
"Sekarang? Hmm... entahlah, kak. Aku hanya lagi menikmati masa-masa menyenangkan dengan pekerjaan. Yang jelas, aku enggak mau pengalaman yang lalu terulang lagi."
Rafa masih terdiam. Rentetan kalimat yang belum Hanna ucapkan itu masih terngiang jelas di kepalanya, membuatnya seolah tak bertenaga dan merasa sakit dilubuk hatinya.
"Lalu... apa sekarang kamu deket sama seseorang?" Rafa akhirnya memecah keheningan diantara mereka.
Hanna menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku enggak lagi deket sama seseorang dan kayaknya... enggak ada yang berani buat ngedeketin aku."
"Karena Abang ya?"
"Ya, selain karena abang juga karena om Adit juga. Mereka seolah takut kalo berani ngedeketin aku, berarti akan berhadapan sama abang dan juga om Adit. Mereka juga takut akan berimbas ke nasib kerjaan mereka. Setidaknya itu yang aku denger dari pak Ale."
"Mereka? Jadi banyak ya?" Rafa bergumam lirih, tapi ternyata terdengar oleh telinga Hanna.
"Ya, mereka. Karena jumlah laki-laki lajang yang kerja disini ada banyak kan? Dari front office sampai ke kitchen dan cleaning service, jumlahnya mungkin lebih dari lima puluh."
Rafa hanya menganggukkan kepalanya. Hening langsung mengambil alih diantara keduanya. Cukup lama, hingga akhirnya Hanna beranjak dari duduknya.
"Kak Rafa masih mau disini? Kayaknya aku harus buruan balik, ada beberapa laporan yang harus aku selesaiin sebelum kalian balik hari Minggu nanti." Ucap Hanna sambil menepuk-nepuk pasir pantai yang menempel dirok dan kakinya.
"Hm." Rafa menjawab singkat, sambil beranjak dari duduknya dan mengikuti Hanna untuk menghilangkan pasir yang menempel di celananya.
"Terima kasih." Hanna menyerah jas yang disampirkan Rafa dipundaknya tadi.
"Kamu enggak pakai sepatumu?" Rafa bertanya saat menerima uluran jasnya.
__ADS_1
Hanna melirik ke sepatu yang ditentengnya. Tidak mungkin juga dia mengenakan heels untuk berjalan menyusuri bibir pantai.
"Enggak. Aku udah biasa masuk hotel selepas makan malam tanpa alas kaki." Jawab Hanna dengan senyuman dibibirnya, lalu berjalan duluan yang kemudian diikuti oleh Rafa.
"Jadi... udah enggak ada untuk kita balikan lagi?"
Hanna menghentikan langkahnya, lalu kemudian menoleh ke arah Rafa. Gadis itu hanya mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum untuk merespon pertanyaan Rafa barusan.
"Aku butuh jawaban pasti, Han."
Hanna menghela nafasnya. Sejenak dia terdiam, merenungi kesalahannya yang mungkin telah membiarkan Rafa terlalu berharap kepadanya.
"Aku... bahkan masih ragu sama perasaanku sendiri, kak. Disisi lain, aku pengen sama kak Rafa. Tapi disisi lainnya, aku ngerasa takut kalo ternyata pilihan yang aku ambil itu salah. Mungkin memang benar kata Eleanor, aku enggak terlalu banyak kenal sama laki-laki. Dan kita udah saling kenal sejak kecil, jadi semua penilaianku terhadap laki-laki diluar sana selalu berpatokan sama kak Rafa."
Rafa mengamati Hanna yang sedang mengungkapkan isi hatinya. Dalam hatinya masih berharap jika dirinya masih memiliki kesempatan untuk meyakinkan Hanna.
"Bukan mengelak, kak. Aku cuma... takut."
"Takut akan hal apa?" Tanya Rafa menyelidik. "Kalo kamu takut aku akan berbuat hal sama kayak dulu lagi, sepertinya kamu harus buang jauh-jauh pikiran itu sekarang, Han. Aku udah berubah, dan aku bisa jamin itu. Kamu hanya perlu ngasih aku kesempatan, Han. Biar aku bisa perbaiki semua kesalahanku yang dulu, dan membahagiakanmu disisa umurku."
