
"Papa, daddy, ayah, pahlawan ku."
Vee mendengar itu, sangat jelas, vokal parau sehabis bangun tidur pun gemas mengalihkan atensinya yang sedang menyiapkan sereal untuk sekedar mengisi perut dipagi hari. Kendati jarak dapur dan kamar terhalang cukup jauh, namun ia menangkap rengekan kelewat manja dari putrinya.
Elena Trisha Bellamy; nama gadis cilik itu, meski usia masih lima tahun, tapi percayalah, akibat James yang terlalu membubuhi banyak kosa kata dalam kamus otak si kecil, Elina kerap sekali membuat geleng kepala.
Jika, sebutan papa, daddy dan ayah saja, Vee tidak masalah. Namun pahlawan, halo, Vee bukan patung pajangan di kota yang kerab masyarakat sebut sebagai simbol pahlawan yang gugur dalam perang, ia masih hidup ini, tugasnya beralih fungsi sebagai ibu rumah tangga, ia lebih suka dipanggil mommy saja.
"Sayang, daddy lagi makan nih, kamu mau?"
Sereal di atas meja ia tawarkan kepada putrinya. Elena berlari kecil saat menghampiri Vee, digendongnya boneka Chimmy keluaran Line Friend BT21 yang kata uncle James adalah boneka paling bagus sedunia mengalahkan Tata yang memiliki berjuta penggemar.
"Duh seneng banget sih pagi-pagi, keren ya, Elena nggak rewel." Vee menyuapi Elena yang diterima dengan baik oleh gadis itu.
"Elena udah gede daddy."
"Iya-iya. Sini, daddy suapin lagi." Pasrah, Vee mengiakan meski sangat menolak dengan keras jika Elena sudah sebesar itu. Ada rasa tidak rela dan menginginkan agar putrinya kembali bayi saja.
Egois?
Iya. Sebut saja Vee egois karena menurut pria beranak satu ini, Elena terlalu menggemaskan untuk jadi dewasa, moment untuk menimang Elena pun harus pupus sirna akibat cekokan James yang mengajarkan putrinya pengetahuan di luar nalar bocah piyik.
"Daddy, kenapa hari ini mataharinya muncul dari jendela. Padahal kemaren sore Elena lihat mataharinya sembunyi di balik pohon."
Antara nyambung apa tidak, Vee harus memeras otaknya lebih dalam, ia tidak boleh mengucapkan kata 'tidak tahu' sebagai jawaban. Lalu bagaimana mengatasi ini?
"Nanti sore, ke pantai yuk, daddy mau tunjukkin mataharinya bisa juga sembunyi di sana."
Ada binar mata kegaguman dan keinginan yang menggebu di mata Elena. "Bisa begitu, dad, ayo, ayo."
Vee akan pelan menunjukkan jika bukan konsep muncul dan sembunyi yang dilakukan oleh matahari, namun menggunakan istilah sulit tentu saja akan membikin beban Vee bertambah berat, apa jadinya jika ia berbicara mengenai pusat tata surya, bumi berotasi ataupun masalah gravitasi, belum lagi pertanyaan Elena kapan hari tentang bagaimana terjadinya siang dan malam, Vee mendadak menjadi pening. Semua ulah James, tapi tidak apa-apa dibanding Elena menjadi anak pendiam bukan.
"Tapi kita kerumah sakit dulu, lihat mommy, oke."
Elena mengangguk antusias, tapi melihat pantulan lemari kaca yang memperlihatkan betapa kacaunya rambut yang ia miliki, pun dengan mata dengan belekan sedikit, ia pun beruajar "Daddy, Elena belum mandi, bau."
"Gampang, nanti tinggal daddy semprot saja kamunya pakai selang di taman bunga mawar belakang."
Elena nampak berpikir polos membuat Vee gemas sendiri setelah memasukkan suapan terakhir untuk putri kecilnya. "Semprotan itu 'kan buat bunga, bukan buat Elena." responya lugu.
