Back To You

Back To You
Chapter 88


__ADS_3

Memutuskan untuk kembali ke Bristol setelah seharian berada di Glasgow, Rafa hanya mencatat beberapa lokasi yang akan ia kunjungi selanjutnya. Ide gilanya, mungkin nanti ia hanya akan berkeliling dan memutari Glasgow saja. Tentu saja hanya untuk mencari wajah Alita diantara banyaknya warga Glasgow yang berlalu-lalang.


Melangkahkan kakinya untuk menuju teras rumah pemberian abangnya ini, jantung Rafa kembali berdegup dengan kencang. Ia merasa bersalah karena telah meninggalkan Hanna seharian. Bahkan Rafa sampai terlupa untuk mengirimkan pesan kepada istrinya itu hanya untuk sekedar menanyakan keberadaan Hanna atau mengingatkan untuk makan siang.


Setelah mengumpulkan keberaniannya, Rafa segera membuka kunci pintu rumahnya dan masuk ke dalam rumah. Hanna tentu tidak akan marah kepadanya, dan ia yakin akan hal itu. Hanna tahu betul alasannya datang ke Inggris sebenarnya hanya untuk mencari Alita, tapi mungkin Hanna akan marah karena ia meninggalkannya seharian.


Waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Rafa masih mendengar suara Hanna tertawa. Sepertinya gadis itu belum tertidur dan sedang menonton acara TV yang lucu sampai membuatnya tertawa dengan cukup keras.


"Udah pulang?" Hanna menengok saat Rafa meletakkan jaketnya di single sofa yang bersebelahan dengan sofa yang Hanna duduki.


Hanna nampak berbeda dengan semalam. Karena semalam, Hanna terlihat begitu marah dan kesal kepada Rafa sehingga memilih untuk tidak bertatap muka dengannya. Tapi kini gadis itu malah terlihat santai, bahkan seperti tidak terjadi sesuatu kemarin.


"Hm. Lo belum tidur?" Rafa bertanya balik sambil duduk di sofa yang bersebelahan dengan Hanna.


"Belum." Hanna menjawwb singkat sembari menikmati keripik kentangnya.


Sempat ragu untuk membahasnya dengan Hanna, tapi Rafa memutuskan untuk mengatakan hal tersebut kepada Hanna. Ia hanya tidak ingin Hanna marah dan merasa diabaikan olehnya. Meskipun memang pada kenyataan seharian ini Rafa mengabaikan dan bahkan melupakan Hanna.


"Maaf, karena... gue enggak nanyain elo seharian ini, atau... gue ngasih tau lo posisi gue lagi dimana."

__ADS_1


"Hm, enggak masalah. Kak Rafa emang lagi sibuk kan?"


Jawaban Hanna memang terdengar sederhana, tapi sebenarnya Hanna sedang menyindir Rafa. Tentu saja seharian ini Rafa sedang sibuk. Ya, sibuk memcari kekasih hatinya yang entah sedang berada dimana.


"Elo... seharian ini ngapain aja?"


"Aku?" Hanna merasa kebingungan saat tiba-tiba saja Rafa menanyakan kemana saja dia pergi seharian ini.


"Aku cuma pergi ke kampus, berkeliling dan ngeliatin kampus, terus pergi makan siang dan jalan-jalan di sepanjang St. Michael's Hill sama Eleanor."


"Eleanor?"


Dua kali. Dalam waktu yang singkat Hanna sudah kali menyindir Rafa tepat pada sasaran, dan itu langsung membuat Rafa terdiam. Rafa merasa tidak perlu menanyakan hal lebih lanjut mengenai kegiatan Hanna siang ini, sebab ia tidak ingin disindir oleh Hanna berulang kali.


Rafa memilih untuk menonton TV dan melirik ke arah Hanna yang tampak beberapa kali menahan tawanya.


"Ini... program di stasiun TV mana?"


"Aku download. Siang tadi El cerita soal film komedi We're The Millers ini, dan akhirnya aku coba nonton aja untuk hiburan karena belum bisa tidur."

__ADS_1


Rafa hanya menganggukkan kepalanya. Entah mengapa sekarang ia merasa kesulitan untuk menemukan bahan obrolannya dengan Hanna. Berbeda dengan dulu saat mereka belum menikah, karena Rafa dengan leluasa bisa membicarakan apapun kepada Hanna.


"Elo udah makan malam?" Rafa bertanya sembari menegakkan posisi duduknya.


Hanna menoleh ke arah Rafa dan baru teringat jika tadi ia memasak makan malam. Hanna memang sengaja memasak karena tidak ingin keluar lagi pada malam hari, terlebih dia sendirian dan belum tahu betul wilayah tempat tinggalnya ini. Istri macam apa yang bahkan kelupaan menawari suaminya makan malam saat sang suami telah pulang sedari tadi.


"Udah. Tadi aku nyoba masak roast meat."


"Roast... meat?" tanya Rafa dengan nada tak percaya dan diangguki oleh Hanna.


Pasalnya saat berada di rumah orangtua Hanna, gadis itu tidak pernah memasak masakan ala luar negeri, dan sekarang Hanna bilang baru saja memasak roast meat?


"Tadi aku nemenin El belanja, dia bilang mau masak roast meat untuk makan malam. Aku cek di kulkas ternyata ada semua bahan-bahannya, bikinnya juga enggak terlalu susah. Jadi aku coba bikin dan rasanya juga lumayan, masih layak dimakan. Kalo kak Rafa mau, angetin aja sebentar pake microwave."


Rafa mengerjapkan matanya beberapa kali, tidak percaya jika Hanna akan menyebut nama Eleanor berulang-ulang. Bahkan jika ia meneruskan pertanyaannya lagi, Hanna akan terus menyisipkan nama Eleanor disana.


Dan Hanna memang benar-benar luar biasa. Selain lupa tidak menawari suaminya makan, dia bahkan menyuruh suaminya untuk menyiapkan makan malamnya sendiri. Yah, itung-itung biar Rafa belajar mandiri deh ya hehehehe....


"I-iya, kalo gitu... gue mandi dulu." Rafa segera beranjak dari duduknya, meraih jaketnya pada sandaran sofa lalu melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan diri.

__ADS_1


Sementara Hanna menyelesaikan film yang ditontonnya dan masuk ke kamarnya sebelum Rafa menyelesaikan ritual mandinya. Hanna tidak ingin terlibat percakapan yang canggung dengan Rafa seperti tadi, karena itu membuatnya tidak nyaman. Hanna berpikir bahwa mungkin situasi canggung seperti inilah yang akan dihadapinya selama berada disini, jadi dia harus mulai terbiasa. Bahkan mulai mempersiapkan dirinya jika nanti harus menghadapi perpisahan.


__ADS_2