Back To You

Back To You
Chapter 70


__ADS_3

Setelah kembali melajukan mobilnya meninggalkan mini market tadi, Rafa kembali menghentikan mobilnya di parkiran sebuah taman kota. Hanna bilang dia belum siap kembali ke rumah neneknya dan ingin menenangkan diri terlebih dulu.


Beberapa menit yang lalu, Alita juga menghubunginya untuk menanyakan kondisi Hanna. Bukan hanya itu saja, Alita bahkan akan menyusul segera. Rafa kembali menghela nafasnya, jika terus bertemu dengan Alita, mungkin rencananya untuk move on akan semakin susah saja.


Melihat sebuah mobil terparkir di sebelahnya, Rafa sedikit terkejut saat mendapati Alita yang keluar dari mobil itu. Pasalnya, sudah lama sekali Alita tidak menyetir mobil. Dulu ia akan selalu mengantar jemput Alita, dan juga disopiri oleh pak Maman. Tapi sekarang, Alita justru menyetir mobil sendiri.


Saat Alita berjalan mendekat, Rafa telah memberikan kode dengan telunjuk tangannya agar Alita tidak bersuara. Rafa lalu menarik handle pintu mobilnya dan keluar untuk menemui Alita.


"Hanna... tidur ya?" tanya Alita sembari melongok ke arah mobil Rafa.


"Iya. Dari tadi nangis mulu, mungkin kecapekan."


"Jadi... apa yang terjadi?"


Rafa mengesah, kembali mengingat kejadian tadi benar-benar membuatnya marah dan juga takut. Ia bahkan kembali mengingat perkataan Hanna yang mengatakan sesuatu yang buruk akan terjadi jika saja ia tidak datang.


"Dia diajak pergi sama temennya, pas dia lihat arahnya enggak menuju pusat kota, dia mulai curiga. Aku nemuin mobil temennya di deket kayak danau gitu, tempatnya sepi, dan... Hanna dipaksa sama temennya."


Alita tak bisa lagi menyembunyikan ekspresi terkejutnya. "Tapi Hanna enggak apa-apa kan, Fa? Kamu udah pastiin dia enggak apa-apa kan?"


Rafa menganggukkan kepalanya. "Dia baik-baik aja. Cuma ketakutan dan tadi ada bekas merah dipergelangan tangannya."


"Syukurlah kamu datang tepat pada waktunya. Terus... selanjutnya gimana?"


"Yang pasti nunggu Hanna tenang dulu baru aku antar pulang. Aku juga udah minta tolong ke William untuk ngelacak nomer mobil temen Hanna, aku harus buat perhitungan sama dia."

__ADS_1


"Jangan main hakim sendiri, Fa. Kamu bisa aja dituntut sama keluarganya."


"Aku ada bukti rekaman video di dashboard kalo dia mau ngelak. Divideo itu pasti juga ngerekam bagaimana Hanna keluar mobil dengan keadaan berantakan dan ketakutan."


"Pasti akan ada jalan untuk memperingatkannya, jadi kamu jangan bertindak berlebihan. Terlebih, kamu atau Hanna juga harus cari cara untuk nyeritain masalah ini ke orangtua Hanna kan?"


Rafa menggelengkan kepalanya. "Hanna enggak mau keluarganya tau, terutama ayahnya. Om Taufik ada riwayat sakit jantung, Beliau pasti akan shock dengan kejadian ini. Kemungkinan terparahnya, Hanna mungkin akan home schooling."


"Hah? Sampai segitunya?"


"Hanna pernah akan diculik waktu kecil. Kamu tau sendiri dia supel banget dan gampang akrab sama orang baru. Sejak kejadian itu, om Taufik bisa dibilang jadi over protected ke Hanna. Itu sebabnya dia selalu diantar jemput kalo ke sekolah karena om Taufik enggak ngasih kebebasan Hanna untuk bisa naik motor atau nyetir mobil sendiri."


"Oh ya Tuhan, Hanna.... Ternyata dibalik sikap supelnya dia dikekang sama ayahnya." ucap Alita dengan lirih.


Setelah Alita selesai dengan kalimat tadi, lengang langsung mengambil alih pertemuan Rafa dan Alita. Baik Alita dan Rafa sama-sama menyandarkan tubuhnya dimobil mereka masing-masing, dan sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri.


"Kamu balik bekerja di kantor papamu?" Alitalah yang menjadi inisiator kelanjutan percakapan mereka.


"Iya. Sambil nyari kerjaan di tempat lain."


Alita sedikit bingung dengan jawaban Rafa barusan, hingga akhirnya dia sendiri pun tak tahan untuk menanyakannya.


"Bukannya kantor itu milik papa kamu? Kenapa harus nyari pekerjaan di tempat lain?"


Rafa mengendikkan bahunya. "Entah. Aku cuma mau nyari pengalaman baru. Aku juga lagi mikirin saran abang untuk lanjut S2 di luar."

__ADS_1


"Itu saran yang bagus, kamu emang harus mempertimbangkannya."


"Dan kamu... masih bekerja di tempat Theo?"


Alita mengangguk. "Iya, aku udah nyaman disana. Meskipun kak Ali berulang kali merayu agar mau ikut dia pindah ke Glasgow."


"Iyalah nyaman, kan ada Theo disana." Rafa akhirnya tidak bisa menahan mulutnya untuk tidak mencibir Alita.


"Hahahaha... kamu masih aja cemburu sama dia ya?" Alita balik bertanya dengan raut wajah yang penasaran.


"Theo yang harusnya cemburu karena kamu dateng kesini dan ketemu aku."


Alita mengernyitkan dahinya, merasa kembali dibingungkan oleh perkataan yabg dilontarkan Rafa.


"Kenapa Theo harus cemburu?"


"Kalian pacaran kan? Bisa aja dia cemburu karena kamu ketemu dengan mantannya."


Seketika itu pula Alita tidak dapat menahan tawanya. Selain kaget dan bingung, Rafa langsung menoleh ke arah Hanna untuk memastikan jika Hanna tidak terbangun karena suara tawa Alita.


"Kamu dapet gosip dari siapa? Apa William yang ngomong itu ke kamu?"


Alita langsung saja menuduh William, karena Rafa sudah tidak memfollow akun socmed-nya lagi.


"Enggak, William enggak ngomong apa pun. Dia cuma ngasih liat foto kamu pas wisuda itu."

__ADS_1


"Ahhh... foto yang itu." Alita manggut-manggut mengingat foto yang ia posting belum lama ini. "Aku dan Theo emang sedekat itu, tapi kita enggak pacaran. Entahlah, kita ngerasa... setelah pisah dengan pasangan kita masing-masing, kita justru nyaman dengan hubungan kami yang dekat ini tapi bukan dengan status pacaran. Aku dan Theo ngerasa masih sama-sama susah untuk ngelupain segala sesuatu dari mantan kita masing-masing, jadi ya... kita cuma sekedar deket biar enggak melukai perasaan satu sama lain."


Entah bagaimana raut wajah Rafa sekarang saat mendengarkan penuturan Alita yang panjang lebar ini. Rafa kaget, tapi juga merasa senang karena ternyata Theo bukanlah kekasih dari Alita. Rafa juga senang karena ternyata bukan hanya dia saja yang kesusahan untuk move on. Itu berarti, masih ada kan kesempatan mereka untuk balikan?


__ADS_2