuju parkiran basement dan kembali lagi menuju lobi untuk bertanya kepada resepsionis dimanakah tempat pernikahan yang akan dilaksanakan besok pagi.


Setelah mendapat arahan lokasi dari resepsionis, Rafa segera menuju lift untuk menuju ke lantai enam. Saat pintu lift terbuka, Rafa langsung disuguhkan dengan banyaknya orang yang tengah menata dekorasi di ballroom tersebut.


Pandangan mata Rafa menatap ke sekeliling, mencari keberadaan kekasihnya. Alita nampak sibuk memberikan pengarahan kepada seseorang melalu tab-nya, dan Rafa memandangi gadis itu dari kejauhan.


Alita memang nampak berbeda. Disini gadis itu terlihat lebih ceria dan tertawa saat berbicara dengan orang-orang ditimnya. Tidak seperti saat bersamanya. Alita pasti disibukkan dengan ponsel dan juga tab-nya. Ia rindu Alitanya, sangat rindu.


Entah kenapa kini Rafa merasa cemburu saat melihat kedekatan Alita dengan lelaki yang baru saja datang. Lelaki itu bahkan membawakan minuman kesukaan Alita, yang dulu hingga sekarang masih sering Rafa belikan tanpa Alita meminta. Alita bahkan terlihat gembira menyambut minuman boba yang diulurkan kepadanya, disusul dengan betapa asiknya obrolan Alita dan lelaki itu.


Rafa masih diam ditempatnya. Entah kenapa kini memandangi Alita dekat dengan lelaki lain tidaklah mudah baginya. Ditambah lagi Alita nampak bahagia dengan lelaki itu. Padahal Rafalah yang berstatus sebagai pacar, tapi sepertinya sekarang itu hanya status saja. Ah, jadi beginikah rasanya cemburu?


"Rafa?" ucap Alita saat tak sengaja berbalik dan menatap Rafa dari kejauhan.


Alita meletakkan minumannya di sebuah meja, lalu berjalan menghampiri Rafa. "Aku pikir kamu udah pulang? Kenapa enggak panggil aku dari tadi?"


Rafa menghela nafasnya. "Dia siapa?" tanya Rafa sembari menatap tajam ke arah lelaki yang sedari tadi asik bercengkerama dengan Alita. Lelaki itu bahkan dengan beraninya menatap balik ke arah Rafa, dengan sama tajamnya.


"Dia pemilik EO tempat aku kerja."


Alita mulai menangkap gelagat Rafa, seolah sedang menahan amarahnya. Tidak ingin menarik perhatian orang-orang yang berada di ballroom jika nantinya mereka bertengkar, Alita akhirnya mengajak Rafa untuk keluar dari ruangan itu.


"Kita... bicara di luar ya?"


Tanpa menjawab Alita, Rafa langsung balik badan dan berjalan menuju lift terlebih dulu. Setelah Alita ikut masuk ke dalam kotak besi itu, Rafa menekan tombol lift yang mengarah ke parkiran basement.

__ADS_1


Berulang kali Rafa menghela nafasnya dengan kasar, berusaha meredam rasa marah karena cemburu yang tengah melandanya. Alita mengekori Rafa yang kini berjalan menuju mobilnya.


"Namanya Theo, dan kami cukup dekat beberapa bulan ini."


Langkah Rafa terhenti begitu saja, tidak peduli jika posisinya kini berada ditengah jalan. Ucapan Alita barusan sungguh mengejutkannya, bagaikan petir yang menyambar begitu saja tanpa diawali dengan kilat.


"Kamu bilang apa?" Rafa membalikkan badannya dan menatap Alita yang nampak tidak terprovokasi dengan tatapan tajamnya.


"Seharusnya kita enggak memaksakan hubungan kita untuk tetap bertahan, Fa. Kejadian beberapa waktu lalu membuatku membatasi diri untuk dekat denganmu."


"Jadi selama ini kamu terpaksa?"


Alita menggelengkan kepalanya. "Bukan begitu, Fa. Aku cuma ngerasa... hubungan kita terlalu dipaksakan untuk tetap baik-baik saja. Kamu pasti juga ngerasa kalo aku tidaklah sama seperti Alita yang dulu. Kita udah enggak lagi sejalan, Fa."


"Jadi sekarang giliranmu yang mengkhianatiku? Kamu deket sama cowok itu karena mau bales dendam sama aku kan?"


"Itu sama aja kamu selingkuh, Lit!"


Tidak hanya berteriak, Rafa bahkan menendang ban mobilnya untuk melampiaskan amarahnya. Nafasnya memburu, membuat dadanya bergerak naik turun.