Hanna tertegun, berpikir apakah memang benar dirinya harus memberikan kesempatan sekali lagi untuk Rafa?
"Tapi kenapa harus aku? Pasti ada seseorang yang menginginkan kak Rafa lebih dari aku, dan mungkin dia yang lebih pantas mendampingi kak Rafa daripada aku. Giulia misalnya."
"Pantasnya itu berdasarkan penilaian apa? Kalo penilaianmu hanya berdasar umur kita yang berbeda jauh, Mama dan Papaku udah ngebuktiin kalo jarak umur enggak akan berpengaruh pada kriteria penilaian pantas atau enggak. Dan aku cuma pengen kamu. Dan lagi... kenapa Giulia?"
__ADS_1
"Ya karena... karena... bukannya dia gadis yang deket banget sama kak Rafa setahun terakhir pas di Bristol? El bilang... hubungan kalian udah kayak orang pacaran."
"Apa? Aku sama Giulia enggak ada hubungan apa-apa, Han. Kita cuma temen dan rekan kerja. Dia emang deket sama aku, tapi bukan berarti aku juga punya perasaan yang sama kayak dia. Dan oh... kamu pasti enggak tau kan kalo sebelum aku minta pulang sama papa, Arthur datang ke kampus dan ngehajar aku habis-habisan?"
"Arthur?M-mukul... kak Rafa?" Hanna membelalakkan matanya tak percaya.
"El enggak cerita ke kamu? Heh, udah aku duga." Rafa memalingkan wajahnya, lalu berjalan mendekati Hanna.
"Mungkin Giulia ngikutin aku ke Robin Hood's Bay diam-diam, dan ternyata dia menemukan kita yang enggak sengaja memutuskan untuk liburan bareng. Giulia mungkin-"
"Aku tau!" Hanna memotong perkataan Rafa. "Aku tau kalo Giulia emang ke Robin Hood's Bay. Arthur... dia ngomong ke aku soal kita tidur sekamar sebelum penerbanganku. Kita emang berantem di bandara, dan saat itu... emang aku memutuskan untuk enggak punya hubungan lagi sama Arthur meskipun dia maksa. T-tapi, aku enggak nyangka kalo ternyata... dia akan mukul kak Rafa."
"Dia mukul aku, udah kayak orang kesetanan. Dan itu kejadiannya di depan kampus. Dari situ aku tau kalo kamu pulang, aku sempet nyari kamu ke apartemen dan juga ke tempat El, dan El bilang kamu pulang. Aku cuma pengen sama kamu, Han."
Rafa meraih tangan Hanna dan menggenggamnya. Namun tak berselang lama, Hanna menarik kembali tangannya.
"Kamu boleh tetep disini, aku enggak masalah kalo harus ngeluangin waktu buat kesini ditiap minggunya. Kamu boleh nikmatin masa-masa kerjamu sekarang ini, aku enggak akan maksa kamu untuk nikah secepat mungkin saat kamu mau nerima aku. Aku akan kasih kamu waktu, tapi tolong kasih aku kasih kesempatan sekali lagi, Han. Kasih aku kesempatan dan jangan ngejauh dari aku."
Hanna terdiam, matanya masih terpaku ke arah Rafa. Pikirannya rumit, dan entah bagaimana dia harus merespon Rafa sekarang ini.
Padahal dia sudah mempersiapkan diri setahun ini untuk menghadapi Rafa, terutama dalam kondisi seperti ini. Sebelumnya dia sudah menyiapkan senjata apa yang akan dipakainya jika Rafa menanyakan hal ini, tapi nyatanya tidak semudah itu.
Lidahnya kelu, hatinya bahkan meragu untuk mengeluarkan jawaban yang telah disiapkannya selama ini.
"A-aku... harus balik ke kamar sekarang. Aku udah bilang ke Rafa kan kalo ada laporan yang harus aku selesaiin sekarang?"
__ADS_1
Hanna buru-buru membalikkan badannya dan melangkah pergi. Lalu kemudian Rafa menyusul sambil terkekeh, dan meraih Hanna tangan Hanna untuk digandeng.
"Aku udah bilang jangan ngejauhin aku. Mungkin dengan deketan sama aku begini kamu jadi bisa mempertimbangkannya dengan cepet." Ucap Rafa dengan santai dan mengedipkan matanya ke arah Hanna.