"Elena 'kan sejenis sama bunga. Biar tumbuh subur juga."
"Bisa begitu? Enela saudaraan dengan bunga?"
Vee mengangguk tanpa bicara, lalu menggendong asal putrinya untuk dimandikan di kamar mandi, tentu saja, bukan di semprot menggunakan selang taman belakang, Vee hanya usil saja.
Elena sudah selesai madi, Vee menumpahkan minyak telon sesuai intruksi Rosé istrinya, membubuhi bedak juga sebelum dipakaikan baju. Kendati merasa kasian melihat putri kecilnya cemong bagai badut penghibur, Vee tidak mengurungkan niatnya, karena itu nampak sangat-sangat lucu, dan Elena baik-baik saja dengan hal itu. Bahkan setelah melihat kaca hasil riasan daddy-nya, Elena tersenyum jumawa, semacam kepuasan.
__ADS_1
"Daddy, adik kecil Elena juga bunga dong, kita petik aja di taman belakang, nanti gedenya biar bisa seperti Elena."
Nampaknya keusilan Vee tidak akan berakhir sampai disini. Sungguh ia menyesal. "Iya, nanti kita petik yang banyak, sekarang kita berangkat ke rumah sakit."
"Jadi habis dipetik dibawa ke rumah sakit dulu dong. Jadi mommy udah metik duluan ya, dad. Kita 'kan mau lihat adik Elena."
Bukan begitu konsepnya sayang. Vee nampak kualahan. Salahkan saja mulutnya, sudah tahu si Elena itu putri kecil yang serba ingin tahu, ia hanya akan mengandalkan kelogisan, bukan waktunya untuk Elena memikirkan hal yang nampak dengan akal sehat orang dewasa.
Sabar Gusti. "Iya sayang, sebelum ke rumah sakit, mommy sudah metik bunganya."
Apakah ada yang paham dengan obrolan ayah dan anak satu ini?
"Horeeee, kita petik lagi yuk daddy, kita bawa kerumah sakit, biar adik Elena banyak."
No. Vee harus menghentikan ini. Tidak bisa dibiarkan. Ia harus memutar otak. Sudah tadi malam pusing tujuh keliling akibat Rosé yang mendadak pecah ketuban di kehamilan kedua, sangat melenceng dari perkiraan kelahiran.
Panik. Pastilah. Masa nggak panik. Vee sangat panik, untung ada James yang bisa diandalkan untuk menjaga Elena karena jarak rumah paman kesayangan putrinya itu sangat dekat. Vee mengurus Rosé dan James mengurus Elena.
Vee tidak bisa menyerahkan Elena dengan pengasuh sembarangan, berita di tv cukup membuat pasangan suami istri itu untuk tidak lepas tangan begitu saja. Bergantian, Vee dan Rosé mengurus Elena bergantian, kadang pula Elena bersama James ataupun kedua kakek-nenek-nya.
Rosé sekarang dirumah sakit ditemani, jangan dihitung lagi, mana bisa kedua belah pihak keluarga mengabaikan Rosé. Banyak pawang wanita itu, Vee jadi bisa tenang dan mengurus kerusuhan putrinya pagi ini. Gadis kecil itu sungguh tidak sabar punya adik baru. Yang sayangnya Vee sudah meracuni otak Elena dengan pemahaman yang tidak benar. Rosé bisa marah besar, dan itu mengerikan.
"Adeknya nggak bisa dipetik sembarangan sayang, cuma mommy yang bisa, nanti Elena minta sama mommy ya."
Vee cukup lega saat elena mengangguk antusias. Kesalahan Vee bertambah berpuluh puluh kali lipat. Ia baru saja melemparkan daging di kandang singa, secara tidak sengaja pasti Elena merengek kepada Rosé tentang bualan bunga yang bisa menjelma sebagai adik bayi.
"Ayo berangkat."
Duh Gusti, selamatkan aku dari kenjeng ratu Rosé istri tercinta.
...****************...