Ah, jadi ini yang dirasakan Alita saat mengetahui jika dirinya berciuman dengan Jihan kala itu. Bedanya Alita lebih hebat dalam menahan emosinya, tidak seperti dirinya yang meluap-luap begitu saja. Bahkan Rafa sangat ingin menarik kerah kemeja Theo dan memukulinya.


Alita masih terdiam diposisinya. Tangannya sesekali bergerak untuk menghapus air mata yang turun membasahi pipinya. Apa yang dikatakan Rafa mungkin memang benar. Meskipun ia tidak melakukan kontak fisik dengan Theo seperti yang Rafa lakukan dengan Jihan, tapi dirinya telah membuka diri kepada Theo disaat statusnya masih resmi menjadi kekasih Rafa.


Tidak ingin semakin dikuasai emosinya, Rafa memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya. Membuat Alita langsung bergerak dari posisinya, mencoba untuk menghentikan Rafa.

__ADS_1


"Rafa!" Alita menggedor kaca pintu mobil dan mencoba membuka pintu mobil yang telah terkunci itu.


Namun Rafa tidak peduli, ia tetap melajukan mobilnya meninggalkan parkiran basement itu. Membiarkan Alita dan masalah hubungan mereka yang belum terselesaikan. Karena yang ia butuhkan sekarang hanyalah menenangkan diri.


......................


Rafa memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Ia malah memilih menyusul William ke sebuah klub malam, tempat yang selama ini ia hindari. Rafa seakan tidak memiliki tujuan lain untuk menenangkan diri. Dia bahkan telah bersiap diri jika nanti akan dihajar papanya karena masuk ke tempat semacam ini.


Setelah memastikan William tidak memanggil wanita penghibur ke dalam ruangan itu, barulah Rafa masuk ke dalam ruangan yang telah dipesan William. Cukuplah Jihan yang membuat hubungannya dengan Alita menjadi berantakan, Rafa tidak ingin menambah masalahnya dengan adanya skandal dirinya dengan wanita penghibur.


William tahu persis bagaimana hubungan Rafa dan juga Alita. Dia bahkan terkejut saat Rafa mengatakan akan menyusulnya ke klub, karena sejak dulu Rafa memang selalu menolak ajakannya. Dan saat kini Rafa menyusulnya ke klub, pastilah temannya itu telah merasa sangat putus asa.


"Gue enggak akan nyuruh lo minum atau ngerokok, cukup lo duduk anteng disini aja. Kalo lo mau nangis atau teriak, lakuin aja. Enggak akan gue larang, yang penting lo bisa waras lagi." ucap William sambil menuang minuman beralkohol itu ke dalam slokinya.


Rafa hanya diam saja, tampak seperti orang melamun yang hampir kehilangan kesadarannya. Ia bahkan tidak peduli dengan betapa bisingnya musik yang terdengar di luar sana, karena seluruh dirinya disibukkan untuk memikirkan Alita.


"Fa." William menepuk pundaknya, membuat Rafa berjingkat kaget dan langsung melotot ke arah Willaim. "Gue anter balik aja deh ya, gue takut ntar nyokap lo marah besar begitu tau lo masuk sini. Bisa kena pukul juga gue." William berkata jujur. Tentu saja ia mengkhawatirkan dirinya, takut dikira dialah biang kerok Rafa sampai masuk ke dalam klub malam.


"Kalo enggak, lo mending nenangin diri kemana gitu kek. Ke rumah siapalah yang bisa lo ajakin ngobrol dengan waras. Atau lo ke rumah Andy aja sana, ajakin dia Muay Thai sana biar emosi lo terlampiaskan." William mencoba memberikan ide untuk temannya yang kembali mematung itu.


Rafa bahkan membiarkan ponselnya yang berdering sedari tadi. Rafa menduga pasti Alita yang mencoba menguhubunginya.


William mengambil ponsel Rafa yang tergeletak di meja. Layar ponsel itu menampilkan beberapa pop up pesan dan panggilan yang tak terjawab. Berulang kali Alita memang menghubunginya, Alita bahkan mengirimkan beberapa pesan.


"Lo samperin aja nih dia." William menyodorkan ponsel Rafa dihadapan Rafa. "Dia minta tolong lo buat jemput adiknya, karena dia nganter bokapnya ke rumah sakit."

__ADS_1


Rafa langsung menyambar ponselnya, membaca pesan yang dimaksud oleh William, dan langsung beranjak meninggalkan William tanpa berpamitan.


__ADS_2