
"Dulu elo pernah bilang kalo gue harus berjuang untuk dapetin elo lagi. Gue... masih punya kesempatan itu kan, Han?"
Hanna terdiam beberapa saat, dia tidak mengerti dengan situasi yang dihadapinya sekarang ini. Ini memang bukan kali pertama Rafa mengatakan hal itu, tapi tetap saja membuat Hanna ragu. Apalagi dengan sikap Rafa yang tidak berubah sejak perpisahaan mereka. Rafa bahkan langsung dekat dengan wanita lain, bahkan saat mereka belum resmi berpisah.
"A-aku... enggak bisa ngelarang kak Rafa untuk itu, tapi... aku enggak bisa menjanjikan soal rujuk."
"K-kenapa?"
Paper bag dan kotak cincin yang dipegang oleh Rafa dilepas begitu saja dari genggamannya. Rafa maju beberapa langkah mendekati Hanna, membuat Hanna merasa menyesal karena telah datang mengunjungi Rafa pagi ini.
"Elo pacaran sama Arthur? Kenapa elo enggak mau balikan sama gue, Han? Beri tau gue alasannya, Han."
Hanna mundur beberapa langkah, untuk kembali memberi jarak pada dirinya dan juga Rafa. "Ini bukan soal Arthur, tapi..."
Hanna menjeda perkataannya, merasa ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Karena dia takut hal itu akan membuat Rafa marah atau malah melukainya.
"Tapi kenapa?"
"Itu karena... aku pernah terluka oleh kak Rafa. Dan aku enggak mau nantinya aku akan jatuh lagi dilubang yang sama."
"Han... gue minta maaf banget atas semua kesalahan gue dimasa lalu. Gue udah berubah, Han. Gue pengen kita balikan lagi dan memulai semuanya dengan benar."
__ADS_1
"Memulai semuanya dengan benar? Bagaimana semuanya bisa dimulai dengan benar kalo kak Rafa aja masih ada hubungan dengan perempuan lain?"
Entah apa yang terjadi dengan Hanna sekarang. Gadis itu bahkan baru saja berteriak di depan Rafa, seperti sedang melampiaskan rasa kesalnya yang selama ini dipendamnya.
"S-siapa yang lo maksud?"
"Gwen. Kak Rafa ada hubungan sama dia kan? Aku bahkan udah beberapa kali ngeliat kalian berdua berkencan, bahkan sebelum kita resmi bercerai."
"Han...." Rafa mendekati Hanna, meraih telapak Hanna dan mengenggamnya dengan erat. "Gue sama Gwen enggak ada hubungan apapun. Gwen yang suka sama gue, dan dia selalu maksa gue untuk nemenin dia. Dia-"
Hanna menyentak tangan Rafa dengan keras, membuat genggaman Rafa pada tangannya langsung terlepas.
"Han... kali ini gue serius. Gue enggak ada hubungan sama Gwen, dan gue juga enggak mengambil keuntungan apapun dari dia. Lo bisa tanya dia atau siapapun yang elo percaya, kalo memang elo enggak percaya sama gue."
Hanna terdiam. Pikirannya benar-benar penuh sekarang. Baru beberapa hari yang lalu dia memutuskan untuk menerima Arthur yang selama ini ingin dekat dengannya. Tapi kini saat bertemu dengan Rafa, separuh dari hatinya malah menginginkan Rafa untuk memperjuangkan separuh hatinya yang lain.
"Please kasih gue kesempatan, Han. Gue akan minta maaf secara langsung ke Bunda dan juga Wildan, dan gue akan minta ijin dari mereka lagi untuk-"
"Bunda sama kak Wildan pasti maafin kak Rafa, tapi mungkin enggak akan ngasih ijin untuk kita bersama lagi." Sela Hanna dengan suara lirih.
"I-itu... gue yang akan berusaha untuk ngeyakinin mereka, Han. Lo cuma perlu ngasih gue kesempatan, dan nerima gue untuk kita balikan lagi. Kali ini gue bener-bener cuma mau elo, Han. Gue tau ini semua udah telat, tapi gue beneran sayang sama elo."
__ADS_1
Hanna tertegun, ini adalah kali pertama Rafa mengungkapkan perasaannya kepada Hanna. Tapi separuh hati Hanna yang lain masih menolak, mungkin ini hanya sebatas rasa sayang. Sama seperti rasa sayang kakaknya kepadanya, bukan rasa cinta seperti yang Rafa curahkan dulu kepada Alita.
"G-gimana caranya biar aku bisa percaya omongan kak Rafa?" Ucap Hanna dengan terbata.
"Terserah lo mau apa, Han. Pasti gue akan turutin semua kemauan lo."
"Jadi aku bisa minta kak Rafa untuk pergi dan jangan muncul lagi dalam kehidupanku."
"Jangan permintaan kayak gitu, Han. Udah gue bilang gue cuma mau elo, jadi gue enggak akan menyingkir dari kehidupan lo sampai kapan pun."
Hening mengambil alih beberapa saat, sebelum Hanna membuat sebuah keputusan. Keputusan yang Hanna kira bakal ditolak oleh Rafa, tapi ternyata disetujui Rafa dengan cepat.
"Mulai sekarang jangan pake 'elo-gue' lagi, itu bukaan kata sapaan yang tepat kalo emang kak Rafa berniat untuk pedekate dengan seseorang."
"Oke, gue... eh aku setuju. Apa lagi?"
"Musim panas ini... kita harus balik ke Indonesia bersama. Kak Rafa bisa mulai semuanya dari awal disana."
"Oke, deal!" Jawab Rafa dengan lantang dan diikuti senyum lebar dibibirnya.
Ia tahu Hanna masih menyimpan perasaan untuknya, jadi sepertinya usahanya tidak akan begitu sulit nantinya. Tidak tahu saja Rafa jika ternyata Hanna sengaja memintanya pulang, karena Hanna ingin tahu bagaimana perasaan Rafa ke Alita sekarang ini. Akankah perasaan cinta yang begitu besar itu telah hilang begitu saja setelah Alita bilang ingin menikah dengan Theo?
__ADS_1