Vee sudah sampai saja di rumah sakit, menggandeng tangan mungil putrinya yang harus sampai mengangkat tinggi karena perpaduan tinggi badan yang begitu menjomplang. Mereka nampak serasi meski banyak sekali saksi mata menahan tawa akibat ada jelmaan kue putri salju bernyawa sedang berjalan dengan pemimpin mereka, tentu saja, ini masih rumah sakit kepemilikan Vee, dan kue putri salju yang di sebut-sebut adalah Elena dengan bedak putih tebalnya.
Sesampainya di ruang tunggu, sudah banyak saja yang mengantri di sana. "Waaah, enak nih dimakan. Elena mochi."
Belum sempat Lucky merebut Elena yang menggemaskan karena sempat berpikir untuk memakannya, Seno lebih dulu menangkap gadis itu, karena untuk alasan yang tidak diketahui, Elena lebih suka Seno ketimbang Lucky.
"Ada yang patah, tapi bukan tulang." Dramatis, Lucky merasakannya. Berbagai cara telah ia lakukan untuk meluluhkan hati Elena, namum tak kunjung mendapatkan perhatian, penolakan lah yang selalu ia terima.
"Lo nyeremin sih, badan lo kegedean." James tak nampak kasian dengan Lucky, malahan sangat senang sekali untuk menggoda.
"Uncle Jam Jam, gendong." Manja, Elena sangat manja dengan James, setelah mendapatkan kecupan dari Seno, putri kecil Vee itu berlari dengan senang menghampiri James yang berada di dekat Niko yang sedang berbincang dengan Vee.
Niko seperti teralih melihat Elena, pria yang memang tidak bisa memiliki keturunan itu menaruh perhatian lebih kepada Elena. Namun, sama seperti Lucky, sama sekali susah untuk menggapai Elena, namun dengan alasan yang berbeda.
Vee. Iya. Vee lah yang melarang Niko untuk dekat dekat dengan putrinya. Jangan pegang kak, aku nggak mau anakku patah ke tulang-tulang, jauh jauh. Itu yang kerab kali Vee ucapkan, dan Niko merana.
__ADS_1
"Kak, jangan gendong." Benar bukan, baru saja Niko ingin mengelabuhi Vee yang akan beranjak menghampiri Joan di ruangan depan, tapi adiknya itu seperti punya mata seribu, selalu awas dan waspada. "Sebelum Elena kuat, kakak nggak boleh pegang, awas ya." ancamnya.
Alasan cukup klasik. Kecerobohan Niko yang sangat ahli merusakkan barang adalah penyebab utamanaya. Katakan Vee sangat keterlaluan, tapi begitulah, Elena adalah hal yang perlu dijaga, meskipun ancaman itu datang dari keluarga, Vee benar-benar tidak prrnah main-main dengan perkataannya.
"Udah-udah, Elena, di gendong mama Hana ya." Hana menawarkan diri, tentu saja untuk menyenangkan suami. Elena yang sayang sekali dengan mama Hana, ya mau mau saja, sudah biasa dilempar-lempar kemana-mana.
Vee percaya pada Hana. Jadi tidak apa-apa, asal jangan Niko yang mengendong. Di gendongan Hana, Niko bisa berbuat seenaknya, dengan syarat kedua tangan berada di belakang punggungnya, jadi yang bisa Niko lakukan hanyalah menciumi pipi gembul Elena.
Candra baru saja keluar dari dalam ruang VIP Rosé diikuti Wendie istrinya yang sedang menggendong bayi umur setahunan. Bayi mereka berdua. Tepat saat Elena berusia tiga tahun, keluarga Everleight membuat berita membahagiakan lagi tentang Wendie yang akhirnya hamil juga setelah menunda karena urusan pekerjaan yang mengharuskan wanita karir itu bolak-balik keluar negeri. Demi Tuhan, Candra bersyukur karena istrinya mau berhenti dan fokus pada keluarga, meski tidak benar-benar berhenti bekerja sih.
"Vee, masuklah, Rosé menunggu." intruspi Candra kepada adik ipar.
Dengan begitu Vee yang sudah selesai dengan Joan langsung saja membawa Elena masuk. Kedua kakek nenek Elena ada di dalam juga. Semua mengeluarkan aura kebahagiaan yang terpancar begitu jelas.
"Namanya siapa nih?" Toby bertanya terlebih dahulu karena kelewat penasaran, putrinya sangat pelit membocorkan, pasalanya Rosé hanya akan memberitahu jika Vee sudah ada disini.
"Elvano Hydar Bellamy." Jawab kompak pasangan suami istri itu.
Kedua ayah dan ibu keluar dari ruangan, mempersilahkan Vee untuk diberikan waktu dengan istrinya. Begitu dengan Elena yang sehabis berpelukan dengan kakek-nenek-nya, gadis itu langsung menhampiri Rosé yang sedang setengah duduk di ranjang.
"Anak mommy, cantik banget sih, siapa yang bedakin?"
Setelah memuji, jujur Rosé nampak sedikit terkejut dengan dandanan putrinya. Ya ampun, anakku kok begini amat.
Elena tersenyum bangga. "Daddy dong, dimandiin bersih, wangi minyak telon, diberi bedak, uh cantiknya Elena." jawabnya begitu, Rosé tersenyum miris, membayangkan sepanjang suami dan putrinya berjalan di koridor rumah sakit, bagaimana anggapan orang-orang, ini sudah taraf berlebihan. Rosé seperti melayangkan tatapan bertanya kepada Vee, apa yang kamu lakuin pada putri cantikku, astaga?
Padahal lucu tau. Setelah itu Vee mengecup kening Rosé, tidak lupa juga bangga dengan istrinya yang sudah melahirkan jagoan.
"Jadi, adik Haydar dimana?"
Rupanya Elena sudah memantabkan untuk memanggil nama tengah adikknya. Terserah gadis kecil itu saja. "Adik masih di inkubator sayang." Jawab Rosé.
Elvano Haydar Bellamy; bayi mungil itu lahir prematur, tentu saja memerlukan kehangatan yang cukup mengingat suhu bumi belum cukup membuat tubuhnya secara fisiologi menghangat.
Elena mengangguk. "Jadi habis dicabut dari taman, terus dimasukin inkubator baru bisa jadi bayi?" tanyanya kemudian.
Rosé menukikkan alis sebelah. Menatap Vee yang meringis tanpa berdosa. "Kok begitu sayang?" hanya itu yang bisa Rosé tanyakan, karena jujur tidak tahu maksud perkataan putrinya.
"Daddy tadi bilang, adik bayinya dari bunga yang mommy tanam di belakang, lalu dicabut terus dibawa ke rumah sakit biar bisa jadi bayi, Elena juga bisa tumbuh subur jika daddy semprot Elena dengan selang di taman belakang rumah."
Otomatis Rosé melotot tak percaya ke arah suaminya. Kau racuni otak annakku pria nakal. Awas saja kubalas nanti dengan ku pukul pantat kau dengan panci penggorengan. Rosé sering bergaul dengan berbagai pasien, oleh sebab itu pula, gaya bicaranya juga gampang berubah-ubah, katanya sih, untuk menyesuaikan.
Vee tetap hanya meringis tanpa dosa. Sudahlah, ia hanya akan pasrah dengan apapun resiko yang akan ia terima. Miris juga perasaannya melihat isrti meluap-luap dengan tatapan marah. Apalagi setelah yang diminta Elena setelah ini, memicu perang dunia ke lima untuk orang tuanya.
"Mommy, kata daddy, nanti mommy bisa petik bunga banyak-banyak, biar Elena dapat adik lebih banyak."
Mampus lah aku. Vee kehilangan nyawa.
__ADS_1
Mungkin hal sepele. Tapi, jika yang dihadapi adalah Elena, tidak akan jadi hal sederhana.